Hadis Tentang Makruhnya Bertani, Bagaimana Memahaminya?

0
748

BincangSyariah.Com – Dalam kitab Kaifa Nata’ammal Ma’a al-Sunnah al-Nabawiyah karya Yusuf Qardhawi terdapat sebuah tema berjudul Hadits al-Bukhari fi Zimmi al-Mihrats, hadis Bukhari tentang hinanya alat berkebun. Bagaimana cara kita memahami hadis tersebut? Benarkah dalam Islam berkebun atau bercocok tanam itu makruh dan perbuatan hina?

Hadis tersebut diriwayatkan oleh sahabat Abu Umamah sebagaimana berikut

عن أبي أمامة الباهلي حين ينظر إلى حين ينظر إلى آلة حرب (محراث) فقال: سمعت رسول الله يقول: لايدخل هذا البيت قوم إلا أدخله الله الذل

Dari Abu Umamah al-Bahili, ketika melihat alat-alat pertanian, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw berkata, ‘Tidaklah masuknya alat-alat ini ke rumah suatu kaum, melainkan Allah akan memasukkan ke dalam kehinaan.” (HR. Bukhari)

Sekilas hadis ini seolah menunjukkah bahwa Rasul memakruhkan berkebun dan bertani sehingga hal tersebut bisa membuat orang yang melakukannya menjadi hina. Yusuf Qardhawi menyebutkan, hadis ini dipakai oleh sebagian orientalis untuk menyudutkan Islam.

Dalam Shahih-nya, Imam Bukhari meriwayatkan hadis ini dalam bab ‘Berhati-hati Akibat Terlalu Sibuk Dengan Alat Pertanian, atau Melampaui Batas yang Ditetapkan’. Artinya, Rasul bukan memakruhkan kegiatan pertanian, akan tetapi yang makruh adalah terlalu sibuk dengan bertani hingga lupa akan hal lainnya yang lebih penting, seperti beribadah.

Menurut Yusuf Qardhawi, Sahabat Anshar di Madinah merupakan penduduk yang suka bercocok tanam, namun Nabi Muhammad tidak pernah menyuruh mereka berhenti untuk bertani. Bahkan berkat hal ini, dalam Islam terdapat hukum-hukum seputar bertani, mengairi kebun, menghidupkan tanah yang mati, dan hal-hal yang berkaitan dengannya.

Sebaliknya, Rasulullah dalam hadisnya yang lain mengatakan bahwa menanam bisa menjadi sedekah jariyah jika pohon yang ditanam memberikan manfaat baik kepada manusia atau hewan.

Baca Juga :  Cara Mengobati Orang yang Terkena Penyakit Ain

Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan sahabat Jabir mengatakan:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتْ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ

“Nabi SAW bersabda: ‘Tak ada seorang muslim yang menanam pohon, kecuali sesuatu yang dimakan dari tanaman itu akan menjadi sedekah baginya, dan yang dicuri akan menjadi sedekah. Apa saja yang dimakan oleh binatang buas darinya, maka sesuatu (yang dimakan) itu akan menjadi sedekah baginya. Apapun yang dimakan oleh burung darinya, maka hal itu akan menjadi sedekah baginya. Tak ada seorangpun yang mengurangi, kecuali itu akan menjadi sedekah baginya’.” (HR. Muslim)

Pohon yang ditanam akan menjadi pahala bagi yang menanamnya, demikianlah betapa mulianya pekerjaan menanam pohon. Berdasarkan hadis-hadis tentang keutamaan menanam pohon, maka tidak benar jika Islam melarang bertani dan bercocok tanam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here