Membincang Hadis Syam adalah Rumah Utama Umat Islam

0
1211

BincangSyariah.Com – Dengan begitu banyaknya keutamaan Negeri Syam, terdapat keutamaan lain yang patut untuk diutarakan dalam tulisan ini. Terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Salamah bin Nufail al-Kindi, ia mengatakan bahwa suatu ketika ia pernah duduk-duduk bersama Rasulullah SAW. Tiba-tiba seorang laki-laki datang dan mengatakan, “Wahai Rasulullah orang-orang telah memarkirkan kuda mereka, meletakkan senjata mereka, dan mereka mengatakan bahwa tidak ada lagi jihad dan perang telah usai.”

Kemudian Rasulullah SAW menghadapkan wajahnya, dan mengatakan, “Mereka telah berdusta, sekarang, sekarang, perang telah dimulai, senantiasa umatku berperang di atas kebenaran, Allah menyesatkan hati beberapa kaum, dari mereka Allah memberikan rezeki kepada umat Islam (berupa rampasan perang) sampai datangnya hari kiamat. Kuda saat itu telah diikat dan di setiap jambulnya terdapat kebaikan sampai hari kiamat tiba,….” kemudian Rasulullah mengatakan:

وَعُقْرُ دَارِ الْمُؤْمِنِيْنَ الشَّامُ

  “Dan Syam adalah bagian utama rumah orang-orang beriman.”

Kata ‘Uqr dalam kalimat di atas bisa diartikan sebagai pangkal, pokok, atau inti. Dalam bahasa Arab, ‘uqr al-kal’a atau ‘uqar al-kal’a berarti bagian terbaik dari tanaman yang dipelihara. Atau seperti dalam kalimat hadza al-bait ‘uqr al-qashidah, artinya adalah bait atau sajak yang terbaik. Jadi bisa diartikan pula bahwa ‘uqr atau ‘aqar adalah bagian terbaik dari segala sesuatu.

Kritik Hadis

Hadis di atas dapat dijumpai dalam Sunan al-Nasa’i. Secara kualitas hadis di atas dianggap shahih oleh al-Albani. Namun, kesimpulan berbeda diutarakana oleh Syekh al-Idlibi dalam Ahadits Fadhail al-Syam: Dirasah Naqdiyyah (Hadis-Hadis Keutamaan Syam: Studi Kritis). Kajiannya terhadap hadis di atas diambil setelah mengumpulkan seluruh jalur periwayatan dengan mengkritik sanad hadis di atas.

Hadis di atas dapat dirujuk di berbagai kitab, di antaranya adalah di dalam Mu’jam al-Kabir, Sunan al-Nasa’i, Musnad al-Syamiyin, al-Ahad wa al-Matsani, Tarikh Dimasyq, dan lain sebagainya. Seluruhnya diriwayatkan melalui tiga rangkaian sanad, dari al-Walid bin ‘Abdurrahman, dari Jubair bin Nufair, dari Salamah bin Nufail dan dari Nabi SAW. Baik al-Walid maupun Jubair tercatat adalah dua orang perawi yang tsiqah. Namun tidak dengan Salamah bin Nufail.

Tidak ada kesepakatan terkait biografi Salamah bin Nufail, Abu Hatim dan al-Bukhari menyebut bahwa dia pernah menemani Nabi (red. Lahu suhbah), dari redaksi ini tampak ada keraguan atau ketidak pastian terkait kebenaran bahwa dia adalah sahabat Nabi yang dihukumi adil. Dalam Sunan al-Nasa’i disebutkan bahwa dia tidak meriwayatkan hadis kecuali satu, hadis yang dimaksud adalah inni ghair labitsin fikum illa qalill (saya tidak tinggal bersama kalian kecuali sebentar). Di dalam al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah, Ibn Hajar menyebutkan bahwa Salamah pernah tinggal di Hamsh, salah satu daerah di Syam.

Karena alasan di atas, Syekh al-Idlibi menganggap bahwa tidak ada kesepakatan secara mutawatir bahwa Salamah bin Nufail adalah sahabat Nabi, tidak ada berita yang santer baik itu melalui istifadhah, syuhrah atau melalui kabar para sahabat lain yang menyebutkan bahwa dia adalah sahabat Nabi. Kabar yang mencuat terkait posisinya sebagai sahabat Nabi tidaklah muncul kecuali dari dirinya sendiri yang meriwayatkan hadis tersebut di atas, bahwa dia pernah bersama-sama Nabi dan sahabat Nabi lainnya.

Hal ini tentu saja tidak bisa diterima kecuali keadilannya sudah teruji sebelum kabar tersebut muncul, juga tidak ada ulama yang memberikan komentar terkait keadalahannya. Ini membuktikan bahwa Salamah bukanlah sahabat Nabi yang telah pasti dianggap adil oleh mayoritas ulama. Karena alasan tersebut, maka Syekh al-Idlibi menganggap bahwa hadis di atas dianggap memiliki sanad yang lemah, dan bisa jadi hadis tersebut tidak benar berasal dari Nabi Muhammad SAW.

