Hadis-hadis Keutamaan Ilmu dan Ulama

6
30939

BincangSyariah.Com – Ilmu adalah cahaya yang dapat menunjukkan seseorang menuju jalan yang benar. Di dalam kitab Lubbabul Hadis bab pertama, imam As-Suyuthi (w. 911) menuliskan sepuluh hadis tentang fadhilah atau keutamaan ilmu dan ulama yang perlu kita perhatikan sebagaimana berikut.

Hadis pertama:

قال النبي صلى الله عليه وسلم لابن مسعود رضي الله عنه: {يَا ابْنَ مَسْعُوْدٍ، جُلُوْسُكَ سَاعَةً فِيْ مَجْلِسِ العِلْمِ، لاَ تَمَسُ قَلَماً، وَلاَ تَكْتُبُ حَرْفًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ عِتْقِ أَلْفِ رَقَبَةٍ، وَنَظَرُكَ إِلىَ وَجْهِ العَالِمِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَلْفِ فَرَسٍ تَصَدَّقْتَ بِهَا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، وَسَلاَمُكَ عَلىَ العَالِمِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ عِبَادَةِ أَلْفِ سَنَةٍ}.

Nabi saw. bersabda kepada Ibnu Mas’ud r.a., “Wahai Ibnu Mas’ud, dudukmu sesaat di dalam suatu majelis ilmu, tanpa memegang pena dan tanpa menulis satu huruf (pun) lebih baik bagimu dari pada memerdekakan seribu budak. Pandanganmu kepada wajah seorang yang berilmu lebih baik bagimu dari pada seribu kuda yang kau sedekahkan di jalan Allah. Dan ucapan salammu kepada orang yang berilmu lebih baik bagimu dari pada beribadah seribu tahun.”

Hadis kedua:

وقال صلى الله عليه وسلم: {فَقِيْهٌ وَاحِدٌ مُتَوَرِّعٌ أَشَدُّ عَلىَ الشَيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ مُجْتَهِدٍ جَاهِلٍ وَرعٍ}.

Nabi saw. bersabda, “Satu orang yang faqih (pandai ilmu syariat/fiqih) dan wira’i (yang meninggalkan hal-hal yang diharamkan) lebih berat bagi setan dari pada seribu orang yang giat beribadah (namun) bodoh (meskipun) wira’i.”

Hadis ketiga:

وقال صلى الله عليه وسلم: {فَضْلُ العَالِمِ عَلىَ العَابِدِ كَفَضْلِ القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ عَلىَ سَائِرِ الكَوَاكِبِ}.

Nabi saw. bersabda, “Keutamaan orang yang berilmu (yang mengamalkan ilmunya) atas orang yang ahli ibadah adalah seperti utamanya bulan di malam purnama atas semua bintang-bintang lainnya.”

Baca Juga :  Pola Tidur Ibnu Sina Saat Belajar

Hadis keempat:

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنِ انْتَقَلَ لِيَتَعَلَّمَ عِلْمًا غُفِرَ لَهُ قَبْلَ أنْ يَخْطُوَ}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang berpindah (baik dengan berjalan kaki atau naik kendaraan) untuk mempelajari ilmu (syariat/agama) maka ia akan diampuni (dosa-dosa kecilnya yang telah lalu) sebelum ia akan melangkah (dari tempatnya jika ia berniat karena Allah taala).”

Hadis kelima:

وقال صلى الله عليه وسلم: {أَكْرِمُوا الْعُلَمَاءَ فَإِنَّهُمْ عِنْدَ اللهِ كُرَمَاءُ مُكْرَمُوْنَ}.

Nabi saw. bersabda, “Muliakanlah ulama’ (orang-orang yang memiliki ilmu syariat/agama dan mengamalkannya, mereka baik ucapan dan perbuatannya) karena sungguh mereka menurut Allah adalah orang-orang yang mulia dan dimuliakan (di kalangan malaikat).”

Hadis keenam:

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ نَظَرَ إِلَى وَجْهِ الْعَالِمِ نَظْرَةً فَفَرِحَ بِهَا خَلَقَ اللهُ تَعَالَى مِنْ تِلْكَ النَّظْرَةِ مَلَكًا يَسْتَغْفِرُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang memandang wajah orang yang berilmu dengan sekali pandangan, lalu ia bahagia dengan pandangan itu, maka Allah swt. telah menciptakan pandangan itu seorang malaikat yang akan memintakan ampun untuknya sampai hari Kiamat.”

