Hadis-hadis Keutamaan Bersiwak

0
244

BincangSyariah.Com – Nabi saw. tidak hanya mengajarkan kepada umatnya tentang ubudiyah dan ketauhidan. Beliau juga mengajarkan umatnya untuk senantiasa menjaga kebersihan. Salah satunya adalah anjuran memakai siwak untuk membersihkan gigi. Di dalam kitab Lubbabul Hadis bab ketujuh, imam As-Suyuthi (w. 911) menuliskan sepuluh hadis tentang fadhilah atau keutamaan bersiwak yang perlu kita perhatikan sebagaimana berikut.

Hadis Pertama:

قال النبي صلى الله عليه وسلم: {رَكْعَتَانِ بِسِوَاكٍ خَيْرٌ مِنْ سَبْعِينَ رَكْعَةً بِغَيْرِ سِوَاكٍ}.

Nabi saw. bersabda, “Dua rakaat dengan bersiwak lebih baik dari pada tujuh puluh rakaat dengan tanpa bersiwak.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Ad-Daruquthi dari shahabat Ummu Darda’ dengan sanad Hasan. Imam An-Nawawi di dalam kitab Tanqihul Qaul Al-Hatsits sebuah syarah dari kitab Lubbabul Hadis menerangkan bahwa menurut imam Al-Munawi, hadis tersebut tidak dapat dijadikan dalil keutamaan shalat dengan memakai siwak dari pada shalat berjamaah yang pahalanya sampai dua puluh tujuh derajat.

Hadis Kedua:

وقال صلى الله عليه وسلم: {تَسَوَّكُوا فإنَّ السِّوَاك مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ}.

Nabi saw. bersabda, “Bersiwaklah kalian, karena sungguh siwak itu mensucikan mulut dan diridhai Tuhan.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah dari shahabat Abu Umamah. Imam Ibnu Hisyam (pakar gramatikal Arab) pernah ditanya oleh Al-Alqami tentang sebab lafadz mathharah dan mardhah yang menjadi khabarnya inna berupa muannats (ada ta’ dibelakangnya). Bukankah seharusnya mudzakkar karena siwak adalah bentuknya mudzakkar (tanpa ta’). Imam Ibnu Hisyam menjawab bahwa fungsi ta’ itu bukan menunjukkan muannas dalam kata tersebut  tetapi lil katsrah atau untuk menunjukkan sesuatu yang banyak. Jadi, siwak itu sangat dapat mensucikan mulut dan sangat diridhai Allah swt.

Hadis Ketiga:

وقال صلى الله عليه وسلم: {سِتَّةٌ مِنْ سُنَنِ المُرْسَلِينَ الحَيَاءُ والحِلْمُ والحِجَامَةُ والسِّواكُ والتَّعَطُّرُ وَكَثْرَةُ الأَزْوَاجِ}.

Nabi saw. bersabda, “Enam hal yang termasuk dari sunah-sunah (tradisi) utusan (Allah) adalah malu, bijaksana, bekam, siwak, memakai parfum, dan banyaknya istri.”

Baca Juga :  Islam dan Militerisme dalam Lintasan Sejarah (1)

Imam Nawawi di dalam kitab Tanqihul Qaul ketika menjelaskan hadis ini tidak memberikan komentar seputar takhrij hadis ini, yakni siapa perawinya dan di dalam kitab apa. Setelah kami melakukan penelitian, hadis ini terdapat dalam kitab Syu’abul Iman karya imam Al-Baihaqi dari shahabat Ibnu Abbas. Hanya saja di dalam riwayat imam Al-Baihaqi tidak ada kata sittah dan kata al-hilm berada di urutan yang pertama sebagaimana berikut.

عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من سنن المرسلين الحلم والحياء والحجامة والسواك والتعطر وكثرة الأزواج. رواه البيهقي.

Adapun maksud dari kata malu di dalam hadis tersebut menurut keterangan imam An-Nawawi adalah malu dari berbuat sesuatu apapun yang tidak baik menutut syariat/agama. Namun, imam Al-Munawi memberikan keterangan lain bahwa yang benar sebagaimana yang disebutkan oleh jamaah al-haya’ itu adalah khitan. Yakni khitanlah yang termasuk dari tradisi yang biasa dilakukan oleh para rasul kecuali Nabi Nuh tidak dikhitan dan Nabi Isa tidak menikah.

Hadis Keempat:

وَقَالَ صلى الله عليه وسلم: {ثَلاَثَةٌ واجِبَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ الغُسْلُ يَوْمَ الجُمُعَةِ والسِّواكُ وَمَسُّ الطِّيبِ}.

Nabi saw. bersabda, “Tiga hal yang wajib bagi setiap muslim adalah mandi di hari Jumat, (memakai) siwak, dan memakai parfum.” Imam An-Nawawi tidak menyebutkan takhrij hadis ini dari riwayat siapa dan di kitab apa. Kami pun ketika melakukan penelitian belum menemukan keberadaan riwayat hadis ini kecuali dalam kitab Lubbabul Hadis karya imam As-Suyuthi ini, wa Allahu a’lam. Hanya saja imam An-Nawawi Al-Bantani tetap memberikan syarah atau penjelasan terkait hadis tersebut. Beliau mengatakan bahwa kata wajib di atas maksudnya adalah sunnah muakkad atau sunnah yang sangat dianjurkan baik di hari Jum’at maupun di hari-hari lainnya.

Hadis Kelima:

وَقَالَ صلى الله عليه وسلم: {طَيِّبُوا أفْوَاهَكُمْ بالسِّواكِ فإنَّهُ طَرِيقُ القُرْآنِ}.

