Haikal Hassan: Orang yang Tak Percaya Khalifah Akhir Zaman Akan Kufur, Benarkah Demikian?

4
1893

BincangSyariah.Com – Kamis, 5 Desember 2019, stasiun televisi Kompas TV menyiarkan acara yang dipandu Rosianna Silalahi dengan tema Berdialog dengan Pengusung Khilafah. Salah satu pembicara yang diundang adalah Haikal Hassan. Walaupun tidak dapat menghadiri secara langsung di studio, pembesar alumni 212 ini bersedia menyampaikan paparannya melalui Skype. Berikut beberapa penyampaian penting yang disampaikannya.

Khilafah itu bagian dari ajaran Islam. Kita ingin menyampaikan bahwa keinginan kita ini bukan ingin bikin agama baru, bukan merubah (mengubah) sistem negara, bukan mengubah Pancasila, bukan mengubah dasar negara, bukan mengubah Undang-undang Dasar 45.

Khilafah itu gak ada urusannya dengan semua itu. Khilafah itu akan terjadi someday, suatu saat, ini adalah sebuah kepastian. Pasti suka enggak suka, terima enggak terima akan terjadi, tapi kita enggak mengupayakan. Khilafah akan dipimpin seseorang. Siapa seseorang ini? Kita yang tunjuk? Ya tidak lah.

Secara sistem, secara automatically, dengan hadis yang jelas, akan ada seorang pemimpin yang memimpin dunia dengan adil dan bijak, dan kita tidak akan mengupayakan angkat dari Indonesia, Malaysia, Singapur, itu tidak mungkin. Jadi kita tidak akan pernah mengupayakan ke situ.

Tapi hendaklah ini jangan jadi momok, jangan jadi musuh, karena salah penempatan. Akhirnya dikit-dikit khilafah, dikit-dikit khilafah, ngomong khilafah ditangkep, ngomong khilafah diproses, ngomongin khilafah dikatakan merongrong kewibawaan, PAUD terlibat atau terpapar radikalisme.

Mulai menit 9.46 hinga menti 11.24, ia mengatakan demikian.

Khilafah suatu ketika akan terjadi di seluruh dunia, dan itu tidak akan pernah dibantah oleh siapa pun, oleh NU, oleh Muhammadiyah, oleh Al-Irsyad, oleh Matholi’ul Anwar, oleh Jamiat Khair, tidak akan dibantah, karena itu bagian dari akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, kufur orang yang akan mengingkarinya.

Kenapa? Karena itu akan terjadi suatu saat nanti. Tetapi tidak akan merubah Indonesia, tidak akan merubah Malaysia, tidak akan merubah Brunei, tidak akan merubah negara-negara Saudi Arabia, Iraq, dan lain sebagainya, enggak akan merubah.

Tapi ini akan terjadi suatu saat, di mana ada orang yang diikuti, dijunjung tinggi, kata Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam, orang ini dari keturunanku, namanya seperti namaku, nama ayahnya seperti nama ayahku, enggak satu pun organisasi yang saya sebutkan tadi menentang hal ini.

Pasti semuanya akan sepakat itu bagian dari akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Tapi kehidupan bernegara saat ini tidak ada yang lebih baik dari Pancasila, tidak ada yang lebih baik dari Undang-undang Dasar 45 dalam mempersatukan negara. Tapi lihat Mba Rosi, di Twitter, pasti orang-orang menyebut saya pengkhianat, bohong, dan yang ngomong itu orang-orang terpelajar juga, orang-orang yang senantiasa tampil di tivi juga. Lalu saya mesti ngomong apa lagi? Mau dibelah dada ini? Demi Allah merah putih isinya.  

Perkataan yang kami bold (cetak tebal) dalam pernyataan Haikal Hassan menimbulkan pertanyaan. Benarkah mempercayai kehadiran khalifah yang adil di akhir zaman bagian dari akidah? Siapakah orang yang dimaksud dalam hadis Nabi yang dikutip Haikal Hassan?

Baca Juga :  Membaca Hadis-hadis tentang Peristiwa Akhir Zaman, Begini Langkah Memahaminya

Hadis yang dikutip oleh Haikal Hassan membicarakan mengenai kemunculan Imam Mahdi di akhir zaman. Khalifah adil dan menjadi pemimpin umat di dunia yang dibicarakan Haikal Hassan adalah Imam Mahdi. Ulama berbeda pendapat mengenai kewajiban mempercayai kemunculan Imam Mahdi di akhir zaman. Syekh Muhammad al-Sifarayini dalam Lawami‘ul al-Bahiyyah menyatakan demikian.

