Hadis Dapat Menyesatkan Kecuali Bagi Ahli Fikih

0
1407

BincangSyariah.Com – Ibnu Hajar al-Haytami pernah ditanya terkait ungkapan, al-hadis mudhillatun illa lil fuqaha (Hadis menyesatkan kecuali bagi ahli fikih), apakah ia tergolong hadis atau bukan. Terus apa maksud dari ungkapan tersebut dan apakah memahami hadis menjadi prasyarat seseorang digelari sebagai ahli fikih atau bagaimana? Serta mana yang lebih mulia antara ahli fikih dengan ahli hadis?

Lalu beliau menguraikan jawaban dari beberapa pertanyaan tersebut secara singkat melalui salah satu artikelnya yang tergabung dalam kitab yang berjudul al-Fatawa al-Haditsiyyah.

Ibnu Hajar menegaskan bahwa ungkapan tersebut bukanlah hadis Nabi, namun hanya sebatas kata-kata hikmah yang bersumber dari Sufyan ibnu ‘Uyainah atau ulama-ulama lainnya. Sehingga berdasarkan jawaban ini, dapat disimpulkan bahwa ungkapan tersebut bukanlah hadis Nabi Saw. Bagi siapa pun yang menganggapnya sebagai hadis Nabi, berarti ia telah membuat kebohongan atas nama beliau yang ancaman hukumannya sangat besar sekali yaitu neraka.

Kemudian terkait dengan pemaknaannya, ungkapan tersebut mengandung pengertian bahwa hadis pada dasarnya sama dengan al-Qur’an. Sebagian teksnya ada yang bermakna khusus dan ada yang bermakna umum. Sebagiannya ada yang bermakna mutlak (berlaku secara umum) dan sebagian yang lain bermakna muqayyad (berlaku terbatas). Sebagiannya ada yang menghapus (nasikh) penggunaan dalil lain dan sebagiannya ada yang dihapus (mansukh). Sebagiannya ada yang bersifat muhkam (jelas arahan maksudnya) dan mutasyabihat (mempunyai beragam makna), dan lain sebagainya.

Hal-hal seperti itu, tidak mungkin dimengerti kecuali oleh mereka yang paham dengan kaidah-kaidah fikih dan usul fikih, bukan mereka yang mencukupkan dirinya dengan hadis dan ilmu hadis saja. Maka dalam tataran ini (ahli hadis yang tidak paham fikih dan usul fikih), cenderung sering keliru dalam memahami pemaknaan sebagian hadis dan bahkan menyebarkan kekeliruannya kepada orang lain. Hal ini, menurut Ibnu Hajar, seringkali dilakukan oleh beberapa ulama salaf maupun khalaf seperti Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya.

Baca Juga :  Orang-Orang yang Terhalang Mendapat Berkah di Malam Nisfu Sya’ban

Ibnu Hajar juga menarik kesimpulan bahwa ahli fikih yang memahami metodologi penggalian hukum (istimbath al-ahkam) jauh lebih baik ketimbang ahli hadis yang tidak menguasainya. Seolah-olah beliau menyindir prilaku sebagian ahli hadis yang terlalu mudah menyalahkan ijtihad ahli Fikih karena dianggap tidak sesuai dengan teks hadis, padahal yang sebenarnya terjadi adalah sebagian ahli hadis tersebut tidak memahami posisi dan cara memahami hadis yang mereka hafal karena tidak memiliki kemampuan untuk “mengolah”nya.

Di sini jugalah letak pemahaman hadis yang menyebutkan bahwa terkadang banyak orang yang menyampaikan berita/hadis (perawi hadis un sich) tidak lebih paham dari orang yang mendengarkannya (ahli fikih). Dengan demikian para ahli hukum (mustambith al-ahkam) pada dasarnya adalah orang-orang pilihan yang diberi anugerah kemampuan oleh Allah Swt. untuk “mengolah” data-data agama berupa teks-teks al-Qur’an dan Hadis menjadi hukum praktis yang siap pakai dan bisa diaplikasikan dalam setiap lini kehidupan manusia.

Tentunya ahli fikih yang dimaksud di sini adalah ahli fikih yang juga memahami ilmu hadis, khususnya dalam menentukan mana hadis yang sahih dengan hadis yang tidak sahih, mana hadis yang bisa diamalkan secara tekstual dan mana hadis yang harus dipahami secara kontekstual, dan lain sebagainya. Bukan ahli fikih yang hanya mengandalkan metode istimbath (penggalian hukum), namun tidak ditopang oleh pengetahuan yang cukup terkait kualitas hadis dan teks yang dia olah untuk menjadi hukum praktis yang disebut fikih tersebut.

Di sinilah letak urgensitas perkataan Ibnu Wahb ketika menyampaikan, “Ahli hadis yang tidak mempunyai kemampuan dalam istimbath hukum tidak berguna sama sekali. Seandainya Allah tidak mengutus Imam Malik kepada kita, seorang yang hafal banyak hadis dan juga memahami fikih, maka sungguh kita akan tersesat dalam memahami hadis. Sebagian ulama yang lain juga ada yang berkata, “Tidak ada yang lebih bodoh daripada ahli hadis yang tidak paham fikih”.

Baca Juga :  Ketua Panitia "Nusantara Berkurban" Laporkan Penerimaan dan Penyaluran Hewan Kurban

Ungkapan yang mirip dengan hal itu juga pernah disampaikan oleh Sufyan ibnu ‘Uyainah dan Sufyan al-Tsauri. Keduanya mengatakan bahwa seandainya mereka berdua ditakdirkan menjadi hakim, maka mereka akan memukuli ahli hadis yang tidak paham fikih dan ahli fikih yang tidak paham hadis. Bagi keduanya, kemampuan dalam hadis dan fikih adalah syarat mutlak bagi seseorang ulama untuk mengeluarkan hukum dari teks-teks agama berupa al-Qur’an dan Hadis.

Sebuah cerita menarik sengaja penulis kutip sebagai penutup tulisan ini. Imam Malik ibnu Anas mempunyai dua orang keponakan laki-laki yang bernama Bakr dan Ismail. Pada suatu ketika beliau bertanya kepada keduanya, “Saya melihat kalian berdua sangat menyukai hadis dan selalu mencarinya?” Keduanya menjawab, “Iya wahai Paman.” Lalu Imam Malik berkata kembali, “Jika kalian ingin pengetahuan kalian tentang hadis tersebut bermanfaat, maka minimalisirlah usaha pencarian hadis dan perbanyaklah usaha untuk memahaminya!”.

Ungkapan tersebut bukan berarti bahwa Imam Malik melarang keduanya untuk mencari hadis, namun yang beliau lakukan hanyalah menganjurkan keduanya agar jangan terlalu sibuk dengan periwayatan, namun lemah dalam memahaminya. Mengetahui hadis memang penting, tapi memahaminya sesuai dengan aturan, kaedah, dan metode yang seharusnya, jauh lebih penting. Semoga penulis, pembaca dan kita semua menjadi ahli hadis yang fakih dan ahli fikih yang muhadis. Amin. Allahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here