Bincangsyariah.com- Perbedaan rupanya masih menjadi persoalan yang tiada hentinya dibincangkan oleh kaum muslimin Indonesia. Dari tahun ke tahun, perbedaan pendapat tentang penentuan awal Ramadan selalu terjadi. Polemik yang cenderung panas senantiasa mewarnai kedatangan bulan mulia ini. Di tengah situasi yang demikian, media mengambil bagian dengan menghadirkan ‘cekcok tahunan’ umat Islam itu ke tengah publik. Seakan-akan perdebatan itu menunjukkan ketidak-kompakan umat Islam dalam memahami ajaran agamanya. Atau yang lebih parah lagi, bahwa ajaran Islam memang kontradiktif pada dirinya sendiri. Dalam hal ini, perbedaan itu telah menjadi momok yang selalu menghantui masyarakat.[1]

Banyak pertanyaan yang diajukan tentang problematika seputar awal Ramadan ini. Di antaranya mengapa bisa terjadi perbedaan semacam itu? Apa dasar masing-masing kelompok? Dan adakah dasar-dasar itu absah dijadikan sebagai landasan hukum agama? Polemik itu sering kali berujung pada saling caci antar kelompok-organisasi. Inilah ironi yang dihadapi kaum muslimin saat ini.

Dalam sidang Itsbat Awal Ramadan tahun 2011, sebagian orang mensinyalir adanya dua hadis yang memiliki pengertian berbeda sehingga wajarlah jika pada praktiknya terjadi perbedaan. Padahal ada di luar sana sekelompok umat Islam yang telah puasa, kemudian berlebaran terlebih dahulu. Mereka mendasarkan praktiknya pada otoritas lain selain yang dipedomani oleh banyak orang. Di antaranya mereka menggunakan ilham dari guru tarekat dan tanda-tanda alam seperti ketinggian gelombang laut. Dari sini terlihat bahwa permasalah perbedaan menentukan awal Ramadan cukup kompleks.

Dalam makalah ini, akan disajikan alur dan sumber perdebatan [awal] tentang masalah tersebut. Dimulai dengan dasar kewajiban puasa dan cara-cara menentukan waktu berpuasa [Ramadan], di mana pada akhirnya kajian akan difokuskan pada hadis-hadis yang menjadi dasar penentuan awal Ramadan dan metode pemahaman yang dapat digunakan. Hal ini dilakukan untuk melihat sejauh mana Nabi mengajarkan cara menentukan awal bulan. Bukankah petunjuk Nabi selalu dinantikan umatnya? Hal ini dilatarberlakangi oleh beragamnya metode penentuan awal bulan yang dipakai umat Islam saat ini. Mulai dari rukyatul hilal [1], rukyah bil fa’li [2], rukyah bil ilmi [3], imkaniyyaturru‘yah [4], ikmal [5], hisab [6], tanda-tanda alam [7], hingga ilham-dzauqi seorang syaikh tarekat [8].

Kajian semacam ini sudah banyak dilakukan. Karenanya, makalah yang merupakan penelitian kecil penulis ini, dimaksudkan untuk menelaah ulang berbagai perspektif tersebut. Sebelumnya penulis akan menyuguhkan beberapa hadis yang berkaitan dengan penentuan waktu puasa, kemudian memfokuskannya pada salah satu riwayat. Penulis menggunakan bantuan kitab kamus Hadis yang bercorak maudhu’I-tematik, Kanz al-Ummāl fi Sunan al-Aqwāl wa al-Af’āl, untuk kemudian dilakukan penelusuran pada sumber-sumber hadis yang otoritatif. Memperbandingkannya dan menemukan perbedaan yang terdapat di dalamnya. Sehingga dapat diketahui sumber perbedaan dan apakah perbedaan itu mempunyai rujukan hadisnya.

 

 

Dasar Kewajiban Puasa Ramadan

Sudah dimaklumi bersama bahwa puasa Ramadan merupakan kewajiban agama yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Seluruh kaum muslimin, dari generasi paling awal hingga sekarang, meyakini bahwa puasa Ramadan hukumnya wajib. Dasar utama dari kewajiban ini adalah QS. al-Baqarah [2] 183, di mana Allah swt. berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183)

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.[2]

Menurut al-Qurthubi, ayat ini menjadi dalil bagi wajibnya puasa. Ia menambahkan bahwa tidak ada perbedaan pendapat tentang kewajiban tersebut [la khilāfa fihi].[3] Pertanyaanya kemudian, puasa yang manakah yang dimaksud oleh ayat di atas? Berapa lama dan kapan waktu pengerjaannya? Penjelasannya dapat kita peroleh dari ayat setelahnya, selain dari penegasan dan praktik Nabi saw. Allah berfirman dalam QS. al-Baqarah [2]: 184

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (184

(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (185)

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Dengan tegas ayat di atas menyebutkan bahwa puasa yang wajib itu dilakukan selama beberapa hari yang dapat dihitung. Tepatnya satu bulan. Dan satu bulan itu pada bulan Ramadan. Orang yang hadir [hidup] atau menjumpai bulan tersebut, dia harus berpuasa. Hanya saja ayat di atas tidak menjelaskan bagaimana cara menentukan bulan Ramadan. Ayat di atas hanya menyebutkan keharusan berpuasa bagi orang yang hadir [hidup] pada saat kedatangan bulan wajib puasa itu.

