Hadis Dhaif Boleh Diamalkan, Ini Syaratnya

0
1075

BincangSyariah.Com – Imam Al-Nawawi dalam berbagai karangannya menyampaikan bahwa hadis dhaif boleh diamalkan dalam fadhailul a’mal. Salah satunya di dalam Al-Arbain Al-Nawawiyyah:

وقد اتفق العلماء على جواز العمل بالحديث الضعيف في فضائل الأعمال

Ulama telah sepakat atas diperbolehkannya mengerjakan suatu amal dengan berdasar hadis dhaif dalam fadhailul a’mal

Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak meriwayatkan apa yang dikatakan Abu Sa’id Abdurrahman bin Mahdi (Salah satu ulama ahli hadis):

إذا روينا عن النبي صلى الله عليه وسلم في الحلال والحرام والأحكام شددنا في الأسانيد وانتقدنا الرجال وإذا روينا في فضائل الأعمال والثواب والعقاب والمباحات والدعوات تساهلنا في الأسانيد

Ketika kami meriwayatkan hadis dari Nabi Saw yang menjelaskan halal-haram dan hukum, kami akan memperketat sanadnya dan dan meneliti para rawinya. Dan ketika kami meriwayatkan hadis tentang fadhailul a’mal, pahala, siksa, hal-hal mubah, dan doa-doa, kami mempermudah urusan sanad (tidak memperketat dalam menyeleksi)

Apa yang disampaikan Abu Sa’id di atas memberikan gambaran pada kita bahwa dalam meriwayatkan hadis para ulama lebih toleran dalam masalah fadhailul a’mal, tidak seketat hadis yang berisi hukum halal-haram. Barangkali sebagian orang sering mendengar istilah fadhailul a’mal namun belum mengetahui maksudnya. Syaikh ‘Ali Jum’ah dalam Al-Bayan menjelaskan:

فضائل الأعمال مركب لفظي يتوقف فهم معناه على فهم جزئيه ففضائل: جمع فضيلة والأعمال: جمع عمل والمقصود بفضائل الأعمال هي ما رغب فيه عمله الشرع من فضائل كالذكر، والدعاء، والمندوبات الموافقة الأصول الشريعة

Istilah fadhailul a’mal adalah sebuah susunan lafadz. Maknanya bisa diketahui jika mengetahui makna 2 lafadz asalnya. Fadhail adalah bentuk jamak dari fadhilah (keutamaan), sedangkan a’mal adalah bentuk jamak dari amal. Yang dimaksud fadhailul a’mal adalah hal yang dianjurkan syariat untuk diamalkan seperti dzikir, doa, dan ibadah-ibadah sunah lain yang sesuai dengan prinsip-prinsip dasar syariat

Baca Juga :  Sosiologi Hadis; Sebuah Pengantar

Syaikh Al-Ramli di bagian akhir fatwa beliau terkait pembahasan ini mengatakan

وعلم أيضا أن المراد الأعمال وعلم أيضا أن المراد بفضائل الأعمال الترغيب والترهيب وفي معناها القصص ونحوها

Dapat diketahui dari penjelasan yang telah lalu bahwa yang dimaksud fadhailul a’mal adalah anjuran (targhib) dan ancaman (tarhib) pada suatu amal, kisah-kisah, dan yang semisalnya

Namun, ada bebberapa hal-hal yang perlu diperhatikan ketika mengamalkan hadis dhaif. Imam Jalaludin Al-Suyuthi dalam Tadrib al-Rawi menyampaikan:

وذكر شيخ الإسلام له ثلاثة شروط أحدها أن يكون الضعف غير شديد فيخرج من انفرد من الكذابين والمتهمين بالكذب ومن فحش غلطه نقل العلائي الاتفاق عليه الثاني أن يندرج تحت أصل معمول به الثالث أن لا يعتقد عند العمل به ثبوته وقال هذان ذكرهما ابن عبد السلام وابن دقيق العيد

Syaikhul Islam menyebutkan ada 3 syarat dalam mengamalkan hadis dhaif. Pertama, tingkat kedhaifannya tidak terlalu kuat, maka hadis yang diriwayatkan hanya oleh satu perawi yang dikenal berbohong atau diduga berbohong, dan rawi yang sangat besar kekeliruannya tidak dapat diamalkan. Imam Al-‘Alla’i menukil bahwa syarat pertama ini disepakati oleh para ulama. Kedua, makna dari hadis dhaif itu tercakup dalam prinsip umum syariat. Ketiga, tidak diyakini bahwa itu ucapan Nabi Saw. Dua syarat terakhir ini disebutkan oleh Imam Izzudin bin Abdissalam dan Ibn Daqiq Al-‘Id

Maksud dari syarat kedua, yaitu makna hadis harus tercakup dalam naungan kaidah umum syariat adalah sebagaimana dicontohkan Ibn Daqiq Al-‘Id dalam Syarah Al-Arba’in, yaitu semisal ada hadis dhaif yang menganjurkan untuk salat sunah setelah tergelincirnya matahari, maka hadis tersebut boleh diamalkan karena maknanya masih dalam naungan kaidah umum syariat yaitu anjuran untuk memperbanyak salat secara umum. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here