Hakikat Kepribadian Seorang Muslim

1
36

BincangSyariah.Com – Bagaimana sebenarnya hakikat kepribadian seorang Muslim? Apakah sama dengan kepribadian orang-orang pada umumnya ataukah berbeda? Kalau berbeda, bagaimana penjelasannya?

Kepribadian adalah kata yang berasal dari kata “pribadi”. Kata tersebut berarti diri sendiri  atau bisa juga berarti perseorangan. Dalam bahasa Inggris ada istilah personality yang memiliki arti kumpulan kualitas jasmani, rohani, dan susila. Personality bisa membedakan seseorang dengan orang lain.

Kepribadian tidak terjadi secara begitu saja, tapi terbentuk dalam proses kehidupan yang panjang. Karena itulah ada banyak faktor yang terlibat dalam membentuk kepribadian seorang manusia. Kepribadian seseorang yang baik, buruk, kuat, lemah, sepenuhnya ditentukan oleh faktor yang memengaruhi pengalaman hidupnya.

Dalam buku Filsafat Pendidikan Islam (1992) tercantum bahwa kepribadian secara utuh hanya bisa dibentuk lewat pengaruh lingkungan, terutama dalam pendidikan. Sasaran yang dituju dalam pembentukan kepribadian tersebut adalah kepribadian berdasarkan pada akhlak yang mulia.

Mengapa hakikat kepribadian seorang Muslim adalah akhlak yang mulia? Sebab, tingkat kemuliaan akhlak berkaitan dengan tingkat keimanan. Nabi Muhammad Saw. mengemukakan bahwa “Orang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang Mukmin yang paling baik akhlaknya.”

Seseorang yang beragama islam disebut sebagai Muslim. Muslim adalah seseorang yang menyerahkan dirinya secara sungguh-sungguh kepada Allah Swt. Maka, bisa disimpulkan bahwa wujud pribadi Muslim adalah manusia yang mengabdikan dirinya kepada Allah Swt., tunduk dan patuh serta ikhlas dalam amal perbuatannya disebabkan karena iman kepada-Nya.

Pola seseorang yang beriman kepada Allah Swt. adalah dengan melaksanakan kebajikan yang diperintahkan. Ia juga akan membentuk keselarasan dan keterpaduan antara faktor iman, Islam dan ikhsan.

Orang yang mampu melaksanakan aktivitas hidup yakni mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji, dan sabar, maka orang-orang tersebut dinamakan sebagai Muslim yang bertaqwa.

Baca Juga :  Kisah Istri Ahli Ibadah yang Hampir Berzina

Pola taqwa adalah gambaran dari haikat kepribadian seorang Muslim. Apabila pola tersebut berhasil “mewujud” atau “mempribadi” dalam diri seseorang, maka akan nampak perbedaannya dengan orang lain.

Karena ketaqwaannya, maka seorang Muslim bisa dikatakan sebagai seseorang yang mempunyai “Kepribadian Muslim”. Demikianlah hakikat kepribadian seorang Muslim.

Abdul Mujib menjelaskan dalam Kepribadian dalam Psikologi Islam (2006) bahwa secara terminologi kepribadian Islam berarti serangkaian perilaku normatif manusia, baik sebagai makhluk individu dan makhluk sosial yang normanya diturunkan dari ajaran islam dan bersumber dari Al-Quran dan al-Sunnah.

Hakikat kepribadian seorang Muslim dalam konteks di atas bisa diartikan sebagai identitas yang dimiliki seseorang sebagai ciri khas bagi keseluruhan tingkah laku sebagai Muslim. Identitas tersebut mencakup tingkah laku secara lahiriyah dan sikap secara batinnya. (Baca: Kepribadian Islami: Solusi Masalah Kesehatan Mental)

Tingkah laku lahiriyah, misalnya dalam cara berkata, berjalan, makan, minum, berhadapan dengan orang tua, guru, teman sejawat, sanak famili dan lain sebagainya. Sementara itu, sikap batin bisa diwujudkan dengan sabar, ikhlas, dan sikap terpuji lain yang timbul dari dorongan batin.

Ciri khas dari tingkah laku seorang Muslim di atas bisa dipertahankan sebagai kebiasaan. Kebiasaan atau tingkah laku tersebut sama sekali tidak bisa dipengaruhi oleh sikap dan tingkah laku orang lain yang bertentangan dengan sikap yang telah dimiliki sebelumnya.

Ciri khas tersebut sangat bisa dipertahankan apabila sudah terbentuk sebagai kebiasaan dalam waktu yang lama. Sebagai seorang individu, setiap Muslim mempunyai latar belakang dan pembawaan yang berbeda-beda.

Perbedaan individu tersebut mestinya tidak akan memegaruhi perbedaan yang akan menjadi kendala. Perbedaan yang ada biasanya berpengaruh dalam pembentukan kebiasaan ciri khas kepribadian seorang Muslim.[]

Baca Juga :  Jika Masih Hidup, Akankah Nabi Mengubah Hagia Sophia Menjadi Masjid?

1 KOMENTAR

  1. […] Pernyataan tersebut adalah setiap Muslim wajib menunjukkan ketundukan yang optimal kepada zat yang menjadi sesembahannya. Maka, secara keseluruhan, kaum Muslimin mesti mengacu pada pembentukan sikap kepatuhan yang sama. Dengan begitu, diharapkan akan terbentuk sifat dan sikap yang secara umum adalah sama. Inilah yang dimaksud dengan kepribadian Muslim.[] (Baca: Hakikat Kepribadian Seorang Muslim) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here