Dalam hal ini, kita perlu merujuk kepada petunjuk Nabi yang telah terkodifikasikan dalam kitab-kitab Hadis. Di mana beliau mengajarkan melalui sabda dan praktik langsungnya. Dalam menjelaskan waktu puasa, Nabi tidak menggunakan cara-cara yang rumit dan canggih. Sebaliknya, beliau menggunakan metode yang telah banyak dikenal saat itu. Hal ini tentu saja relevan dengan kondisi masyarakat di mana beliau hidup, yang membutuhkan cara-cara praktis dan mudah. Di antaranya seperti dapat dilihat dalam hadis riwayat al-Bukhari berikut ini:

1913- حَدَّثَنَا آدَمُ ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ، حَدَّثَنَا الأَسْوَدُ بْنُ قَيْسٍ ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَمْرٍو أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لاَ نَكْتُبُ ، وَلاَ نَحْسُبُ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا يَعْنِي مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِينَ وَمَرَّةً ثَلاَثِينَ.

“Kami adalah bangsa ummi, tidak menulis dan tidak menghitung. Satu bulan adalah seperti ini dan seperti ini.” Nabi bermaksud menyebut angka dua puluh sembilan untuk yang pertama, dan tiga puluh untuk yang kedua.[4]

Hadis yang juga diriwayat oleh Muslim, Abu Dawud, al-Nasa‘I dan Ahmad di atas menggambarkan bahwa masyarakat Arab tidak banyak yang mengenal tradisi tulis-menulis dan sistem penghitungan yang rumit. Sekalipun ada, itu hanya sedikit orang yang mampu melakukannya. Dalam konteks ini, Nabi mengajarkan dengan cara yang cukup praktis bahwa satu bulan itu adakalanya 29 hari dan adakalanya 30 hari. Hadis di atas merupakan hadis musalsal di mana para perawi juga menggunakan isyarat tubuh ketika meriwayatkannya. Ini menunjukkan bahwa yang dikehendaki satu bulan dalam ayat di atas adalah antara 29 atau 30 hari.

Selain itu, Nabi juga pernah memerintahkan sahabatnya menghitung bulan Sya’ban untuk menyambut Ramadan:

2176- حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْبَخْتَرِيِّ ، حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْخَلِيلِ ، حَدَّثَنَا الْوَاقِدِيُّ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ مُسْلِمٍ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ حَنْظَلَةَ بْنَ عَلِيٍّ الأَسْلَمِيِّ عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَحْصُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ لِرَمَضَانَ ، وَلاَ تَقَدَّمُوا الشَّهْرَ بِصَوْمٍ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلاَثِينَ يَوْمًا ، ثُمَّ أَفْطِرُوا فَإِنَّ الشَّهْرَ هَكَذَا ، وَهَكَذَا وَهَكَذَا وَخَنَسَ إِبْهَامَهُ فِي الثَّالِثَةِ الْوَاقِدِيُّ لَيْسَ بِالْقَوِيِّ

“Hitunglah bilangan Sya’ban untuk menyambut Ramadan. Jangan dahului bulan Ramadan dengan puasa sehari. Jika kalian melihat [hilal] bulan Ramadan, puasalah. Ketika kalian melihat bulan [Syawal], berbukalah. Bila kalian ditutupi mendung, maka sempurnakan bilangan bulan tiga puluh hari. Kemudian berbukalah. Sesungguhnya satu bulan itu seperti ini, dan seperti ini, dan seperti ini.” Beliau menyembunyikan ibu jarinya pada urutan ketiga kali. Al-Waqidi bukan orang yang kuat.[5]  

Hadis di atas diriwayatkan al-Daruquthni dalam kitab Sunan-nya. Seperti disebutkannya sendiri bahwa hadis ini terbilang lemah karena terdapat rawi yang bernama al-Waqidi. Al-Daruquthni menyebutnya sebagai laisa bi al-qawiy [bukan orang yang kuat]. Menurut Nuruddin al-Itr, dalam urutan redaksi jarh,  laisa bi al-qawiy tergolong pada tingkatan pertama. Artinya tingkatan keburukannya paling ringan [ashal marātib al-jarh]. Mengutip al-Sakhawi, al-Itr menjelaskan bahwa rawi yang mendapat label ini berarti hadisnya masih boleh diriwayatkan untuk dicarikan hadis-hadis penguat [yu’tabar haditsuhu].[6] Maksudnya, hadis di atas dapat diterima sebagai hujjah jika ditemukan hadis lain semakna yang dapat menguatkannya.[7]

Dalam kesempatan lain, Nabi mengingatkan bahwa penetuan awal bulan adalah berdasar hilal. Seperti diriwayatkan oleh al-Daruquthni di bawah ini:

Baca Juga :  Jihad Bukan hanya Perang

2175- حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ ، حَدَّثَنَا لُوَيْنٌ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَابِرٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم جَعَلَ اللَّهُ الأَهِلَّةَ مَوَاقِيتَ لِلنَّاسِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَتِمُّوا الْعِدَّةَ ثَلاَثِينَ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ جَابِرٍ سَمِعْتُ هَذَا مِنْهُ وَحَدِيثَيْنِ آخَرَيْنِ مُحَمَّدُ بْنُ جَابِرٍ لَيْسَ بِالْقَوِيِّ

Allah menciptakan hilal-bulan sabit sebagai penentu waktu bagi manusia. Jika kalian telah melihatnya, maka puasalah. Jika kalian telah melihatnya, berbukalah. Jika kalian terhalang mendung, sempurnakan bilangan tiga puluh hari.

