Hak-hak Anak setelah Dilahirkan

1
636

BincangSyariah.Com – Setiap orang pasti memiliki hak dan kewajiban yang harus dilakukan. Begitu pula dengan anak-anak. Mereka memiliki hak yang layak mereka dapatkan, baik sebelum dilahirkan maupun setelah dilahirkan. Pada tulisan sebelumnya telah disinggung hak-hak anak sebelum dilahirkan. Maka pada tulisan ini akan dipaparkan beberapa hal penting tentang hak-hak anak setelah dilahirkan.

Pertama, anak ketika dilahirkan berhak disambut dengan sambutan yang sesuai dengan sunah yang telah ditunjukkan Rasulullah Saw. seperti ditahnik (yakni langit-langit mulut anak dioles dengan sesuatu yang manis seperti kurma yang telah dikunyah halus atau madu) dan didoakan.

Abu Musa Al Asyari meriwayatkan hadis di dalam Sahih Al Bukhari

وُلِدَ لِي غُلَامٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ فَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ وَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ وَدَفَعَهُ إِلَيَّ

“Aku memiliki anak yang dilahirkan, lalu aku membawanya kepada Nabi Saw., lalu beliau memberikan nama Ibrahim untuknya, mentahniknya dengan kurma dan mendoakan keberkahan untuknya, lalu beliau menyerahkannya (anakku) kepadaku lagi.”

Kedua, diberikan nama yang baik. Oleh karena itu, hendaknya para orang tua telah memilih dan menyiapkan nama yang baik untuk anaknya, bukan nama-nama yang tidak pantas bagi orang Islam. Karena nama itu ibarat identitas diri seorang anak, sekaligus harapan dan doa untuk anak.

Di dalam shahih Al Bukhari terdapat suatu hadis yang menceritakan bahwa salah seorang sahabat bernama Abu Usaid pernah membawa anaknya kepada Rasulullah Saw. Anak itu pun dipangku oleh Nabi Saw. Namun, tiba-tiba ada sesuatu yang mengenai Nabi saw. (dikencingi) sehingga Nabi Saw. menyerahkan anak itu kepada bapaknya, Abu Usaid.

Kemudian Nabi Saw. menanyakan Anak itu,

فَقَالَ « مَا اسْمُهُ ». قَالَ فُلاَنٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « لاَ وَلَكِنِ اسْمُهُ الْمُنْذِرُ ». فَسَمَّاهُ يَوْمَئِذٍ الْمُنْذِرَ

Baca Juga :  PSTPG UIN Jakarta Paparkan Hasil Riset Peran Ekonomi dalam Tangkal Radikalisme

Siapa namanya?. “Fulan wahai Rasulullah” jawab Abu Usaid. “Jangan, tetapi namanya adalah al Mundzir  (orang yang memberi peringatan). Maka, saat itu juga Abu Usaid memberikan nama anaknya Almundzir.

Demikianlah seorang anak itu berhak untuk diberikan nama yang baik sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Saw. tersebut.

Adapun memberikan nama di hari pertama kelahiran anak adalah diperbolehkan, atau ketika hari ketujuh di waktu akikahan. Didahulukan atau diakhirkan sedikit pemberian nama itu boleh, dan tidak berdosa menurut imam Ibnul Qayyim di dalam kitab Tuhfatul Maulud.

Ketiga, akikah. Salah satu hak anak setelah dilahirkan menurut Islam adalah diakikahi. Yakni disunahkan menyembelih dua kambing untuk kelahiran anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk kelahiran anak perempuan.

Baik dilaksanakan ketika hari ketujuh setelah kelahiran, hari keempat belas atau kedua puluh satu. Samurah bin Jundub berkata bahwasannya Rasulullah saw. bersabda:

 كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

“Setiap anak itu tergadaikan dengan akikahnya, disembelihkan (kambing) atas kelahirannya di hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberikan nama.” (HR. Abu Daud)

Keempat, diberikan asupan asi. Oleh karena itu hendaknya anak itu jangan dijauhkan dari ibunya kecuali ada alasan/darurat. Bahkan Allah Swt. di dalam Alquran menghimbau kepada para ibu agar memberikan asi ekslusifnya kepada anaknya selama dua tahun.

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.….(QS: Albaqarah: 233).

Hal ini menunjukkan bahwa asi pastilah memiliki manfaat yang sangat banyak, karena Allah Swt. tidak akan memerintahkan sesuatu yang tidak ada kebaikannya di dalamnya. Selain itu, dengan memberikan asi, ibupun dapat semakin dekat dan sayang kepada anaknya.

Baca Juga :  Membincang Hadis Kematian Dajjal di Syam

Kelima, mendapatkan nafkah, makanan yang halal, dan dijauhkan dari hal-hal yang diharamkan. Maka, seorang bapak tidak boleh memberikan makanan anaknya dari hasil yang haram. Karena hal itu sama saja dengan menipu dan mengkhianati anaknya.

Selain itu, jika anak mengkonsumi makanan dan minuman dari perkara yang haram, maka bukan tidak mungkin akan mempengaruhi pada prilaku anak yang kurang baik.

Keenam, dijaga dan diperhatikan pendidikannya yang dapat memberikan manfaat untuknya baik di dunia maupun akhirat. Maka hendaknya bagi orang tua memberikan motivasi kepada anaknya untuk berbuat baik, berteman dan bergaul dengan orang baik, memperingatkan dari hal-hal yang tidak baik serta memperkenalkan tata cara beribadah kepada Allah.

Seperti memerintahkan untuk melaksanakan salat, sebagaimana hadis Nabi Saw.

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَلِّمُوا الصَّبِيَّ الصَّلاَةَ ابْنَ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا ابْنَ عَشْرٍ.

“Rasulullah Saw. bersabda “Ajarilah shalat kepada anak kalian pada usia tujuh tahun, dan pukullah ia yang masih meninggalkan shalat (dengan pukulan yang tidak menyakitkan) ketika mereka menginjak usia sepuluh tahun.” (HR. Al Tirmidzi).

Ketujuh, mendapatkan pendidikan tata krama/akhlak yang baik, serta peringatakan tentang tata krama yang tidak baik. Dan hal inilah yang sangat penting. Allah Swt. di dalam Alquran pun telah menggambarkan betapa pentingnya pendidikan akhlak, seperti kisah Luqman yang menasihati anaknya dengan nasihat-nasihat yang baik.

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

Baca Juga :  Tidak Mengamalkan Hadis Ahad Yang Shahih Karena Bertentangan dengan Prinsip Dasar Syariat, Mungkinkah.?

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).        

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS. Luqman: 17-19).

Demikianlah ketujuh hak anak setelah dilahirkan di dunia menurut Islam. Tetapi sebenarnya hak-hak anak masih banyak, hanya saja ketujuh hal tersebut adalah yang paling penting di antara hak-hak lainnya. Dan hendaknya para orang tua atau calon orang tua memperhatikan hak anak-anak tersebut agar pola pengasuhan tidak terjadi kesenjangan, apalagi kesalahan, Naudzubillah. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

1 KOMENTAR

  1. maaf saya ijin memakai foto anak yatim untuk banner acara anak yatim di kampung saya boleh ? bukan untuk pribadi fotonya untuk acara santunan anak yatim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.