Viral Penggunaan Hadis tentang Isolasi Diri Akibat Corona, Bagaimana Memahaminya?

0
1012

BincangSyariah.Com – Sejatinya, semua hadis itu layak digunakan. Bahkan, ketika hadis itu lemah sekalipun, masih ada sisi kelayakannya. Yaitu, sebatas untuk memotivasi diri, bukan untuk berfatwa atau berkeyakinan. Bukankah kita juga boleh-boleh saja memotivasi  diri berpuasa dengan anjuran dokter misalnya, atau dengan anjuran teman yang tidak jelas keilmuannya dalam bidang agama karena dia telah berhasil menjadi sehat dan menyusut dari obesitasnya? Bukankah kita juga boleh-boleh saja memotivasi diri dengan pepatah atau kata-kata mutiara, bukan? Begitulah posisi dan logika status penggunaaan hadis-hadis lemah dalam kehidupan beragama kita.

Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) meriwayatkan sebuah hadis yang belakangan ini menjadi viral.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الطَّاعُونِ فَأَخْبَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ فَجَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ فَلَيْسَ مِنْ رَجُلٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَيْتِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ رواه أحمد

Diriwayatkan dari Ibu Aisyah ra. yang bertanya kepada Rasulullah saw mengenai tha’un. Beliau bersabda, “Tha’un itu [aslinya] adalah azab [bencana] dari Allah yang dikirim kepada siapapun yang Dia kehendaki. Kemudian, Allah [mengubahnya] menjadi rahmat untuk orang-orang beriman. Karena itu, tidak seorang pun yang ketika [diduga] terinfeksi tha’un lalu berdiam diri dalam rumah (mengisolasi diri) dengan penuh kesabaran dan pengharapan rida Allah, dan dia yakin bahwa apa yang menimpanya itu adalah telah menjadi ketetapan Allah untuknya, maka dia dijamin berhak mendapatkan [pahala yang] setara dengan pahala orang yang mati syahid. (HR. Ahmad)

Hadis ini beredar di masyarakat. Salah satu penyebab peredarannya (sabab irad) dari hadis ini adalah wabah Corona. Adanya perintah mengisolasi diri bagi mereka yang dinyatakan positif, maupun yang dikategorikan sebagai Orang Dalam Pemantauan (ODP) karena pernah berinteraksi dan kontak langsung dengan korban Corona. Tak hanya itu, ia juga beredar sebagai dasar bagi kebijakan atau himbauan social distancing untuk memutus rantai penyebaran Corona. (Baca: Wabah Corona Pun Menginfeksi Penyebaran Hadis Nabi)

Baca Juga :  Singgasana Tuhan

Ini sangat tepat bagi kami untuk kembali belajar ilmu pemahaman hadis. Tepatnya, pada tahap memastikan dalalah (petunjuk makna) hadis. Kali ini, fokus tertuju pada satu redaksi saja. Bukan untuk berfatwa tentang status boleh atau tidaknya mengisolasi diri atau melakukan social distancing. Juga bukan untuk menyatakan mana yang benar dan mana yang keliru. Karena kalau untuk sampai sejauh itu tujuannya, tentunya tidak cukup hanya dengan satu buah hadis saja.

Pertama, sabab wurud hadis ini tidak diketahui secara detail. Hadis ini berdasarkan riwayat imam Ahmad tersebut, muncul disebabkan oleh adanya pertanyaan dari Ibu Aisyah ra. kepada Nabi. Berdasarkan informasi di awal matannya, dapat diketahui bahwa yang ditanyakan di situ adalah tha‘un. Lalu Nabi menjawab bahwa, [dulu] tha’un itu aslinya azab untuk siapapun. Dalam riwayat imam Muslim, disebutkan ia dulu adalah azab untuk Bani Israil dan bisa menginfeksi siapa saja. Tapi, kali ini Allah menjadikannya rahmat untuk orang beriman.

Kalau melihat redaksi yang ini saja, maka tampaknya wajh al-dalalah ‘orientasi pemaknaan lafal’ hadis ini, Nabi sedang fokus kepada orang yang masuk kategori dalam pemantauan (Orang Dalam Pemantauan /ODP) karena memiliki salah satu gejala infeksius setelah ada riwayat kontak dengan orang yang positif tha’un. Atau, untuk orang yang positif tha’un itu sendiri. Atau untuk orang yang berstatsus Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Mereka semua diimbau oleh Nabi untuk mengisolasi diri.

