Hadis tentang Allah Berbisik kepada Hamba-Nya di Akhirat

0
22

BincangSyariah.Com – Dalam bahasa Arab, kata an-Najwaa berarti bisikan. Kata tersebut berasal dari kata najaa yang memiliki arti dasar keselamatan atau keterbebasan dari sesuatu. Kata najaa sendiri juga memiliki arti lain yaitu sesuatu yang berjalan sangat cepat dan memiliki suara.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, ada sebuah riwayat yang mengisahkan Allah berbisik kepada hamba-Nya di akhirat kelak. Hadis ini berkaitan dengan kemahakuasaan Allah yang dengan rahmat-Nya, mudah saja untuk tetap menganugerahi hamba-Nya surga. Hadis ini berisi kisah seorang pengikut sahabat (tabi’in) bernama Shofwan bin Muhriz yang saat bersama Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, tiba-tiba ia ditemui oleh seseorang yang bertanya tentang sabda Nabi Saw. tentang bisikan. Hadis tersebut diriwayatkan oleh al-Bukhari dan diriwayatkan juga oleh Ahmad dalam Musnad-nya,

عَنْ صَفْوَانَ بْنِ مُحْرِزٍ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ ابْنَ عُمَرَ كَيْفَ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَقُولُ فِى النَّجْوَى؟ قَالَ: «يَدْنُو أَحَدُكُمْ مِنْ رَبِّهِ حَتَّى يَضَعَ كَنَفَهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولُ: أَعَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ: نَعَمْ، وَيَقُولُ عَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ: نَعَمْ فَيُقَرِّرُهُ، ثُمَّ يَقُولُ: إِنِّى سَتَرْتُ عَلَيْكَ فِى الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ».

Dari Shofwan bin Muhriz (al-Mazini), bahwasanya seseorang bertanya kepada Ibn ‘Umar :, “bagaimana, apakah engkau mendengar Rasulullah Saw. pernah bersabda tentang an-najwaa’ (bisikan antara Tuhan dan hamba-Nya kelak di hari kiamat)?” Lalu Abdullah bin Umar ra. berkata : – dalam riwayat lain Ibn ‘Umar mengatakan : Rasulullah Saw. bersabda : – “salah seorang kalian akan mendekat kepada Tuhannya sampai Dia menutupi hamba itu.” Lalu Allah berkata: “kamu tahu dosa ini dan itu (menyebutkan semua dosa-dosa hamba-Nya di dunia) ?”

Hamba berkata : “tahu wahai Tuhan.”

Hingga hamba itu mengakui dosa-dosanya.

Lalu Allah Swt. berkata: “sungguh Aku sudah menutupi kesalahan-kesalahan-Mu di dunia. Dan Aku hari ini memberikan ampunan untukmu.”

Ada banyak makna yang dapat digali dari hadis tersebut. Para ahli ilmu kalam, khususnya dari kalangan ulama Asy’ariyah, melalui hadis diatas kemudian menyimpulkan kalau hadis tersebut menjadi dalil kalau Allah Swt. memiliki sifat kalam, yaitu mampu berfirman kepada hamba-Nya, dengan kekuasaan-Nya. Pembahasan lainnya berkisar soal dengan menggunakan redaksi al-kanaf (yadnū kanafahū) yang berarti menutupi, kemudian menimbulkan diskusi di kalangan ahli kalam apakah ini berarti Allah Swt. dapat bertempat bersama para makhluk-Nya.

Singkatnya, para ulama ahli kalam kemudian menyimpulkan bahwa hal-hal seperti itu, selain dikarenakan pembicaraan tentang sesuatu yang gaib (sam’iyyāt/ghoybiyyāt) yang hanya diketahui berdasarkan informasi dari Allah dan Rasul-Nya, ulama biasanya menjelaskan kalau redaksi tersebut memang benar adanya tanpa perlu mempertanyakan atau menyamakan dengan apa yang biasanya dilakukan oleh makhluk. Yaitu, dalam hal ini bisa bertempat, dan berarti terbatas pada ruang tertentu. Padahal Allah Swt. Maha Agung dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

Memang ada pendapat beragam tentan makna kanafahu dalam hadis diatas. Secara umum terbagi menjadi dua kelompok, yang tetap menggunakan makna literal tanpa perlu menjelaskan atau menyamakan dengan yang terjadi pada makhluk, dan menggunakan makna majas.

  1. Semisal al-Bukhari dalam kitabnya Kholqu Af’āl al-‘Ibād mengutip pendapat Abdullah bin al-Mubarak yang memaknai kanafahu dengan satarohū (menutupi hamba-Nya).
  2. Ada juga yang mentakwil seperti Ibn Syumail seperti dikutip Al-Azhari, seorang ahli bahasa dalam karya leksikografisnya, Tahdzib al-Lughoh yang memaknai kanafahu dengan rahmatahu wa birrahu (kasih dan kebaikan-Nya). Wallahu A’lam.

Makna berikutnya adalah gambaran tentang firman Allah Swt. sendiri dalam sebuah hadis Qudsi yang mengatakan kalau “sesungguhnya rahmat-Ku melampaui murka-Ku” (inna rahmatī sabaqot ghodhobī). Hadis tersebut terepresentasi maknanya dalam hadis yang kita bahas kali ini, dimana Allah Swt. justru mengampuni seluruh kesalahan hamba-Nya setelah hamba-Nya mengaku segala kesalahan-kesalahan-Nya. Ini juga sesuai dengan salah satu pembahasan ilmu tauhid bahwa Allah Maha Berkuasa untuk menentukan takdir-Nya apakah ia akan memberikan ampunan atau siksaan. Bagi Allah mungkin saja untuk mengampuni seluruh dosa seorang hamba meski dalam firman-Nya di Al-Quran orang yang berdosa itu yang tidak bertaubat sampai akhir hayatnya akan dimasukkan ke dalam neraka. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here