Hadis di atas menegaskan bahwa Allah menciptakan hilal dengan maksud agar umat manusia menjadikannya sebagai standar penentuan waktu. Permulaan dan keberakhiran sebagian ritual peribadatan umat Islam ditentukan kemuncul-tenggelaman hilal. Secara praktik, Nabi sangat memperhatikan penanggalan-hilal ini. seperti diriwayatkan dari Aisyah:

2327 – حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ حَدَّثَنِى عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِىٍّ حَدَّثَنِى مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى قَيْسٍ قَالَ سَمِعْتُ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – تَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَتَحَفَّظُ مِنْ شَعْبَانَ مَا لاَ يَتَحَفَّظُ مِنْ غَيْرِهِ ثُمَّ يَصُومُ لِرُؤْيَةِ رَمَضَانَ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْهِ عَدَّ ثَلاَثِينَ يَوْمًا ثُمَّ صَامَ.

Aisyah berkata bahwa Rasulullah saw. memberi perhatian lebih pada bulan Sya’an melebihi bulan lain. Kemudian beliau berpuasa ketika telah melihat hilal Ramadan. Ketika tertutup mendung, maka beliau menyempurnakan tiga puluh hari. Kemudian berpuasa.[8]

Beberapa hadis dikutip di atas menunjukkan bahwa penentuan awal bulan didasarkan kepada fenomena hilal. Kewajiban puasa tergantung pada fenomena ini. Karenanya, tidak heran jika pada akhirnya hilal menjadi rebutan di antara berbagai macam aliran pemikiran hukum Islam. Ia seperti seorang artis yang selalu diperbincangkan, diperdebatkan dan diperebutkan sensasinya oleh infotainmen tiap tahunnya.

Kata hilal seakar dengan kata kerja ahalla yang berarti zhahara, penampakan. Sedangkan hilal sendiri berarti bulan yang sedang pada kondisi tertentu [kecil]. al-Azhari, seorang pakar bahasa klasik mengatakan bahwa bulan yang berada pada dua hari pertama dalam setiap bulan disebut hilal. Begitu pula pada tanggal dua puluh enam dan dua puluh tujuh. Dalam bahasa Arab, bulan pada tanggal selain empat hari tersebut disebut qamar.[9]

Hilal: Penentu Awal Bulan yang Sulit Dicari…

Seperti telah diulas sebelumnya bahwa penentuan awal bulan didasarkan kepada penampakan hilal. Ala‘uddin Ali bin Hisamuddin al-Muttaqi al-Hindi al-Burhanfuri [w. 975 H.] dalam kamus hadisnya Kanz al-Ummāl fi Sunan al-Aqwāl wa al-Af’āl menyebutkan 42 hadis yang memuat informasi tentang waktu puasa. Seluruhnya berkaitan dengan hilal. Secara khusus, sebagian di antaranya menyoroti tentang kemungkinan tidak terlihatnya hilal karena tertutup mendung [al-ghaim]. Seluruh riwayat menyebutkan bila hilal tidak terlihat maka diharuskan ikmāl, qadr atau itmām.[10] Mengapa terjadi perbedaan redaksi? Apakah masing-masing redaksi mempunyai pengertian yang sama? Jika tidak, apakah implikasi hukumnya? Dan manakah riwayat yang paling shahih di antara riwayat-riwayat tersebut? Jika seluruhnya shahih, dan asumsi yang menyatakan pengertian tiga redaksi di atas berbeda, maka telah terjadi ikhtilāf al-Hadīts. Jika terjadi ikhtilaf, penyelesaian seperti apa yang akan diambil? Demikian rangkaian pertanyaatan yang menjadi pra-pemahaman dalam kajian ini.

Kanz al-Ummāl delapan orang yang berbeda pada level sahabat yang dalam daftar hadisnya terdapat redaksi fa in ghumma. Mereka adalah [1] Abu Hurairah, [2] Jabir, [3] Hudzaifah, [4] Thalq bin Ali, [5] Ibnu Umar, [6] Ibnu Abbas, [7] al-Bara’ dan  [8] Abu Bakrah.[11] Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menyebutkan sepuluh orang. Yakni delapan orang di atas selain al-Bara’ dan Abu Bakrah, ditambah Aisyah, Rafi’ bin Khudaij, Sa’d bin Abi Waqqash, Ammar bin Yasir.[12] Hadis-hadis mereka tersebar dalam sembilan kitab induk hadis yang menjadi rujukan dalam kamus Mu’jam Mufahras Li Alfāzh al-Hadits. Mulai dari [1] Shahih al-Bukhāri, [2] Shahih Muslim, [3] Sunan Abi Dāwud, [4] Sunan al-Tirmidzi, [5] Sunan al-Nasā’I, [6] Sunan Ibnu Mājah, [7] Musnad al-Dārimi, [8] Muwattha’ Mālik dan [9] Musnad Ahmad. Inilah data yang penulis peroleh dari Mu’jam Mufahras.

Data lokasi Hadis Hilal Tertutup Mendung[13]

No.RumusJudul BukuKitabNomor Urut
BabHadisJuzHalaman
01.خShahih al-Bukhariصوم5
02.مShahih Muslimصيام6-9, 18
03.دSunan Abi Dawudصوم4, 6, 7
04.تSunan al-Tirmidziصوم2
05.نSunan al-Nasa‘iصيام9-13, 17
06.جهSunan Ibni Majahصيام7
07.ديMusnad al-Darimiصوم2, 5
08.طMuwattha’ Malikصيام1, 2, 3
09.حمMusnad Ahmad25, 13, 63, 145, 259, 263, 281, 287, 415, 422, 430, 438, 454, 469, 497,
3229
423, 321

 

542

 

6149

Dengan menggunakan shoftwer Maktabah Syamilah, penulis menemukan hadis tentang hilal yang tertutup mendung juga dicantumkan dalam Shahih Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Hibbān, Musnad al-Bazzār, Musnad al-Thayālisi, Musnad Abi Ya’la, Sunan al-Dāruquthni, Sunan al-Kubrā al-Baihaqi, Mustadrak al-Hākim dan Mu’jam al-Kabir al-Thabrāni.