Bagaimana Cara Memahami Hadis Ini

Hadis bahwa Syam adalah bagian terbaik bagi rumah orang-orang beriman di atas memiliki konteks pembicaraannya tersendiri. Dalam al-Nihayah fi Gharib al-Hadits wa al-Atsar disebutkan bahwa hadis di atas berkaitan erat dengan fitnah yang akan melanda umat Islam di kemudian hari. Saat itu, tidak ada tempat lain yang lebih aman bagi umat Islam kecuali Syam, karena alasan itu maka tepat dikatakan bahwa rumah terbaik umat Islam adalah Syam.

Di masa Ibn Taimiyyah (w. 728 H) tentara Tartar (Mongol) melakukan ekspansi militernya ke seluruh pelosok negeri, termasuk ke seluruh Negara-negara Islam. Hadis-hadis Syam dan terutama hadis di atas menjadi andalan Ibn Taimiyyah untuk mensupport umat Islam saat itu, tujuannya agar mereka tidak melarikan diri dari Damaskus ke Mesir. Hadis di atas juga digunakan olehnya untuk meminta tentara-tentara Mesir agar mau datang memberikan bantuannya kepada Syam. Dengan hadis-hadis Syam tersebut orang-orang Syam akhirnya mau tetap tinggal di tempat mereka sendiri. Dan terjadilah koalisi antara tentara Syam dan Mesir.

Benarlah janji Allah, tentara Tartar akhirnya dapat ditaklukkan dan dipukul mundur. Tentara Tartar akhirnya dikalahkan dan mereka tidak mampu lagi mengalahkan umat Islam. Peristiwa yang diceritakan oleh Ibn Taimiyyah dalam Majmu’ al-Fatawanya adalah perang besar yang dikenal dengan perang Syaqhab pada tahun 702 H. tepatnya pada bulan Ramadhan, dalam perang tersebut, koalisi antara tentara Mesir dan Syam akhirnya mampu mengalahkan tentara Tartar. Perang saat itu dipimpin oleh al-Malik al-Nashir al-Qalawun.

Jika benar apa yang diklaim oleh Ibn Taimiyyah, maka hadis yang dimaksud oleh Nabi Muhammad SAW tidak lagi berarti selamanya, akan tetapi hanya sampai ketika Syam menjadi satu-satunya tempat teraman yang ada dibandingkan dengan tempat-tempat yang lain di dunia Islam. Hadis tersebut dengan demikian bersifat temporal dan sesaat ketika benteng terkuat umat Islam saat itu adalah Syam. Dipahami demikian karena ketika Syam sudah tidak lagi menjadi rumah terbaik, teraman, dan yang paling menentramkan, maka hadis di atas tidak lagi relevan dan kurang tepat untuk diketengahkan.

Itu adalah sepenggal kisah dari Syam, momen terbaik yang dimiliki Syam, namun dibalik itu, banyak sekali situasi yang tidak memihak Syam bahkan sampai sekarang, lantas apakah tepat kemudian Syam disebut sebagai ‘uqr dar al-mu’minin?

Berdasarkan situs www.warsintheworld.com benua-benua di seluruh dunia terindikasi tengah mengalami konflik hingga saat ini  (on going conflict). Dari 6 benua, yang paling banyak tertimpa konflik adalah Timur Tengah, dengan 7 negara yang terlibat konflik dan 254 kasus yang terjadi. Konflik ini melibatkan militan garis keras, teroris, separatis dan kelompok-kelompok garis keras lainnya. Disusul dengan benua Afrika dengan 29 negara dan 241 kasus. Sedangkan benua yang paling sedikit mengalami konflik adalah benua Amerika dengan 6 negara terindikasi konflik dan  21 kasus yang terjadi. Berbeda dengan beberapa Negara lainnya, benua Amerika juga tengah dihadapkan dengan kartel narkoba.

Konflik yang paling banyak mendera Timur Tengah justru terjadi di Suriah dengan 120 titik konflik, yang secara umum merupakan perang saudara (civil war), dilanjutkan dengan Irak dengan 51 titik konflik, Paletina dengan 46 titik konflik, yang sampai saat ini berurusan dengan Israel, Lebanon 12 titik konflik, dan Yaman dengan 18 titik konflik. Dari beberapa negara bagian Syam terdahulu, hanya Yordania yang tidak terindikasi mengalami konflik.

Oleh sebab itu penting untuk memahami hadis di atas sesuai dengan konteks yang sedang dibawakan. Hal ini ditentu saja jika diterima bahwa hadis di atas dianggap shahih sebagaimana yang diutarakan oleh al-Albani, namun jika dipahami bahwa hadis di atas bukanlah hadis shahih, melainkan hadis dhaif sebagaimana kritik yang dilontarkan oleh Syekh al-Idlibi di atas, maka tidaklah perlu ada keyakinan yang kuat bahwa Syam adalah bagian terbaik dari rumah orang-orang beriman.

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here