Hakikat Puasa: Kejujuran dan Keikhlasan

0
225

Allah Swt berfirman, yang artinya:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada­mu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila

ia memohon kepadaku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS Al-Baqarah [2]: 186)

 

Perintah dan kewajiban berpuasa merupakan kemu­rah­an Allah Swt. kepada hamba-Nya dan bukan me­rupakan beban. Itu karena perintah berpuasa se­sung­guhnya dimaksudkan sebagai medium untuk dapat men­de­­katkan manusia kepada hakikat jati dirinya, yakni makh­luk yang merindukan kedekatan kepada Tuhan.

Takwa, sebagaimana yang sering disinggung, adalah per­­­wujudan kesadaran akan Allah Swt. sebagai Zat yang Ma­­­ha Mengetahui, omniscient, Mahaada di mana-mana, om­ni­­pre­sent, dan Mahakuasa untuk melakukan apa saja, om­ni­­potent, dalam berba­gai kesempatan dalam kehidupan orang beriman. Dan itulah sebe­narnya substansi ajaran tak­wa, sebuah target yang akan dicapai dari perintah dan ke­wa­jiban berpuasa.

Ibadah puasa akan memberikan pengalaman ruhaniah (spiritual experiences) yang sangat berharga sebagai hasil pe­latihan ruhaniah (spiritual exercise) yang ada dalam ajaran pua­sa. Adapun pengalaman ruhaniah yang paling dalam dan tinggi nilainya adalah kesadaran akan kehadiran Allah Swt. dalam setiap dimensi kehidupan.

Berpuasa sebagai amalan ibadah yang bersifat pribadi akan memberikan keyakinan kepada yang menjalankannya bahwa Allah Swt. sangat dekat. Dan yang demikian itu pa­ralel dengan yang diilustrasikan dalam ajaran Al-Quran ten­tang wujud Tuhan, yang berbunyi, Dan apabila hamba-ham­ba-Ku bertanya kepada­mu tentang Aku, maka (jawablah), bah­wa­sa­nya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaku. Maka hen­daklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendak­lah mereka beriman kepadaku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (QS Al-Baqarah [2]: 186).

Adapun yang dimaksud dengan memenuhi perintah adalah menjalankan seruan atau panggilan Allah Swt. yang menghi­dupkan mereka. Menghidupkan dalam pengertian kehidupan ruhaniahn­ya. Dengan merasakan kedekatan diri kepada Allah Swt. seseorang akan menjadi tenang, damai, dan bahagia hidupnya.

Menurut ajaran Al-Quran, hakikat manusia adalah makh­luk yang dikaruniai merindukan kehadiran Allah Swt. se­bagai sumber kebaikan dan kebe­naran. Konsep inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan konsep fitrah dalam Islam.

Dalam ajaran Al-Quran, manusia memiliki dimensi ru­ha­niah yang datang dari Allah Swt. sehingga secara otomatis ia akan selalu rindu ingin kembali kepada-Nya. Ini ditegas­kan dalam ayat Al-Quran yang berbunyi, Maka apabila Aku telah menyempurna­kan kejadiannya dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya de­ngan bersujud (QS Al-Hijr [15]: 29). Dari situ dapat ditang­kap pesan-pesan dasar perintah berpua­sa bahwa hakikat puasa merupakan latihan ruhaniah dalam rangka back to basic.

Perlu kiranya sedikit disinggung di sini bahwa sejalan dengan konsepsi kaum sufi, manusia kemudian dikenal me­miliki dua dimensi. Pertama disebut unsur lâhût, yakni poten­si yang keila­hian, yang selalu mendorong dirinya untuk me­rin­du­kan kembali dan mencintai kebenaran. Yang kedua adalah unsur nâsût, sebagai makh­luk bumi, yang memiliki kelemahan-kelemahan dan memiliki dorongan-dorongan nafsu sehingga pada suatu saat tertentu, manusia kemudian akan mudah jatuh dan ter­perosok ke dalam kejatuhan moral dan spiritual (spiritual bank­ruptcy).