Sekalipun seluruhnya berkaitan dengan hilal yang tertutup mendung, hadis-hadis tersebut mempunyai beberapa variasi. Sebagian didahului oleh penyebutan jumlah bilangan hari dalam satu bulan (29-30), perintah Nabi untuk menghitung Sya’ban, hikmah penciptaan hilal, dan larangan mendahului dengan berpuasa sehari atau dua hari, padahal belum masuk bulan Ramadan.  Di bawah ini penulis cantumkan ragam redaksi yang penulis temukan.

 

No.Redaksi HadisSahabatMukharrijKeterangan
01.1900- حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ ، قَالَ : حَدَّثَنِي اللَّيْثُ ، عَنْ عُقَيْلٍ ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ : أَخْبَرَنِي سَالِمٌ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا ، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ. وَقَالَ غَيْرُهُ : عَنِ اللَّيْثِ ، حَدَّثَنِي عُقَيْلٌ ، وَيُونُسُ “لِهِلاَلِ رَمَضَانَ”.Ibnu UmarAl-BukhariShahih, menggunakan redaksi faqdurū.
02.1906- حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْلَمَةَ ، عَنْ مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ : لاََ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ ، وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ.Ibnu UmarAl-BukhariShahih, faqdurū.
03.2551 – حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضى الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ذَكَرَ رَمَضَانَ فَضَرَبَ بِيَدَيْهِ فَقَالَ « الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا – ثُمَّ عَقَدَ إِبْهَامَهُ فِى الثَّالِثَةِ – فَصُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ أُغْمِىَ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ ثَلاَثِينَ ».Ibnu UmarMuslimShahih, didahului hitungan dan menggunakan redaksi faqdirū.
04.2556 – حَدَّثَنِى حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِى يُونُسُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ حَدَّثَنِى سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ – رضى الله عنهما – قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ ».Ibnu UmarMuslimShahih, menggunakan redaksi faqdirū.
05.2116 – أخبرني إبراهيم بن يعقوب قال حدثنا سعيد بن شبيب أبو عثمان وكان شيخا صالحا بطرسوس قال أنبأنا بن أبي زائدة عن حسين بن الحرث الجدلي عن عبد الرحمن بن زيد بن الخطاب : أنه خطب الناس في اليوم الذي يشك فيه فقال ألا إني جالست أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم وساءلتهم وأنهم حدثوني أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته وانسكوا لها فإن غم عليكم فأكملوا ثلاثين فإن شهد شاهدان فصوموا وأفطرواAbdurrahman bin Zaid bin al-Khatthab

 

 

 

 

 

 

 

Al-Nasa‘iShahih, didahului perintah dan menggunakan redaksi fakmilū.
06.684 – حدثنا أبو كريب حدثنا عبدة بن سليمان عن محمد بن عمرو عن أبي سلمة عن أبي هريرة : قال قال النبي صلى الله عليه و سلم لا تقدموا الشهر بيوم ولا بيومين إلا أن يوافق ذلك صوما كان يصومه أحدكم صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غم عليكم فعدوا ثلاثين ثم أفطروا قال وفي الباب عن بعض أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم

قال أبو عيسى حديث أبي هريرة حديث حسن صحيح والعمل على هذا عند أهل العلم كرهوا أن يتعجل الرجل بصيام قبل دخول شهر رمضان لمعنى رمضان وإن كان رجل يصوم صوما فوافق صيامه ذلك فلا بأس به عندهم

Abu HurairahAl-TirmidziShahih, didahului larangan dan menggunakan redaksi fa’uddū.
07.2322 – حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْعَتَكِىُّ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ فَلاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ ثَلاَثِينَ ». قَالَ فَكَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا كَانَ شَعْبَانُ تِسْعًا وَعِشْرِينَ نُظِرَ لَهُ فَإِنْ رُؤِىَ فَذَاكَ وَإِنْ لَمْ يُرَ وَلَمْ يَحُلْ دُونَ مَنْظَرِهِ سَحَابٌ وَلاَ قَتَرَةٌ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَإِنْ حَالَ دُونَ مَنْظَرِهِ سَحَابٌ أَوْ قَتَرَةٌ أَصْبَحَ صَائِمًا. قَالَ فَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يُفْطِرُ مَعَ النَّاسِ وَلاَ يَأْخُذُ بِهَذَا الْحِسَابِ.

 

Ibnu UmarAbu DawudShahih, didahului  hitungan bulan, menggunakan redaksi faqdurū.
08.1654- حَدَّثَنَا أَبُو مَرْوَانَ الْعُثْمَانِيُّ ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ : إِذَا رَأَيْتُمُ الْهِلاَلَ فَصُومُوا ، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ , فَصُومُوا ثَلاَثِينَ يَوْمًا.

 

Abu HurairahIbnu MajahShahih, didahului perintah, dan menggunakan redaksi fashūmū.
09.1655- حَدَّثَنَا أَبُو مَرْوَانَ مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ الْعُثْمَانِيُّ ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللهِ ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ : إِذَا رَأَيْتُمُ الْهِلاَلَ فَصُومُوا ، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ , فَاقْدُرُوا لَهُ. وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَصُومُ قَبْلَ الْهِلاَلِ بِيَوْمٍ.

