Hadis Tentang Harumnya Keringat Rasulullah

0
35

BincangSyariah.Com – Banyak cara yang dapat kita tempuh guna menambah kecintaan sekaligus mengobati kerinduan kepada Nabi Muhammad saw. Barangkali di antaranya dengan meresapi hadis tentang harumnya keringat Rasulullah yang bukan seperti manusia pada umumnya yang keharumannya berasal dari wewangian aneka merek parfum dan lain sebagainya. Justru wanginya Rasulullah bersifat alami dan tentu ini termasuk salah satu dari keutamaan-keutamaan beliau.

Hadis yang pertama diriwayatkan oleh seorang sahabat bernama Jabir bin Samurah (w. 74 H). Hadis ini tergolong hadis sahih yang termuat di dalam kitab Shahih Muslim (no. 2329),

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْأُولَى ثُمَّ خَرَجَ إِلَى أَهْلِهِ وَخَرَجْتُ مَعَهُ فَاسْتَقْبَلَهُ وِلْدَانٌ فَجَعَلَ يَمْسَحُ خَدَّيْ أَحَدِهِمْ وَاحِدًا وَاحِدًا قَالَ وَأَمَّا أَنَا فَمَسَحَ خَدِّي قَالَ فَوَجَدْتُ لِيَدِهِ بَرْدًا أَوْ رِيحًا كَأَنَّمَا أَخْرَجَهَا مِنْ جُؤْنَةِ عَطَّارٍ

Dalam hadis ini, Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu mengisahkan dirinya pernah salat bersama Rasulullah pada saat shalatul ula. Yang dimaksud dengan shalatul ula adalah salat subuh. Namun, ada pula yang berpendapat itu maksudnya salat zuhur.

Selepas salat Rasulullah keluar dari masjid menuju rumah beliau untuk menemui keluarganya. Jabir pun ikut membersamai Rasulullah. Lalu, ada sejumlah anak kecil menghampiri beliau. Lantas Rasulullah mengusap kedua pipi mereka satu-satu. Demikianlah potret kasih sayang dan kerendahan hati Rasulullah terhadap anak kecil.

Tak luput, Jabir pun berkesempatan diusap kedua pipinya oleh Rasulullah. Karena itu, Jabir dapat merasakan akan kehangatan dan harumnya tangan mulia beliau. Saking harumnya, kata Jabir, seakan-akan Rasulullah baru saja mengeluarkan tangannya dari ju’nah-nya penjual minyak wangi.

Untuk dimafhum bahwa dalam bahasa Arab, ju’nah adalah semacam bakul atau wadah yang biasanya digunakan oleh penjual minyak wangi ketika menjajakan parfum dagangannya. Adapun frasa ju’natul ‘aththar dalam hadis tersebut sebagai ungkapan metaforis dari Jabir bin Samurah untuk menunjukkan ketakjubannya pada semerbak wangi tangan Rasulullah.

Baca Juga :  Kisah Nabi Saw. Begitu Menghormati Perempuan yang Menyusuinya

Fa-shalli wa sallim ‘ala Rasulillah…

Hadis berikutnya berasal dari pengakuan Anas bin Malik (w. 93 H), salah seorang sahabat terdekat Rasulullah yang notabene bertugas sebagai khadam (pelayan) beliau. Hadis sahih ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dan terdapat di kitab Shahih Muslim (no. 2330),

قَالَ أَنَسٌ مَا شَمَمْتُ عَنْبَرًا قَطُّ وَلَا مِسْكًا وَلَا شَيْئًا أَطْيَبَ مِنْ رِيحِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا مَسِسْتُ شَيْئًا قَطُّ دِيبَاجًا وَلَا حَرِيرًا أَلْيَنَ مَسًّا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Hadis ini mengisahkan pengakuan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, yang sama sekali tidak pernah mencium wewangian yang harumnya melebihi keharuman badan Rasulullah. Entah itu ambar kesturi atau apa saja. Selain itu, Anas juga mengaku tidak pernah menyentuh sesuatu yang halusnya melebihi kehalusan telapak tangan Rasulullah. Baik itu berupa kain sutra maupun yang selainnya. Seyogianya, hal ini  menjadi bukti tentang sosok Rasulullah yang paripurna secara khalqan wa khuluqan, yakni elok budi pekertinya dan elok pula jasadinya.

Dalam hadis yang lain, Anas bin Malik menggambarkan pesona Rasulullah yang lainnya. Hadis berikut ini dirawikan oleh Ibnu Hibban dalam kitabnya, Shahih Ibnu Hibban (no. 6310),

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَزْهَرَ اللَّوْنِ كَأَنَّ عَرَقَهُ اللُّؤْلُؤُ إِذَا مَشَى مَشَى تَكَفِّيًا

Di sini, Anas bin Malik mengisahkan bagaimana wajah Rasulullah yang senantiasa bersinar atau selalu tampak ceria; keringat beliau seumpama kilauan mutiara; dan manakala beliau berjalan, langkahnya tegap berayun-temayun.

Seperti telah disinggung sebelumnya, bahwa Rasulullah merupakan sosok yang memiliki keelokan jasadi (jamilul khilqah) dan juga akhlak yang terpuji (hasanul khuluq). Itu sebabnya, para sahabat gemar sekali melukiskan sosok Rasulullah dengan beragam ungkapan dan metafor yang seindah-indahnya. Sebagaimana keindahan hakiki beliau yang digambarkan oleh Anas bin Malik dalam hadis yang ketiga ini.

