Hadis-Hadis Rasulullah tentang Sikap Optimis

0
69

BincangSyariah.Com – Rasulullah sangat memuji sikap optimis. Kamus Besar Bahasa Indonesia, memiliki makna optimis dengan orang yang selalu berpengharapan (berpandangan) baik dalam menghadapi segala hal. Dalam bahasa Arab sendiri, sikap optimis, atau selalu berpandangan positif terhadap apa yang sedang, sudah, atau akan terjadi, dinamai dengan al-fa’l atau at-tafa’ul. Dalam bahasa Arab, lawan dari at-tafa’ul adalah as-syu’m atau at-Tasyaa’um, yaitu pesimis.

Dalam Islam, al-fa’l atau optimis yang dimaksud adalah berprasangka baik segala yang terjadi seluruhnya merupakan bagian dari takdir Allah. Itu sebabnya dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Ra., Nabi Saw. mempertentangkan sikap al-fa’l dengan menentukan nasib dengan ramalan (at-thiyarah), sebuah tradisi jahiliyah yang menentukan nasib baik sebelum memulai perjalanan dengan melihat kemana arah burung pergi. Jika ke kanan berarti perjalanan bakal baik, jika ke kiri, bakal buruk.

قال النبي صلى الله عليه وسلم: لا طيرة وخيرها الفأل. قالوا: وما الفأل يا رسول الله ؟ قال: الكلمة الصالحة يسمعها أحدكم

Nabi Saw. bersabda: “tidak ada thiyarah dan yang terbaik adalah al-fa’l. Para sahabat bertanya, al-Fa’l itu apa wahai Rasul? Rasulullah Saw. bersabda: “kata yang baik yang salah seorang kalian perdengarkan.”

Bersikap optimis masuk ke dalam ruang lingkup keyakinan bahwa segala sesuatu ini merupakan bagian dari takdir Allah. Dan, takdir yang telah Allah tetapkan adalah bagian dari kasih sayang Allah Swt. kepada seantero makhluk-Nya. Inti dari sikap optimis Rasulullah Saw. juga diwujudkan dalam hal-hal yang sangat sederhana, tapi Rasulullah Saw. mengajarkan pentingnya menunjukkan sikap positif dalam segala sisi kehidupan. Dalam berbagai kesempatan, bahkan Rasulullah Saw. menunjukkan sikap positif dan optimis, misalnya ketika ingin pergi ke suatu tempat atau menemui seseorang, dengan mendengar namanya. Ini digambarkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dari Buraidah ra.,

Baca Juga :  Fragmen Gus Baha: Agar Kembali Sadar Dahsyatnya Mukjizat Nabi Muhammad

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يتطير من شيء، ولكنه إذا أراد أن يأتي أرضا سأل عن اسمها فإن كان حسنا رؤي ذلك في وجهه. وكان إذا بعث رجلا سأل عن اسمه فإن كان حسن الاسم رئي البشر في وجهه، وإن كان قبيحا رئي ذلك في وجهه

Rasulullah Saw. itu tidak pernah meramal nasib sedikitpun. Tetapi jika ia ingin mendatangi suatu tempat, dia bertanya apa nama tempat itu. Jika nama tempat itu baik, ekspresi (kesenangannya) terlihat di wajahnya. Jika nama tempat itu buruk, eskpresi (ketidaksukaan juga) terlihat di wajahnya (H.R. Ahmad)

Bahkan, ekspresi kesenangan beliau terhadap sesuatu yang bersifat optimisitik atau aura positif juga tergambar dari cara beliau menyikapi nama seseorang. Ini digambarkan dalam sebuah riwayat yang dikisahkan oleh Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab Miftah Dar as-Sa’adah. Riwayat tersebut bersumber dari Ibn ‘Abd al-Bar dari Ya’isy al-Ghifari,

دعا النبي صلى الله عليه و سلم يوما بناقة فقال من يحلبها فقام رجل فقال أنا،

فقال ما اسمك؟

قال مرة،

قال اقعد،

ثم قام آخر فقال ما اسمك؟

قال جمرة

قال اقعد،

ثم قام رجل فقال ما اسمك؟

قال يعيش قال احلبها

Suatu hari Rasulullah Saw. meminta seseorang untuk memeras susu dari seekor unta. Rasulullah bertanya: “siapa yang memerasnya?”Ada yang menjawab: “Saya wahai Rasulullah.”

Rasulullah bertanya: “namamu?”

Laki-laki itu menjawab: “Murrah (masam)”

Rasulullah menjawab: “duduk saja (kalau begitu).”

Lalu yang lain mengajukan diri. Rasulullah kembali bertanya : « namamu ? »

Rasulullah bertanya: “namamu?”

Laki-laki itu menjawab: “Jamrah (bara api)”

Rasulullah menjawab: “duduk saja (kalau begitu).”

Lalu yang lain mengajukan diri. Rasulullah kembali bertanya : « namamu ? »

Laki-laki ketiga menjawab : « Ya’iisy »

Rasulullah Saw. pun menjawab : “silahkan peras susu unta ini!”

Optimis adalah bagian dari sikap berbaik sangka kepada Allah. Ini seperti dikatakan oleh Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari, “Nabi Saw. senantiasa senang dengan sikap optimis, karena sikap pesimis sesungguhnya adalah perwujudan berburuk sangka kepada Allah tanpa ada sebab yang jelas. Sementara optimis adalah sikap berbaik sangka kepada-Nya, dan manusia diperintahkan untuk berbaik sangka.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here