 

Ibnu UmarIbnu MajahShahih, perintah puasa, menggunakan redaksi faqdurū.
10.4488 – حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا إسماعيل أنا أيوب عن نافع عن بن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : إنما الشهر تسع وعشرون فلا تصوموا حتى تروه ولا تفطروا حتى تروه فإن غم عليكم فاقدروا له قال نافع فكان عبد الله إذا مضى من شعبان تسع وعشرون يبعث من ينظر فإن رؤى فذاك وإن لم ير ولم يحل دون منظره سحاب ولا قتر أصبح مفطرا وإن حال دون منظره سحاب أو قتر أصبح صائما تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده صحيح على شرط الشيخينIbnu Umar

 

 

 

 

Ahmad bin HanbalShahih, didahului bilangan bulan, menggunakan redaksi faqdurū.
11.7851 – حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا محمد بن بشر ثنا عبيد الله بن عمر عن أبي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة قال : ذكر رسول الله صلى الله عليه و سلم الهلال قال إذا رأيتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا فإن غم عليكم فعدوا ثلاثين تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده صحيح على شرط الشيخينAbu HurairahAhmad bin HanbalShahih, didahului perintah, menggunakan redaksi fa’uddū.
12.9453 – حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا يحيى بن سعيد الأموي قال ثنا الحجاج عن عطاء عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غم عليكم الشهر فأكملوا العدة ثلاثين تعليق شعيب الأرنؤوط : صحيحAbu HurairahAhmad bin HanbalShahih, didahului perintah menggunakan redaksi fakmilū.
13.9652 – وبإسناده قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : لا تقدموا الشهر بيوم ولا يومين الا أن يوافق أحدكم صوما كان يصومه صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فان غم عليكم فأتموا ثلاثين يوما ثم أفطروا تعليق شعيب الأرنؤوط : صحيح وهذا إسناد حسنAbu Hurairah

 

 

 

 

 

 

 

Ahmad bin HanbalShahih, didahului larangan puasa, kecuali bagi orang yang sudah punya kebiasaan, dan menggunakan redaksi atimmū.
14.630 – حدثني يحيى عن مالك عن نافع عن عبد الله بن عمر :أن رسول الله صلى الله عليه و سلم ذكر رمضان فقال لا تصوموا حتى تروا الهلال ولا تفطروا حتى تروه فإن غم عليكم فاقدروا لهIbnu UmarMalikShahih, didahului larangan berpuasa sebelum melihat hilal, menggunakan redaksi faqdurū
15.1728- أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ سَعِيدٍ ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ , عَنْ عَمْرٍو ، يَعْنِي ابْنَ دِينَارٍ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرٍ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما أَنَّهُ عَجِبَ مِمَّنْ يَتَقَدَّمُ الشَّهْرَ ، وَيَقُولُ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلاَثِينَ يوما.Ibnu AbbasAl-DarimiShahih, didahului perintah dan menggunakan redaksi fakmilū.

Tabel di atas menunjukkan variasi riwayat tentang hilal tertutup mendung. Berdasarkan penilaian muhaqqiq-editor kitab, seluruh hadis di atas berstatus shahih. Karenanya, penulis mencukupkan pembahasan tentang kesasihan sampai di sini. Selanjutnya, penulis akan memfokuskan kajian pada perbedaan redaksi untuk mengukur sejauh mana perbedaan redaksi itu berpengaruh pada kemunculan ragam pemahaman tentang penentuan hilal.

Menitiktolakkan Permasalahan dari Perbedaan Tafsir Kata..

Menurut data yang tercantum dalam tabel, terdapat enam variasi redaksi; ikmilū, uqdurū, iqdirū, atimmū, fashūmū,dan’uddu. Apakah masing-masing kata memiliki perbedaan pengertian yang signifikan, sehingga layak dijadikan titik tolak perdebatan? Dari kelima belas riwayat yang dikutip dalam tabel, dan riwayat-riwayat lain yang ditemukan, tidak didapati sabab wurud yang melatari kemunculan sabda Nabi tentang penentuan awal bulan. Di sisi lain, riwayat-riwayat yang ada terbilang shahih. Karenanya, penulis bermaksud mengalihkan pembahasan kepada perbedaan redaksi itu sendiri.

Melihat variasi yang ada, bila kita berangkat dari level sahabat, maka dapat disimpulkan redaksi faqdurū atau faqdirū berasal dari sahabat Ibnu Umar. Hal ini ditemukan dalam riwayat al-Bukhari, Muslim, Malik, Ahmad, Ibnu Majah dan Abu Dawud. Terlihat konsistensi redaksi sekalipun terjadi pencabangan hingga pada level mukharrij. Sedangkan dari sahabat Abu Hurairah ditemukan tiga redaksi berbeda; fakmilū, fa atimmū, dan fa’uddū. Sekalipun demikian, karena kita sudah menerima kesahihan riwayat Abu Hurairah dalam referensi di atas, maka hal ini tidak dapat dijadikan sebagai sasaran kritik. Dalam pengertian lain, redaksi tadi telah dianggap valid. Bahkan bisa jadi berasal dari Nabi saw. Jika asumsi ini diterima, maka redaksi di atas layak dijadikan sebagai landasan bagi postulat hukum yang hendak dibangun.