Baca Juga :  Idul Fitri berarti Kembali Kepada Kebahagiaan Sejati

Bulan puasa—Ramadlan—meminjam istilah atau ung­kap­an sas­trawan Dante, dapat dianalogikan sebagai bulan purgatorio, atau bulan penyucian. Lewat bulan puasa, orang-orang beriman akan menjadikan dimensi ruhaniahnya sema­kin peka dan responsif terhadap panggi­lan-panggilan kepa­da kebenaran, yang dengan istilah lain menimbul­kan kepe­ka­an ruhaniah yang selalu mengajak dan membimbing ma­nu­sia ke jalan yang lurus dan benar.

Adapun disebut ruhani karena ruhani bersifat cahaya (nûr) dan itu kemudian menjadi istilah atau sebutan bagi hati kecil atau nurani karena hakikat hati kecil selalu meng­ajak dan mencin­tai kebenaran.

Berkaitan dengan persepsi kedekatan dengan Allah Swt., ten­tunya tidak dimaksudkan sebagai sesuatu yang di­per­oleh tanpa usaha dan perjuangan. Akan tetapi sebalik­nya, kedekatan ruhaniah itu merupakan hasil dari sebuah spiritual mutual responsivity, atau hasil usaha timbal balik. Da­lam Al-Quran disebutkan bahwa kedekatan dengan Allah Swt. menjadi ciri orang beriman, sebagaimana ayat yang ber­bunyi, Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, bergetarlah hati mereka. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka ber­ta­wakal (QS Al-Anfâl [8]: 2).

Dari pernyataan Al-Quran tersebut terlihat bahwa mu­dah tergetarnya hati adalah indikasi kualitas hati yang res­ponsif karena memiliki kedekatan secara ruhaniah dengan Allah Swt.

Juga kiranya perlu diingat bahwa hakikat pengalaman ruhaniah adalah sangat pribadi, antara satu orang dengan yang lain tidak serupa. Dapat dilihat ketika seseorang men­jalankan suatu ibadah—sebagai contoh yang sangat populer ada­lah pengala­man menjalankan iba­dah haji. Pengalaman sese­orang dengan yang lain berbeda: ada yang mendapatkan peng­alam­an ruhaniah yang sangat men­dalam dan luar biasa sehing­ga ia mampu menderaikan air ma­ta, menangis, terharu, dan ter­li­hat sangat khusyuk. Semen­tara itu, ada juga orang yang biasa-biasa saja meski ia berulang kali menunaikan ibadah haji.

Baca Juga :  Memaknai Kewajiban Berpuasa Ramadan

Hal yang demikian itu erat ka­itannya dengan kadar kepeka­an hati nurani. Kepekaan ruha­niah akan semakin tinggi kuali­tas­nya kalau seseorang berusaha secara terus-menerus atau dalam istilah yang lebih populer disebut bermujahadah, sebagaimana da­lam Al-Quran disebutkan, Kare­na itulah ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepa­da­mu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu menging­kari (nikmat)-Ku (QS Al-Baqarah [2]: 152).

Itu sebabnya barangkali sering dalam istilah sufi populer disebutkan bahwa hubungan antara hamba dengan Allah Swt. adalah sebuah hubungan asyik dan masyuk, yang arti­nya hubungan antara yang merindukan dan yang dirindu­kan. Dan kedekatan hubungan tersebut bersifat reciprocal (timbal balik).

Hubungan ini juga sebenarnya dapat dianalogikan de­ngan hubungan antara seorang anak dengan orangtua, yang hubungan itu diwujudkan dalam bentuk kasih sayang. Na­mun sayangnya, pengertian kasih sayang sering disalah­paha­mi dengan yang bersifat material semata dan ini ternyata men­­jadi fenomena atau gejala masyarakat sekarang. Pada­hal kasih sayang yang sesungguhnya justru bersifat immate­rial. Oleh karena itu, konsep kebahagiaan yang jauh dari ka­sih sayang pada akhirnya menjadi kebahagiaan yang ber­si­fat hampa, tak bermakna, seperti yang menimpa masyara­kat metropolis dewasa ini, yaitu anak-anak mereka menun­tut kasih sayang dari para orangtua, yang diwujudkan dalam bentuk adanya perhatian dari orangtua.

Berkenaan dengan masalah kasih sayang Allah Swt. ke­pada hamba-Nya, perlu pula diketahui dan dipahami oleh orang beriman bahwa kasih sayang-Nya tidak selalu bersifat material, dalam artian mendapatkan limpahan rezeki yang banyak. Bahkan, perlu direnungkan bahwa limpahan rezeki boleh jadi bukan merupakan limpahan rahmat Allah Swt., melainkan sebaliknya, sebagai laknat. Dalam Al-Quran, kon­disi demikian disebut istidrâj, yakni sikap pengabaian dan ketidakpedulian Allah Swt. terhadap hamba-Nya sehingga tanpa disadari, dia akan terus terpuruk dan pada akhirn­ya akan mengalami kehancuran.