Baca Juga :  Mengapa Cahaya Ilahi Sulit Masuk dalam Hati Kita? Ini Kata Buya Syakur

Fa-shalli wa sallim ‘ala Rasulillah…

Hadis sahih yang terakhir, masih dari Anas bin Malik yang dikutip dari kitab Shahih Muslim (no. 2331),

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ دَخَلَ عَلَيْنَا النَّبِىُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ عِنْدَنَا فَعَرِقَ وَجَاءَتْ أُمِّى بِقَارُورَةٍ فَجَعَلَتْ تَسْلُتُ الْعَرَقَ فِيهَا فَاسْتَيْقَظَ النَّبِىُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ مَا هَذَا الَّذِى تَصْنَعِينَ؟ قَالَتْ هَذَا عَرَقُكَ نَجْعَلُهُ فِى طِيبِنَا وَهُوَ مِنْ أَطْيَبِ الطِّيبِ

Melalui hadis ini, Anas bin Malik bercerita tentang kunjungan Rasulullah ke rumahnya. Lalu, Rasulullah tidur qailulah (tidur ataupun rehat yang dilakukan pada waktu siang), hingga kemudian beliau berkeringat. Tak lama berselang datanglah Ummu Sulaim, ibundanya Anas, dengan membawa sebuah botol. Dengan botol itu Ummu Sulaim mewadahi keringat Rasululullah. Sekonyong-konyong Rasul terjaga dan bertanya. “Wahai Ummu Sulaim, apa yang kamu lakukan ini?” tanya beliau. Lantas Ummu Sulaim menjawab, “ini keringat engkau yang kami tampung untuk kami kenakan sebagai wewangian kami; dan keringat engkau termasuk wewangian yang wanginya paling harum”.

Sebagai penutup, perlu ditegaskan di sini bahwa kisah-kisah tentang Rasulullah seperti halnya dalam keempat hadis di atas, bukanlah hal ahwal yang berlebihan. Malah sebaliknya, pesona dan kepribadian Rasulullah yang seutuhnya itu jauh melebihi dari apa yang dilukiskan di dalam hadis, sirah, dan lain sebagainya. Sesuai dengan syair gubahan Imam al-Bushairi dalam Qashidatu al-Burdah di bawah ini,

فانْسُبْ اِلَى ذَاتِهِ مَا شِئْتَ مِنْ شَرَفٍ *  وَانْسُبْ اِلَى قَدْرِهِ مَا شِئْتَ مِنْ عِظَمِ

Fansub ila dzatihi maa syi’ta min syarafin * Wansub ila qadrihi maa syi’ta min ‘izhami

Maka lontarkan untuk Rasulullah, pujian apapun yang engkau suka.

Letakkanlah pada diri Nabi, kemuliaan apapun yang engkau kehendaki;

Lekatkanlah kepada martabat beliau, keagungan apapun yang engkau mau.

فَاِنَّ فَضْلَ رَسُوْلِ اللهِ لَيْسَ لَهُ * حَدٌّ فَيُعْرِبَ عَنْهُ نَاطِقٌ بِفَمِ

Baca Juga :  Hamzah bin Abdul Muthallib: Paman Nabi Bergelar Penghulu Orang-Orang Syahid

Fa inna fadhla rasulillahi laisa lahu * Haddun fayu’riba ‘anhu nathiqun bi-fami

Karena keutamaan Rasulullah memang tak bertepi.

Tak bisa diurai tuntas oleh lidah orang yang berbicara.

لَوْ نَاسَبَتْ قَدْرَهُ آيَاتُهُ عِظَمًا * أَحْيَا اسْمُهُ حِيْنَ يُدْعَى دَارِسَ الرِّمَمِ

Law nasabat qadrahu ayatuhu ‘izhaman * Ahyasmuhu hina yud’a darisar-rimami

Seandainya keagungan mukjizat Baginda sama dengan ketinggian derajatnya.

Maka sebutan namanya dapat hidupkan orang yang hancur tulangnya.

لَمْ يَمْتَحِنَّا بِمَا تَعْيَا الْعُقُوْلُ بِهِ * حِرْصًا عَلَيْنَا فَلَمْ نَرْتَبْ وَلَمْ نَهِمِ

Lam yamtahinna bima ta’yal ‘uqulu bihi * Hirshan ‘alaina fa-lam nartab wa lam nahimi

Rasulullah tidaklah menguji kita dengan apa yang tak terjangkau akal manusia.

Karena beliau sangat ingin kita mendapat cahaya hingga tak ada ragu dan bimbang pada diri kita.

أَعْيَا الْوَرَى فَهْمُ مَعْنَاهُ فَلَيْسَ يُرَى * فِي الْقُرْبِ وَالْبُعدِ فِيْهِ غَيْرُ مُنْفَحِمِ

A’yal wara fahmu ma’nahu fa-laisa yura * Fil-qurbi wal bu’di fihi ghairu munfahimi

Seluruh makhluk tak akan mampu memahami hakikat Nabi.

Tak ada yang dekat atau jauh melainkan tak mampu (melihatnya).
كَالشَّمْسِ تَظْهَرُ لِلْعَيْنَيْنِ مِنْ بُعُدٍ*  صَغِيْرَةً وَتُكِلُّ الطَّرْفَ مِنْ أَمَمِ

Kasy-syamsi tazh-haru lil-‘ainaini min bu’udin * Shaghiratan wa tukilluth-tharfa min amami

Bagaikan matahari dari jauh tampak kecil pada kedua mata.

Padahal mata tiada akan mampu bila berdekatan dengannya.

~ Wallahu a’lam bish-shawab ~

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here