Faqdurū  atau faqdirū merupakan bentuk kata perintah dari qadarayaqduru/qadara-yaqdiru. Akar katanya terdiri dari huruf qaf-dal-ra. Menurut Ibnu Faris, qadara, al-qadr dan al-qadar berarti puncak dan hakikat sesuatu (mablagh al-syai wa kunhih wa nihāyatih). Al-Qadru atau al-qadar yang diartikan takdir ialah keputusan Tuhan sesuai akhir-puncak yang dikehendaki-Nya. Wa man qudira ‘alaihi rizquh, (orang yang diberi rizki). Artinya orang yang hanya diberi rizki kadar sedikit.[14] Rajul dzu qudrah wa dzu miqdarah (lelaki kaya), artinya laki-laki yang dengan kekayaan dan kemudahan yang diperolehnya dapat terhantarkan kepada tujuan (mablagh) yang dikehendakinya. Begitu pula dengan arti ukuran, perkiraan, hitungan, jumlah dan kepastian yang menunjuk pada pengertian kuantitas suatu hakikat. Al-Nawawi menegaskan bahwa uqdurū yang dimaksud dalam hadis hilal tertutup mendung di atas ialah taqdīr, hitungan atau kepastian.[15]

Ibnu Hajar al-Asqalani mencatat tiga pendapat tentang perdebatan  mengenai pengertian faqdurū  ini. Pertama, pendapat yang memahami bahwa kata tersebut dimaksudkan untuk membedakan antara kondisi cerah dan kondisi mendung. Masing-masing merupakan cara penetapan awal bulan. Rukyah harus digunakan dalam kondisi cerah dan qadru digunakan pada saat situasi mendung. Pendapat ini dimunculkan oleh kebanyakan penganut mazhab Hanbali.[16] Dengan demikian, qadru dalam hal hadis ini diartikan sebagai dhayyiqū lahu wa qaddirū (batasi dan pastikan bahwa ia sudah masuk bulan Ramadan). Implikasi pendapat pertama ini ialah seseorang diperbolehkan melakukan puasa pada hari yang diragu-perdebatkan sebagai awal Ramadan (yaum al-syakk).[17] Kedua, tidak ada perbedaan di antara kedua kondisi di atas. Kata faqdurū  dalam hal ini berarti penegas kalimat sebelumnya (al-tsāni mu’akkidan li al-awwal). Pendapat ini didukung oleh kebanyakan ulama (jumhūr al-‘ulamā), dan berarti qaddirū lahū tamām tsalātsīna yauman (pastikan bahwa hari itu adalah penyempurna hari ketiga puluh bagi bulan Sya’ban). Implikasinya, seseorang tidak diperbolehkan berpuasa pada hari yang diragukan. Ketiga, pendapat yang menyatakan bahwa maksud faqdurū adalah pastikan dengan menghitung posisi bulan (hisāb al-manāzil). Pemaknaan semacam ini ditawarkan oleh Muttharrif bin Abdillah (86 H.) seorang tabiin, Abul Abbas bin Suraij (240 H.) dari mazhab Syafi’I dan Ibnu Qutaibah (276 H.) dari kalangan muhadditsin.[18]

Sedangkan fakmilū diambil dari kata ikmāl yang berarti menyempurnakan. Ia semakna dengan kata atimmū atau itmām.[19] Sedangkan kata fa’uddū, berasal dari ‘adad yang berarti bilangan atau hitungan. Riwayat yang menggunakan ketiga redaksi ini ketika disandingkan dengan kata tsalātsīna maka berarti sempurnakan atau pastikan tanggal ketiga puluh. Maksudnya sempurnakan bilangan tiga puluh hari dari bulan Sya’ban. Pengertian ini dimunculkan dengan cara mengkomparasikan riwayat yang menyebutkan akmilū ‘iddata sya’bāna tsalātsīna. al-Nawawi menegaskan bahwa ketiga variasi ini memperkuat pengertian yang dimunculkan dua pendapat di atas, yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan faqdurū hanyalah penyempurnaan bilangan Sya’ban, sebagaimana pendapat jumhur atau pemastian bahwa ia adalah awal Ramadan sebagaimana pendapat mazhab Hanbali. Riwayat-riwayat yang begitu jelas ini juga menepis penafsiran Ibnu Suraij dan Muttharrif bin Abdillah yang menggunakan ilmu hitung benda langit (astronomi) sebagai cara menentukan awal bulan.

Makna Lain Perbedaan Redaksi.. Menuju Hisab..

Selain penafsiran seperti yang diungkap di atas, perbedaan redaksi juga dimaknai sebagai perbedaan objek hukum. Bahwa ikmāl, begitu pula cara praktis lainnya, diperuntukkan bagi kaum awam (‘āmmah) . Sedangkan qadru yang diartikan sebagai hisāb diperuntukkan bagi mereka kalangan terpelajar (khāsshah). Penafsiran semacam ini merupakan pandapat Ibnu Suraij sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu al-Arabi. Penggunaan hisab sebagai standar penetapan awal Ramadan banyak mendapat dukungan dari ulama mazhab Syafi’i. Di antaranya al-Qaffal dan Abu Thayyib al-Thabari (w. 450 H.). al-Rauyani (w. 307 H.), salah satu ulama mazhab syafi’I menjelaskan bahwa Ibnu Suraij tidak bermaksud menjadikan hisab sebagai standar penetapan awal bulan, sebagaiamana hilal, yang berimplikasi pada kewajiban puasa ketika suatu hitungan telah menunjukkan adanya bulan baru. Ia hanya bermaksud membolehkan hisab sebagai standar penetapan awal Ramadan. Sedangkan yang dimaksud hisab sendiri, seperti dijelaskan Ibnu al-Shalah ialah ilmu tentang posisi-posisi bulan atau posisi hilal. Menurutnya, ilmu ini terlalu rumit dan hanya dipelajari segelintir orang. Namun demikian, ilmu ini dapat saja dipelajari karena pada dasarnya ia merupakan ilmu yang didasarkan pada pengamatan alam.[20]

