Hadis Ahad Sebagai Landasan Hukum Islam, Bisakah?

0
26

BincangSyariah.Com – Hadis ahad ialah hadis yang diriwayatkan oleh para Sahabat atau Tabi’in yang jumlah mereka tidak mencapai bilangan mutawatir (banyak). Dalam logika ilmu hadis, semakin banyak perawi sebuah hadits dalam suatu era akan meningkatkan kualitas kesahihan hadits tersebut.

Hal ini dipahami karena ketika ada orang banyak yang meriwayatkan sesuatu, maka secara otomatis tingkat verifikasi kebenarannya pun semakin bisa dipertanggungjawabkan. Sementara bila sebuah hadits hanya diriwayatkan oleh satu atau segelintir orang saja, maka kevalidannya tidak bisa teruji karena proses verifikasi kebenarannya dipertanyakan. Tidak berarti kita hendak menyangka perawi bersangkutan itu berbohong atau mengada-ada, hanya saja riwayatnya tidak memiliki penguat argumen secara kuantitas.

Bisakah hadis ahad sebagai landasan hukum Islam? Para ulama berbeda pendapat terkait hal ini. Kelompok Mu’tazilah dan Khawarij menolak sepenuhnya penggunaan hadis ahad, baik dalam persoalan akidah maupun fikih. Mereka berargumen kalau hadis ahad memungkinkan adanya kekeliruan akibat sebuah dugaan yang tidak terlalu kuat karena adanya potensi kebohongan sehingga keabsahannya kurang diyakini. Jika tidak ada hal lain yang memperkuat kehujjahan hadits ahad ini, maka pengamalannya pun ditangguhkan. Mereka berdalil menggunakan firman Allah QS. Al-Isra [17]: 36,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا

Wa lā taqfu mā laisa laka bihī ‘ilm, innas-sam’a wal-baṣara wal-fu`āda kullu ulā`ika kāna ‘an-hu mas`ụlā

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”

Pendapat kedua, yakni pendapat yang menerima sepenuhnya terhadap hadits ahad sebagai sumber hukum Islam. Pendapat ini dikemukakan oleh Dawud Az-Zhahiri yang menyatakan bahwa bagaimanapun, dalam hadis ahad, terdapat keyakinan bahwa hal tersebut datang dari Rasulullah SAW sehingga wajib untuk diamalkan. Beliau berargumen menggunakan dalil QS. At-Taubah [9]: 122,

Baca Juga :  Hari Ini, Picnikustik Komuji Jakarta Undang TGB Bahas Kemukjizatan Al-Qur'an

فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Wa mā kānal-mu`minụna liyanfirụ kāffah, falau lā nafara ming kulli firqatim min-hum ṭā`ifatul liyatafaqqahụ fid-dīni wa liyunżirụ qaumahum iżā raja’ū ilaihim la’allahum yaḥżarụn

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Ayat tersebut mengindikasikan bahwa tidaklah menjadi masalah jika kita mengamalkan ilmu pengetahuan yang berasal dari satu atau dua orang dari sebuah kelompok karena bagaimanapun juga ia merupakan bagian dari kelompok tersebut. Argumen lain yang digunakan oleh Dawud Az-Zhahiri ialah bahwasanya Rasulullah menerima kesaksian dari hanya satu orang saja yang melihat penampakan hilal.

Ijma’ Sahabat juga mengindikasikan tentang bolehnya berdalil menggunakan hadits ahad. Salah satunya ialah pernyataan umar bin Khattab yang diamini oleh Sahabat lainnya, bahwasanya jika seorang Sa’ad bin Abi Waqash meriwayatkan suatu hadits, maka tidak perlu mencari pembenaran dengan bertanya kepada Sahabat lain terkait apa yang beliau sampaikan. Cukuplah seorang Sa’ad meriwayatkan sesuatu, dan kevalidannya sudah bisa dipertanggungjawabkan.

Pendapat ketiga merupakan pendapat Imam Syafi’i yang menyatakan bahwa hadits ahad bisa dijadikan sebagai alternatif sumber hukum Islam. Ada lima argumen mengapa Imam Syafi’i berpendapat demikian, yakni:

  1. Kita bisa mengqiyaskan hadis ahad dengan persoalan yang sudah ditetapkan dalam Alquran dan hadits mutawatir, seperti penerimaan terhadap persaksian wanita pada persoalan yang tidak diketahui oleh para lelaki.
  2. Rasulullah SAW seringkali menyerukan untuk menjaga dan menghafalkan hadits, baik dilakukan secara individu maupun kelompok.
  3. Para sahabat seringkali merumuskan hukum berdasarkan informasi dari satu orang saja kalangan sahabat.
  4. Nabi pernah mengutus 12 orang sahabat untuk menemui 12 orang raja dengan membawa risalah dari Nabi. Dengan demikian, hanya satu orang utusan untuk satu kerajaan, dan itu sudah dianggap cukup.
  5. Hadis ahad menjadi alternatif bagi para Sahabat apabila mereka tidak menemukan suatu dalil apapun dalam Alquran maupun hadits mutawatir.
Baca Juga :  Apakah Semua Kata Perintah dalam Al-Quran Bermakna Kewajiban

Dengan pendapat ini, Imam Syafi’i ini tetap mendudukkan hadits ahad dibawah kualitasnya hadits mutawatir, namun juga tidak berarti bahwa hadits ahad ini tidak bisa diterima sebagai sebuah argumen hukum Islam.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here