Untuk mendapatkan kasih sayang dari Allah Swt., dan ini sudah menjadi janji Allah Swt., Allah Swt. berjanji mem­berikan curahan kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya, seperti dalam Al-Quran yang berbunyi, … Dia telah me­ne­tapkan atas diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh-sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan ter­hadapnya. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tiada beriman (QS Al-An‘âm [6]:12).

Kembali menyinggung masalah kasih sayang, manusia ju­ga harus dapat memberikan dan menampakkan kasih sa­yang­nya kepada manusia lain seperti yang disebutkan da­lam hadis Nabi yang berbunyi, “Berkasihsayanglah di antara kamu, maka Yang Memiliki kasih sayang (Allah) akan mengasih­sa­yangimu.” Dan, juga dalam hadis lain disebutkan, “Sayangi­lah orang-orang di muka bumi, maka yang di langit (Allah) akan mengasihsayangimu.”

Dewasa ini, berkenaan dengan momentum masyarakat Indonesia hendak memasuki sebuah tatanan masyarakat ba­ru, yakni masyarakat modern, masalah cinta kasih pun men­jadi hal yang sangat penting. Upaya dan usaha menye­bar­kan cinta kasih sesama manusia dalam ajaran Islam di­wujudkan dalam perintah bersilaturahmi, yang berarti me­nyambung persaudaraan. Dan ini merupakan wujud perila­ku yang membedakan antara keislaman dengan kekafiran. Islam mengan­jurkan manusia menyambung silaturahmi yang oleh kekafiran disuruh untuk diputuskan.

Baca Juga :  Puasa dan Zakat sebagai Pembersihan Diri

Seperti halnya tubuh kita yang bersifat biologis, ia mem­bu­tuhkan nutrisi. Maka, ruhaniah atau spiritual kita juga mem­butuh­kan nutrisi atau gizi untuk kelangsungan hidup­nya. Adapun bentuk-bentuk nutrisi ruhani adalah ibadah-ibadah dalam Islam yang bertujuan meningkatkan derajat ketakwaan seseorang.

Perlu kiranya di sini dicamkan bersama bahwa hakikat iba­dah dalam Islam bukanlah untuk memenuhi kepenting­an Allah Swt. Se­sungguhnya Allah Swt. sama sekali tidak ke­kurangan kemuliaan atau kebesaran kalau saja seluruh ma­nusia di muka bumi ini tidak menyembah kepada-Nya. Namun, perlu diingat bahwa hakikat perintah ibadah dalam Is­lam untuk kepentingan manusia itu sendiri, bukanlah un­tuk memberikan pelayanan kepada Allah Swt. karena Allah Swt. sama sekali tidak membutuhkan serv­ice dari manusia.

Dalam menjalankan ibadah, terlebih lagi, seseorang ke­mudian menanamkan semangat ketulusan dan keikhlasan sebagai ruh dan jiwa beribadah. Sebagaimana dalam sebuah hadis dinyatakan, “Keikhlasan itu ruh beribadah.” Pengertian ke­ikhlasan diilustrasikan dengan sikap tidak meminta ba­las­an, seperti yang dinyatakan dalam Al-Quran, Sesungguh­nya kami memberi makan kepadamu, hanya mengharapkan ke­rida­an Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih (QS Al-Insân [76]: 9).

Namun, sejalan dengan ajaran Islam pula, yang mene­rima itulah yang harus atau berkewajiban mengucap­kan te­rima kasih dan memberikan balasan, seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadis Nabi yang cukup masyhur yang berbu­nyi, “Barang siapa tidak ber­terima kasih kepada manusia, ma­ka ia tidak berterima kasih kepada Allah.”

Dengan begitu, ajaran keikhlasan identik dengan iba­dah puasa yang memiliki dimensi yang sangat pribadi antara seorang hamba dengan Allah Swt.—yang segala perbuatan­nya hanya untuk Allah Swt., dan Allah Swt. juga berjanji akan membalasnya kelak.[]

 



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here