Abu Ishaq al-Syirazi (w. 476 H.) menyimpulkan ada beberapa pendapat terkait dengan penggunaan hisab sebagai standar penetapan awal bulan. Pertama, boleh menggunakan hisab hanya saja tidak sah untuk menggugurkan kewajiban. Kedua, boleh dan kewajiban yang dijalankan berdasarkan ilmu tersebut sah. Ketiga, boleh dan sah bagi ahli hisab, tidak bagi ahli perbintangan. Keempat, boleh bagi ahli hisab, ahli ilmu perbintangan, dan lainnya mengikuti keputusan ahli hisab. Dan tidak boleh mengikuti ahli perbintangan. Kelima, boleh bagi keduanya dan lainnya secara mutlak mengikuti pendapat ahli hisab dan ahli perbintangan.[21]

Beberapa Simpulan

Ulasan singkat di atas menggambarkan bahwa hanya ada satu standar otoritatif dalam menentukan awal bulan [Ramadan]. Standar itu adalah hilal. Hanya saja, perdebatan muncul ketika memasuki ranah metodologi penentuan hilal. Berdasar pengertian literal teks hadis, dari beragam riwayat yang ada, disimpulkan bahwa cara pertama ialah dengan melihat langsung [rukyah]. Cara kedua menggunakan sistem ikmāl. Kedua cara inilah yang dikenalkan Nabi saw. melalui pengertian literal hadisnya. Berdasarkan pemahaman terhadap salah satu riwayat yang menggunakan redaksi faqdurū, disimpulkan penggunaan metode ilmu hisab untuk menentukan keberadaan hilal.

Penetapan awal bulan juga dapat dilakukan berdasar kesaksian (syahādah). Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani penggunaan redaksi plural dalam hadis rukyah (shūmū li ru‘yatih) mengindikasikan bahwa saksi hilal harus terdiri dari banyak orang. Namun asumsi ini bertentangan dengan penerimaan kesaksian satu orang atau dua orang yang adil oleh Nabi saw (syahādat ‘adlain). Empat metode inilah yang banyak digunakan dalam lembaga-lembaga resmi. Sedangkan dalam komunitas tertentu seperti ordo tarekat, seringkali penentuan awal bulan didasarkan pada informasi guru spiritual yang dianggap mampu menerawang keberadaan hilal (kasyfi-dzauqi). Beberapa pendapat mungkin lebih sesuai dengan alam pengetahuan modern. Namun, tidak selayaknya pengetahuan yang berbeda dikesampingkan.

Demikian, ulasan singkat yang dapat penulis paparkan sebagai pengantar diskusi. Semoga benar-benar dapat mengantarkan.

 

Referensi

Asqalani, Ahmad bin Ali bin Hajar al-, Fath al-Bārī  Bi Syarh Shahīh al-Bukhārī , (Beirut: Dar al-Fikr, 2000)

Bukhari, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-, Shahīh al-Bukhāri, (Kairo: Dar al-Hadits)

Burhanfuri, Ala‘uddin Ali bin Hisamuddin al-Muttaqi al-Hindi al-, Kanz al-Ummāl fi Sunan al-Aqwāl wa al-Af’āl, (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1985)

Daruquthni, Ali bin Umar al-, Sunan al-Dāruquthni, (Beirut: Muassasah al-Risalah, 2004)

‘Itr, Nuruddin al-, Alfāzh al-Jarh wa al-Ta’dīl wa Ahkāmuhā wa al-Tahqīq fi Martabat al-Shadūq, (Damaskus: Maktabah Dar al-Furfur, cet. Ke-2, 1999)

Tirmidzi, Abu Isa al-, Sunan al-Tirmidzī, bāb Ihshā‘ Hilāl Sya’bān li Ramadhān (Beirut: Dar al-Fikr)

Hamawi, Abul Abbās Ahmad bin Muhammad bin Ali al-Fayumi al-, al-Mishbāh al-Munīr fi Gharīb Syarh al-Kabīr, (Beirut: Maktabah Lubnan, 1987)

Jauziyyah, Syamsuddin Ibnu Qayyim al-, Syarah Sunan Abī Dawūd, dicetak bersama ‘Aun al-Ma’būd Syarh Sunan Abī Dawūd, (Beirut: Dar al-Fikr, 2007)

Nawawi, Abu Zakāriyā Yahya bin Syaraf al-, Syarah Shahīh Muslim, (Kairo: Dar al-Ghad al-Jadid, 2008)

Sijistani, Abu Dāwud al-, Sunan Abī Dāwud dicetak bersama ‘Aun al-Ma’būd Syarh Sunan Abī Dāwud, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2007)

Wensink, AJ. et.all, Mu’jam Mufahras Li Alfazh al-Hadits al-Nabawi, (Leiden: Maktabah Bril, 1936)

Zakariya, Abul Husain Ahmad bin Faris bin, Mu’jam Maqayis al-Lughah, (Beirut: Dar al-Fikr).

[1] Makalah ini dipresentasikan pada Mata Kuliah Hadis Hukum dan Ibadah, 06 Mei 2012. Dosen pengampu Dr. Atiyatul Ulya, MA. Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Program Studi Tafsir Hadis UIN Syarif Hidayatullah.