Nabi saw. bersabda, “Bersihkanlah mulut-mulut kalian dengan siwak karena sunguh itulah cara Al-Qur’an.” Riwayat hadis ini pun belum dapat kami temukan selain di dalam kitab imam As-Suyuthi ini. Imam An-Nawawi Al-Bantani pun tidak memberikan keterangan keberadaan riwayat hadis ini. Hanya saja beliau memberikan riwayat dari imam Ath-Thabrani sebagai berikut.

Baca Juga :  Hadis-hadis Keutamaan Laa Ilaaha Illaa Allah

عن ابن مسعود قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم تخللوا فانه نظافة والنظافة تدعو إلى الايمان مع صاحبه في الجنة . رواه الطبراني

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Keluarkanlah (sisa) makanan yang ada di antara gigi-gigi, karena sungguh hal itu kebersihan dan kebersihan itu dapat akan mengajak kepada keimanan beserta saudaranya di surga.”

Hadis Keenam:

وقال صلى الله عليه وسلم: {رَحِمَ الله المُتَخَلِّلينَ مِنْ أمَّتِي في الوُضُوءِ وَالطَّعامِ}.

Nabi saw. bersabda, “Allah merahmati orang-orang dari umatku yang mau menyela-nyelani (anggota tubuh) di dalam wudhu dan (sisa) makanan.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Al-Qudha’i dari shahabat Abu Ayyub Al-Anshari. Imam An-Nawawi Al-Bantani menjelaskan bahwa hadis tersebut menunjukkan sunnahnya menyela-nyelani rambut ketika bersuci dan menyela-nyelani (membersihkan) sisa-sisa makanan di antara gigi-gigi. Rasulullah saw. memanggil mereka dengan rahmat disebabkan karena ketelitian dan kehati-hatian mereka dalam melaksanakan ibadah.

Hadis Ketujuh:

وقال صلى الله عليه وسلم: {لاَ تَتَخَلَّلُوا بِالآسِ والرَّيحَانِ والقَصَبِ فَإنَّهُ يُورِثُ الإكلَةَ}

Nabi saw. bersabda, ‘Janganlah kalian menyela-nyelani dengan kayu (dari pohon yang wangi), kayu dari pohon yang bau, dan dengan bambu, karena sungguh hal itu dapat menyebabkan sakit gigi (hingga copot).”  .” Riwayat hadis ini pun belum dapat kami temukan selain di dalam kitab imam As-Suyuthi ini. Imam An-Nawawi Al-Bantani pun tidak memberikan keterangan keberadaan riwayat hadis ini.

Hadis Kedelapan:

وقال صلى الله عليه وسلم: {صَلاَةٌ بِسِواكٍ خَيْرٌ مِنْ سَبْعِينَ صَلاَةً بِغَيْرِ سِوَاكٍ}

Nabi saw. bersabda, “Shalat dengan bersiwakan lebih baik dari pada tujuh puluh rakaat dengan tanpa bersiwak.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Al-Baihaqi dan imam lainnya, serta dishahihkan oleh imam Al-Hakim. Imam Al-‘Azizi menjelaskan bahwa maksud dari tujuh puluh shalat adalah banyaknya pahala yang diterima bagi orang yang mau menggunakan siwak bukan batasan.

Baca Juga :  Hadis Allah Malu Tak Kabulkan Doa, Amien Rais, dan Ganti Presiden

Hadis Kesembilan:

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصيني بالسِّواكِ حَتَّى خَشِيتُ أَنْ يَدْرَدْنَّ أسْنَانِي}.

Nabi saw. bersabda, “Jibril selalu mewasiatkanku untuk bersiwak sampai aku khawatir gigi-gigiku akan copot.” Riwayat hadis ini pun belum dapat kami temukan selain di dalam kitab imam As-Suyuthi ini. Hanya saja kami menemukan riwayat imam Al-Baihaqi dan imam Ath-Thabrani yang hampir sama dengan hadis tersebut sebagaimana berikut.

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهَا، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالسِّوَاكِ حَتَّى خَشِيتُ عَلَى أَضْرَاسِي “

Dari Ummu Salamah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Jibril selalu mewasiatkanku untuk bersiwak sampai aku khawatir gigi-gigi grahamku.”

Hadis Kesepuluh:

وقال صلى الله عليه وسلم: {أمرت بالسِّوَاكِ حَتَّى خِفْتُ عَلَى أسْنَانِي}

Nabi saw. bersabda, “Aku diperintahkan untuk bersiwak sampai aku khawatir atas gigi-gigiku.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Ath-Thabrani dari shahabat Ibnu ‘Abbas.

Demikianlah sepuluh hadis yang telah dijelaskan oleh imam As-Suyuthi tentang keutamaan bersiwak di dalam kitabnya yang berjudul Lubbabul Hadits. Di mana di dalam kitab tersebut, beliau menjelaskan empat puluh bab dan setiap bab beliau menuliskan sepuluh hadis dengan tidak menyantumkan sanad untuk meringkas dan mempermudah orang yang mempelajarinya. Meskipun begitu, di dalam pendahuluan kitab tersebut, imam As-Suyuthi menerangkan bahwa hadis nabi, atsar, maupun riwayat yang beliau sampaikan adalah dengan sanad yang shahih (meskipun menurut imam An-Nawawi di dalam kitab Tanqihul Qaul Al-Hatsits ketika mensyarah kitab ini mengatakan ada hadis dhaif di dalamnya, hanya saja masih bisa dijadikan pegangan untuk fadhailul a’mal dan tidak perlu diabaikan sebagaimana kesepakatan ulama). Wa Allahu A’lam bis Shawab.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here