Menyoal Hadis yang Hilang karena Kekeliruan Penerbit

0
69

BincangSyariah.Com – Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa satu karya tulisan bisa diterbitkan di banyak penerbit. Misalnya, kitab Shahih al-Bukhari karya dari Muhammad bin Isma’il al-Bukhari (w. 256 H) diterbitkan oleh beberapa penerbit, seperti Dar al-Fikr, Dar al-Hadis, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Dar Ibn al-Jauzi dan lain sebagainya.

Meskipun memiliki naskah yang sama, masing-masing penerbit kadangkala mempunyai kekurangan tersendiri, entah dari segi layout-nya, kertasnya, atau dari segi isinya, seperti adanya halaman yang kosong, terlongkap, atau kalimat yang hilang.

Jika karyanya adalah di bidang umum, mungkin kita bisa lebih santai menyikapi tiap kekurangan tersebut. Namun, jika itu di bidang agama, apakah sama cara menyikapinya?

Sebenarnya, pada tahun 2015 lalu, PT Suara Agung pernah melakukan kekeliruan cetakan al-Qur’an. Kekeliruannya adalah penempatan isi pada halaman 113-117, di mana surah al-Maidah ayat 51-57 seharusnya berada di halaman 117, namun tercetak pada halaman 113.

Mengetahui kekeliruan tersebut, Kementrian Agama dengan sigap mengirimkan surat teguran kepada PT Suara Agung. Mereka diminta untuk menghentikan pendistribusian dan menarik kembali 400 eksemplar yang sudah terdistribusikan. Pada akhirnya, tercatat sebanyak 5.480 eksemplar dimusnahkan.

Kemudian, timbul sebuah pertanyaan lagi, “Itu kan kasusnya dalam kitab suci, al-Qur’an, yang merupakan firman Tuhan dan bersifat Qath’i al-Wurud, diriwayatkan secara Mutawatir, baik secara lafaz maupun makna. Lalu, bagaimana halnya dengan hadis? Mengingat hadis memiliki kriteria berbeda dengan al-Qur’an?”

Jika sekelas al-Qur’an saja terjadi kekeliruan, apalagi hadis yang jumlahnya ribuan dan berjilid-jilid, maka kemungkinan keliru sangatlah besar. Misalnya, dalam Sunan al-Nasa’i pada hadis nomor 463 yang berbunyi:

أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَرْبٍ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَبِيعَةَ ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ ، عَنْ جَابِرٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لَيْسَ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ إِلاَّ تَرْكُ الصَّلاَةِ.

Baca Juga :  Menemukan Uang di Jalan, Apakah Wajib Diumumkan?

Riwayat dari Jabir r.a., Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada perbedaan antara seorang hamba (muslim) dengan orang kafir, selain dalam perkara meninggalkan shalat.”

Dalam terbitan Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, hadis di atas tidaklah ditemukan. Namun sebaliknya, justru ditemukan dalam terbitan-terbitan lain, seperti Dar al-Hadis, Dar al-Fikr dan lainnya.

Dalam kasus seperti ini, haruskah diperlakukan sama seperti kasus al-Qur’an yang harus dimusnahkan?

Jawaban atas permasalahan ini tentu sangat sulit kita temukan, sebab tidak ada ulama yang secara khusus menyinggung persoalan ini.

Jika dalam persoalan pemusnahan al-Qur’an yang keliru, pihak Kementrian Agama merujuk pada peristiwa pemusnahan al-Qur’an di era Khalifah Utsman guna meminimalisir konflik saudara. Namun, dalam persoalan hadis yang hilang dalam salah satu terbitan, kita tidak menemukan bagaimana sikap orang-orang terdahulu maupun orang-orang sekarang, atau minimal ada orang yang mengangkat permasalahan ini ke ranah yang lebih serius.

Namun paling tidak, ada tokoh yang sekiranya mengisyaratkan sikap terhadap kasus semacam ini, yaitu Mahmud Thahhan dalam karyanya Ushul al-Takhrij wa Dirasah al-Asanid, ia berkata ketika mengomentari kitab hadis Musnad al-Humaidi:

وقد طبع الكتاب، ونشره المجلس العلميّ بالباكستان، وحققه وعلّق عليه فضيلة الأستاذ الشيخ حبيب الرحمن الأعظمي -جزاه الله خيرا، ورحمه الله تعالى-، وقد عُني بتحقيقه، والتعليق عليه عناية جيدة. لكن ظهرت في الطبعة أغلاط، وسقطات كثيرة.

Kitab ini (Musnad al-Humaidi) telah dicetak dan diterbitkan oleh al-Majlis al-‘Ilmi di Pakistan, serta telah ditakhqiq dan dita’liq oleh Syeikh Habib al-Rahman al-A’zhami. Namun setelah diamati, ternyata cetakan tersebut terdapat kekeliruan dan banyak muatan yang hilang.

Di kesempatan lain, pernyataannya semakin tegas yang menunjukkan sikap terhadap kasus ini, ia berkata ketika mengomentari kitab takhrij hadis, Nasb al-Rayah li Ahadits al-Hidayah:

وقد طبع الكتاب طبعتين، كانت الأولى في الهند في أوائل هذا القرن الهجري. لكن هذا الطبعة كانت مشحونة بالأغلاط في الأسانيد والمتون، وفيها تصحيف وسقط بحيث لا يمكن الاعتماد عليها. وكانت الطبعة الثانية بالقاهرة تحت إشراف وتصحيح إدارة المجلس العلمي بالباكستان، وذلك سنة 1357 ه – 1938 م بطبعة دار المأمون، وهي طبعة جيدة محققة في أربعة مجلدات.

Baca Juga :  Ngaji Gus Baha: Bukan Hak Manusia Mengutuk Kesalahan Orang Lain dengan Dosa dan Siksaan Allah

Kitab ini telah diterbitkan oleh 2 penerbit: (1) Diterbitkan di India. Tetapi terbitan tersebut masih memuat kekeliruan, baik dari segi sanad maupun matan. Di dalamnya juga terdapat kesalahan titik, syakal dan muatan yang hilang, yang tidak memungkinkan dijadikan pegangan. (2)Diterbitkan di Kairo dan telah dikoreksi oleh dewan al-Majlis al-‘Ilmi di Pakistan pada tahun 1367 H/1938 M dengan penerbit Dar al-Ma’mun. Ini merupakan terbitan yang layak dan berjumlah 4 jilid.

Pada kasus semacam ini, Mahmud Thahhan cenderung mentolerir terbitan-terbitan hadis yang mengandung kekeliruan dan banyak muatan yang hilang. Ini terlihat dari pandangannya ketika membandingkan cetakan India dan Kairo. Ia terkesan hanya “tidak merekomendasikan” terbitan-terbitan yang mengandung hal-hal tersebut.

Pandangan Mahmud Thahhan ini mungkin bisa dijadikan rujukan untuk menyikapi kesalahan dalam terbitan. Akan tetapi, tindakan-tindakan yang lebih dari sekedar “tidak merekomendasikan” juga perlu dilakukan, sebagai teguran untuk pihak penerbit, mengingat karya yang mereka terbitkan merupakan karya yang dijadikan pedoman umat Islam setelah al-Qur’an.

Permasalahan dalam terbitan hadis juga selayaknya diperhatikan sebagaimana perhatian kita terhadap al-Qur’an, karena boleh jadi kekeliruan-kekeliruan itu bisa merubah makna hadisnya atau boleh jadi hadis-hadis yang hilang merupakan hadis-hadis yang dinilai krusial, seperti menghapus hukum sebelumnya, dasar keimanan dan lain sebagainya.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here