تنبيه: قد كثرت الأقوال في المهدي حتى قيل لا مهدي إلا عيسى بن مريم والصواب الذي عليه أهل الحق أن المهدي غير عيسى وأنه يخرج قبل نزول عيسى بن مريم عليه السلام وقد كثرت بخروجه الروايات حتى بلغت حد التواتر المعنوي وشاع ذلك بين علماء السنة حتى بلغت حد التواتر المعنوي وشاع ذلك بين علماء السنة حتى عد من معتقداتهم

Tanbihat: Pendapat mengenai Imam Mahdi itu sangat banyak sekali, bahkan disebutkan bahwa Imam Mahdi itu ya Nabi Isa bin Maryam. Menurut pendapat yang benar, Mahdi itu bukan Nabi Isa, ia akan keluar sebelum Nabi Isa bin Maryam turun ke muka bumi. Riwayat mengenai keluarnya Mahdi juga sangat banyak, dan bahkan mencapai riwayat mutawatir maknawi. Hal itu pun masyhur di kalangan ulama Ahli Sunnah yang juga sampai menduduki mutawatir maknawi, dan bahkan termasuk bagian dari akidah mereka.

وقد روي عمن ذكر من الصحابة وغير من ذكر منهم رضي الله عنهم بروايات متعددة وعن التابعين من بعدهم ما يفيد مجموعة العلم القطعي فالإيمان بخروج المهدي واجب كما هو مقرر عند أهل العلم ومدون في عقائد أهل السنة والجماعة

(Hadis mengenai Imam Mahdi) diriwayatkan oleh sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin dengan riwayat yang banyak sampai mengimplikasikan pada ilmu yang pasti. Iman mengenai keluarnya Imam Mahdi itu suatu hal yang wajib sebagaimana ditetapkan oleh ahli ilmu dan dibukukan dalam akidah Ahli Sunnah wal Jamaah.

Namun demikian, pakar sosiologi dan sejarah dari kalangan Muslim, Ibnu Khaldun tidak memercayai kehadiran Imam Mahdi. Ia mengaitkannya dengan teori ‘Ashabiyyah yang dirumuskannya (Baca: Ini Alasan Ibnu Khaldun Tak Percaya Soal Kemunculan Imam Mahdi). Bahkan Imam Ibnu Arabi pernah meramalkan kedatangan Imam Mahdi pada tahun 683 hijriyyah atau abad ketujuh, namun ramalan itu meleset (Baca: Ulasan Ibnu Arabi tentang Kehadiran Imam Mahdi).

Baca Juga :  Aksi Sweeping menurut Ibn Taimiyah dan al-Qurthubi

Kemunculan Imam Mahdi di akhir zaman merupakan perdebatan ulama. Kita tidak perlu melabeli orang yang tak meyakininya dengan label kufur atau kafir. Hadis mengenai kemunculan Imam Mahdi memang disebutkan dalam banyak hadis. Namun hadis-hadis tersebut rawan digunakan untuk mengklaim bahwa golongan tertentu adalah pengikut Imam Mahdi.

Faktanya, kelompok ISIS selalu menggunakan hadis akhir zaman dengan kemunculan Imam Mahdi atau kelompok panji hitam untuk membenarkan kekerasan yang dilakukannya. Kelompok ISIS menuliskan propaganda mereka untuk mengelabui umat Muslim awam melalui majalah Dabiq. Oleh karena itu, kepercayaan mengenai kehadiran Imam Mahdi di akhir zaman tidak boleh diklaim oleh kelompok Muslim tertentu sebagai pembenaran terhadap khilafah versi kelompoknya sendiri. (Baca: Ciri-ciri Imam Mahdi dalam Hadis Nabi)

4 KOMENTAR

  1. Hendaklah bersabar jika mendengar sesuatu yg tidak menyenangkan apalagi diwaktu kita mendapatkan rezeki(lagi makan)apalagi sampai gebrak meja

  2. Hendaklah bersabar jika mendengar sesuatu yg tidak menyenangkan apalagi diwaktu kita mendapatkan rezeki(lagi makan)apalagi sampai gebrak meja

  3. Wkwkw kita liat jika sudah sampai akhir zaman min, karena khilafah tidak bisa lepas dari islam, bisa di katakan muslim yang tidak menerima khilafah sama saja menolak perintah Allah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here