Hadis ketujuh:

وقال النبي صلى الله عليه وسلم: {مَنْ أَكْرَمَ عَالِمًا فَقَدْ أَكْرَمَنِيْ، وَمَنْ أَكْرَمَنِيْ فَقَدْ أَكْرَمَ اللهَ، وَمَنْ أَكْرَمَ اللهَ فَمَأوَاهُ الْجَنَّةُ}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang memuliakan seorang yang berilmu maka sungguh ia telah memuliakanku, siapa yang memuliakanku, maka sungguh ia telah memuliakan Allah, dan siapa yang memuliakan Allah, maka tempatnya adalah surga.”

Hadis kedelapan:

وقال النبي صلى الله عليه وسلم: {نَوْمُ العَالِمِ أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ الجَاهِلِ}.

Nabi saw. bersabda, “Tidurnya seorang yang berilmu (yakni orang alim yang memelihara adab ilmu) lebih utama dari pada ibadahnya orang yang bodoh (yang tidak memperhatikan adabnya beribadah).”

Baca Juga :  Agar Anak Anda Jadi Ulama, Teladani Sikap Ibnu Abbas Ini

Hadis kesembilan:

وقال النبي صلى الله عليه وسلم: {مَنْ تَعَلَّمَ بَابًا مِنَ العِلْمِ، يَعْمَلُ بهِ أوْ لَمْ يَعْمَلْ بهِ كَانَ أَفْضَلَ مِنْ أَنْ يُصَلِّي أَلْفَ رَكْعَةٍ تَطَوُّعًا}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang belajar satu bab dari ilmu baik ia amalkan atau ia tidak maka itu lebih utama dari pada ia melakukan shalat sunnah seribu rakaat.”

Menurut imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarahi kitab ini (yakni dalam kitabnya Tanqihul Qaul Al-Hatsits Fi Syarah Lubbabil Hadits) menjelaskan bahwa hadis tersebut menunjukkan bahwa ilmu itu lebih mulia dari pada ibadah. Meskipun begitu, seorang hamba Allah hendaknya juga beribadah disertai dengan berilmu, agar ilmunya tidak seperti debu yang terbang berhamburan kemudian hilang tanpa bekas.

Hadis kesepuluh:

وقال النبي صلى الله عليه وسلم: {مَنْ زَارَ عَالِمًا فَكَأَنَمَّا زَارَنِي، وَمَنْ صَافَحَ عَالِمًا فَكَأَنَّما صَافَحَنِي، وَمَنْ جَالَسَ عَالِمًا فَكَأَنَّما جَالَسَنِي في الدُّنْيَا، وَمَنْ جَالَسَنِي في الدُّنْيَا أَجْلَسْتُهُ مَعِيْ يَوْمَ القِيَامَةِ}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang mengunjungi seorang yang berilmu maka seakan-akan ia mengunjungiku, siapa yang berjabat tangan dengan orang yang berilmu, maka seakan-akan ia berjabat tangan denganku, siapa yang duduk dengan orang yang berilmu, maka seakan-akan ia duduk denganku di dunia, dan siapa yang duduk denganku di dunia, maka aku akan menjadikan ia duduk bersamaku di hari Kiamat.”

Demikianlah sepuluh hadis yang telah dijelaskan oleh imam As-Suyuthi tentang keutamaan ilmu dan ulama di dalam kitabnya yang berjudul Lubbabul Hadits. Di mana di dalam kitab tersebut, beliau menjelaskan empat puluh bab dan setiap bab beliau menuliskan sepuluh hadis dengan tidak menyantumkan sanad untuk meringkas dan mempermudah orang yang mempelajarinya. Meskipun begitu, di dalam pendahuluan kitab tersebut, imam As-Suyuthi menerangkan bahwa hadis nabi, atsar, maupun riwayat yang beliau sampaikan adalah dengan sanad yang shahih (meskipun menurut imam An-Nawawi ketika mensyarah kitab ini mengatakan ada hadis dhaif di dalamnya, hanya saja masih bisa dijadikan pegangan untuk fadhailul a’mal dan tidak perlu diabaikan sebagaimana kesepakatan ulama). Wa Allahu A’lam bis Shawab.

Baca Juga :  K.H. Hasyim Muzadi: Ilmu Tidak Gampang Diganti Orang

6 KOMENTAR

  1. Hadist lemah. Tidak jelas perawinya, bukan krn tidak dicantumkan, kenapa orang2 memandang remeh hal yg palsu /dhaif, sedangkan banyak yg sahih., bersumpa palsu atas nama rasulullah shallahu alaihi wasalam adalah mudharat yang besar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here