[2] Bunyi lengkap ayat di atas adalah sebagaimana berikut:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183)أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (184) شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (185) وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (186) أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ (187)

[3] Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshari al-Qurthubi, al-Jāmi’ Li Ahkām al-Qurān, (Kairo: Dar al-Hadits, 2010), jilid I, hlm. 657

[4] Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahīh al-Bukhāri, (Kairo: Dar al-Hadits, 2008), jilid II, hlm. 60

[5] Ali bin Umar al-Daruquthni, Sunan al-Dāruquthni, (Beirut: Muassasah al-Risalah, 2004), jilid III hlm. 112

[6] Nuruddin al-‘Itr, Alfāzh al-Jarh wa al-Ta’dīl wa Ahkāmuhā wa al-Tahqīq fi Martabat al-Shadūq, (Damaskus: Maktabah Dar al-Furfur, cet. Ke-2, 1999), hlm. 15

[7] Hadis ahshu sya’ban li ramadhan ditemukan melalui dua jalur sahabat; Rafi’ bin Khudaij dan Abu Hurairah. al-Tirmidzi menuturkan bahwa riwayat Abu Hurairah mempunyai tiga jalur. Jalur pertama melalui jalur Abu Hurairah-Abu Salamah-Muhammad bin Amr-Abu Muawiah-Yahya bin Yahya-Muslim bin Hajjaj-al-Tirmdizi. Redaksi ahshu sya’ban li ramadhan hanya diperoleh melalui jalur Abu Muawiah. Riwayat ini tergolong gharib [asing, berkemungkinan dipalsukan]. Namun demikian, hadis ahshu sya’ban li ramadhan juga diriwayatkan melalui jalur Yahya bin Abi Katsir-Abu Salamah-Abu Hurairah [berbeda pada rawi level ketiga]. Dengan demikian, hadis al-Daruquthni di atas sudah mendapatkan penguatnya dan layak dijadikan hujjah. Kesahihan hadis ini dikuatkan dengan penilaian Ahmad Syakir dan al-Albani. Lihat dalam Abu Isa al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzī, bāb Ihshā‘ Hilāl Sya’bān li Ramadhān (Beirut: Dar al-Fikr, ). jilid III hlm. 62

[8] Abu Dāwud al-Sijistani, Sunan Abī Dāwud dicetak bersama ‘Aun al-Ma’būd Syarh Sunan Abī Dāwud, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 20070, jilid VII, hlm. 15

[9] Abul Abbās Ahmad bin Muhammad bin Ali al-Fayumi al-Hamawi, al-Mishbāh al-Munīr fi Gharīb Syarh al-Kabīr, (Beirut: Maktabah Lubnan, 1987), jilid II, hlm. 245

[10] Ala‘uddin Ali bin Hisamuddin al-Muttaqi al-Hindi al-Burhanfuri, Kanz al-Ummāl fi Sunan al-Aqwāl wa al-Af’āl, (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1985), juz 8, hlm. 485-493

[11] Ibid.  jilid VIII, hlm. 493

[12] Syamsuddin Ibnu Qayyim al-Juaziyyah, Syarah Sunan Abī Dawūd, dicetak bersama ‘Aun al-Ma’būd Syarh Sunan Abī Dawūd, (Beirut: Dar al-Fikr, 2007), jilid VII, hlm. 17

[13] Data diambil dari AJ. Wensink et.all, Mu’jam Mufahras Li Alfazh al-Hadits al-Nabawi, (Leiden: Maktabah Bril, 1936), jilid IV, hlm. 558

[14] Abul Husain Ahmad bin Faris bin Zakariya, Mu’jam Maqayis al-Lughah, (Beirut: Dar al-Fikr), jilid V, hlm. 62

[15] Abu Zakāriyā Yahya bin Syaraf al-Nawawi, Syarah Shahīh Muslim, (Kairo: Dar al-Ghad al-Jadid, 2008), jilid IV, hlm. 164

[16] Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani, Fath al-Bārī  Bi Syarh Shahīh al-Bukhārī , (Beirut: Dar al-Fikr, 2000), jilid IV, hlm. 616-618

[17] al-Nawawi, Syarah Shahīh Muslim, (Kairo: Dar al-Ghad al-Jadid, 2008), jilid IV, hlm. 164. Pendapat ini dikuatkan dengan riwayat lain yang menyatakan umur bulan dua puluh sembilan hari. Seperti riwayat al-Imam Muslim di bawah ini:

 

2572 – حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِىِّ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَقْسَمَ أَنْ لاَ يَدْخُلَ عَلَى أَزْوَاجِهِ شَهْرًا – قَالَ الزُّهْرِىُّ – فَأَخْبَرَنِى عُرْوَةُ عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – قَالَتْ لَمَّا مَضَتْ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ لَيْلَةً أَعُدُّهُنَّ دَخَلَ عَلَىَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- – قَالَتْ بَدَأَ بِى – فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ أَقْسَمْتَ أَنْ لاَ تَدْخُلَ عَلَيْنَا شَهْرًا وَإِنَّكَ دَخَلْتَ مِنْ تِسْعٍ وَعِشْرِينَ أَعُدُّهُنَّ فَقَالَ « إِنَّ الشَّهْرَ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ ».

Lihat dalam Shahīh Muslim dicetak bersama Syarah Shahīh Muslim, (Kairo: Dar al-Ghad al-Jadid, 2008), jilid IV, hlm. 169

[18] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bārī…, (Beirut: Dar al-Fikr, 2000), jilid IV, hlm. 618

[19] Ibnu Faris, Mu’jam Maqāyis al-Lughah…, (Beirut: Dar al-Fikr), jilid V, hlm. 139

[20] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bārī…, (Beirut: Dar al-Fikr, 2000), jilid IV, hlm. 618

[21] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bārī…, (Beirut: Dar al-Fikr, 2000), jilid IV, hlm. 618

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here