Hakikat dan Majaz dalam Al-Quran

0
66

BincangSyariah.Com – Salah satu metode untuk bisa memahami kandungan isi Alquran ialah dengan mempelajari kaidah kebahasaan dalam Al-Quran. Karena Al-Quran diturunkan berbahasa Arab, maka kaidah yang dipakai pun ialah kaidah bahasa Arab. Diantara kaidah tersebut terdapat persoalan yang cukup menarik, yakni seputar pemaknaan hakikat dan majaz. Berikut penjelasan hakikat dan majaz dalam Al-Quran.

Secara definitif, hakikat ialah lafaz yang digunakan untuk menunjukkan makna asalnya. Contohnya seperti kita menggunakan kata “kuda” untuk menunjukkan makna hewan yang meringkik. Hakikat ini sendiri terbagi menjadi tiga, yakni hakikat lughawi, hakikat syar’i, dan hakikat ‘urfi.

Hakikat lughawi atau hakikat kebahasaan ialah lafadz yang digunakan untuk menunjukkan makna sebagaimana ketika lafadz tersebut dibuat. Contohnya ialah kata “salat” yang secara kebahasaan menunjukkan makna “doa”.

Hakikat syar’i ialah lafadz yang digunakan sebagai sebuah istilah khusus dalam syariat. Contohnya ialah kata “salat” yang oleh syariat dimaknai sebagai ibadah salat yang kita kenal, yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam serta dilengkapi dengan berbagai persyaratan. Di dalam ibadah salat terkandung “doa”, maka penggunaan kata salat secara syara’ ini tetap dimasukkan dalam kategori hakikat.

Berikutnya ialah hakikat ‘urfi, yakni lafadz yang digunakan untuk menunjukkan makna sebagaimana disepakati oleh komunitas tertentu. Contohnya ialah kata “dabbah” yang secara kebahasaan bermakna semua hewan darat, kemudian oleh komunitas orang Arab bermakna hanya pada hewan darat yang berkaki empat.

Berikutnya adalah majaz. Majaz didefinisikan oleh para ulama sebagai lafadz yang menunjukkan makna tidak sesuai dengan asalnya. Contohnya kata keledai yang kita gunakan untuk menunjukkan makna seseorang yang lamban. Dalam hal ini, tentunya kita tidak bisa secara serampangan menggunakan sembarang kata untuk menunjukkan makna majaz. Harus ada keterkaitan antara makna hakiki dengan makna majaz agar penggunaan kata tersebut bisa tepat. Keterkaitan ini biasa disebut dalam kajian gaya bahasa Arab (balaghah) sebagai ‘alaqah. ‘Alaqah itu sendiri ada kalanya berupa keserupaan atau lainnya.

Baca Juga :  Hukum Menggadaikan Sawah dan Ketentuannya dalam Hukum Islam

Majaz yang menggunakan ‘alaqah keserupaan disebut sebagai majaz isti’arah, contohnya seperti yang telah disebutkan seperti diatas yakni seseorang yang lamban kita sebut sebagai keledai karena memiliki titik temu berupa sifat lamban.

Sementara majaz yang menggunakan ‘alaqah selain keserupaan, disebut sebagai majaz mursal apabila kemajazannya terjadi pada kalimatnya itu sendiri. Contohnya ialah kalimat: “Hujan memberikan pakan bagi ternak kami.”

Sedangkan apabila kemajazannya terletak pada penyandaran kalimat, maka disebut sebagai majaz ‘aqli. Contohnya ialah kalimat: “Hujan menumbuhkan rerumputan.” Meskipun semua kata dalam kalimat tersebut menunjukkan makna hakiki, namun secara penyandaran kalimat, kita tahu bahwa Allah lah yang maha menumbuhkan segala sesuatu.

Khusus untuk majaz mursal, ia kemudian terbagi menjadi dua, yakni ada kalanya menggunakan pembuangan kata (hadzf) atau penambahan (ziyadah). Contoh pembuangan kata ialah sebagaimana tertera dalam QS. Yusuf [12]: 82,

وَسْأَلِ الْقَرْيَةَ

Wasalil qaryata

“Dan tanyailah (penduduk) kota.”

Pada kalimat diatas, ada satu kata yang dibuang yakni kata ahli, karena secara nalar, tidaklah mungkin kita bisa menanyai kota, karena yang bisa kita tanyai adalah penduduk kota tersebut.

Sementara untuk contoh penambahan ialah:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءُ

Laisa ka mitslihi syaiun

“Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah.”

Secara hakikat kata per kata, maka maknanya ialah: “Tidak ada sesuatupun yang seperti menyerupai Allah.” Jika salah memaknai ayat ini, maka akan timbul makna tidak ada sesuatupun yang serupa serupa Allah. Dengan demikian bisa timbul pemaknaan ada serupa bagi Allah. Sedangkan tujuan ayat ini turun adalah untuk membersihkan keserupaan pada Allah SWT. Oleh karena itu, ayat ini harus kita maknai secara majaz, yakni huruf kaf diatas merupakan tambahan.

Baca Juga :  Apakah Semua Kata Perintah dalam Al-Quran Bermakna Kewajiban

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here