Kalau kita tarik kepada konteks Corona hari ini, tampaknya hadis ini lebih tepat digunakan untuk orang yang berstatus ODP. Dia harus mengisolasi diri di dalam rumah. Karena, dia sebenarnya belum dinyatakan positif Corona. Sehingga, jika mengisolasi di rumah sakit, tentu akan menambah beban para petugas yang sedang berjuang membantu para pasien. Dengan mengisolasi diri di rumah inilah, harapannya ia tidak sampai menjadi positif, juga tidak menginfeksi orang lain.

Baca Juga :  Hukum Meminta Bayaran Saat Mengobati Orang Sakit dengan Al-Quran

Jika yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah orang yang positif tha’un, maka tentunya tidak mengisolasi diri di dalam rumah, melainkan di rumah sakit. Meskipun, entah pada masa Nabi apakah sudah ada semacam rumah sakit atau belum? Namun yang jelas, jika ODP saja diimbau untuk mengisolasi diri di dalam rumah, maka bagi pasien atau orang yang positif terinfeksi harus lebih mengisolasi diri lagi. Tentu di rumah yang khusus, yaitu dalam konteks sekarang adalah rumah sakit.

Kemudian, apakah dalalah dalam redaksi hadis ini juga bisa mengarah orang yang sehat, tidak bergejala sama sekali? Bisa iya, bisa tidak. Kuncinya adalah pada kata rajul yaqo‘u al-tha’un pada hadis di atas. Kira-kira seperti terjemahan literalnya adalah seperti ini.“Orang yang terjadi tha’un.”

Kemudian, kata yang masih ambigu secara petunjuk makna itu diperjelas oleh frasa shobiron muhtasiban ya‘lamu annahu la yushibuhu illa ma kataballahu lahu. Arti literalnya adalah, “[Dia berdiam di rumah itu] seraya bersabar dan mengharap ridha Allah dan meyikini bahwa apa yang menimpanya itu adalah sudah menjadi ketetapan Allah untuknya.

Frasa penjelas ini berfungsi untuk memastikan bahwa tampaknya orang yang dimaksud di situ adalah orang yang sudah bergejala, atau bahkan sudah positif. Tampaknya, memang kurang tepat kalau secara literal dipahami sebagai orang yang sehat-sehat saja, segar bugar, tidak bergejala sama sekali, bahkan dinyatakan negatif virus.

Dari arti literal itulah, kita menjadi tahu bahwa hadis ini secara wajh al-dalalah (petunjuk lafalnya) mengarah secara khusus kepada orang yang bergejala, dan terutama kepada orang yang sudah dinyatakan positif. Sehingga, orang yang masih segar bugar, sehat dan negatif, tidak masuk dalam kategori yang diimbau dengan hadis ini.

Baca Juga :  Tafsir: Perintah Allah agar Kita Selalu Memprioritaskan Berdamai

Jadi, lebih tepatnya frasa (berdiam diri di dalam rumah) yang ada dalam hadis di atas dipadankan dengan konsep atau istilah “megisolasi diri”, bukan “social distancing,” “phisical distancing,” ataupun “lock down.” Istidirilah isolasi diri lebih tepat untuk orang yang bergejala atau orang yang postitif terinfeksi. Istilah social distancing lebih tepat untuk orang yang tidak bergejala sama sekali, sehat wal afiat.

Meski demikian, pertanyaannya adalah, apakah dengan begitu, orang yang sehat dan negatif virus tidak perlu mengisolasi diri atau melakukan social distancing? Tentu tidak begitu juga logikanya. Kalau soal fatwa tentang harus atau tidaknya melakukan social distancing maupun phisical distancing, itu bukan domain hadis ini. Melainkan hal itu menjadi pesan dari hadis lain. Sekali lagi, ini soal tepat atau tidak tepatnya penggunaan hadis; tepat atau tidak tepatnya menangkap petunjuk lafal hadis.

Adapun soal fatwa keharusan melakukan social distancing, maka hadis riwayah Imam Ahmad dari sayyidina Abu Hurairah ra yang menyatakan bahwa Rasulullah saw bersabda,,

فِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ فِرَارَكَ مِنَ الْأَسَدِ

“Kaburlah dari orang yang positif lepra seperti kaburmu dari [kejaran] singa.”

Kalau memang kita yang sehat wal afiat ini tidak perlu takut dari Corona, karena Corona juga makhluk Allah, seperti halnya kita sendiri, maka-kira-kira maukah kita berduaan, berdekatan, atau tinggal diam bersama dengan singa tanpa distance atau penghalang, pengaman dan pelindung diri?

Begitulah, ilmu paling dasar dalam ilmu pemahaman hadis, khususnya bagian ikhtilaf al-hadits.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here