Gus Ulil Hadir di Halalbihalal Komunitas Musisi Mengaji (Komuji) Jakarta

0
238

BincangSyariah.Com – Saya mencoba belajar dari mertua saya Gus Mus, yang mengatakan kalau penceramah itu ada dua “mazhab” pada cara datangnya di suatu acara. Pertama, mazhab yang datang beberapa saat sebelum ia naik ke atas panggung, sehingga tidak datang sejak acara dimulai. Mazhab ini diamalkan oleh kakak mertua saya, yaitu K.H. Cholil Bisri. Alasannya karena ia tidak mau terganggu dengan pidato-pidato yang disampaikan orang-orang sebelum dia, karena itu bisa mengubah susunan pidato yang sudah ia siapkan dalam ingatan. Sementara “mazhab” kedua yang datang sejak awal, dan ini diamalkan mertua saya. Beliau ingin mendengarkan orang-orang yang pidato sebelum dia, karena memang beliau tidak persiapan apa-apa ketika datang”, demikian ungkapan Gus Ulil yang disambut gelak tawa hadirin di acara Halalbihalal Komunitas Musisi Mengaji (Komuji) Jakarta di Twin House, Cipete, Jakarta Selatan. Selain Gus Ulil, ada Habib Husein Ja’far al-Hadar yang juga menjadi pembicara yang diadakan jumat malam (28/4) lalu.

Komuji Jakarta merupakan bagian dari Komuji Indonesia. Untuk cabang Jakarta, komunitas yang baru berumur dua tahun ini diketuai oleh Kikan Namara, eks-vokalis Cokelat. Tujuan didirikannya komunitas ini, seperti diungkapkan Kikan, agar para musisi tetap bisa memiliki wadah untuk belajar agama dengan moderat namun tidak sampai melakukan perubahan drastis, bahkan sampai “menistakan” keahliannya selama ini, yaitu bermusik. Pada acara halalbihalal ini, terlihat beberapa musisi hadir seperti Alga the Panas Dalam, Panji Sakti, Sandy Canester, hingga stand-up comedian seperti Ari Kriting dan Uus.

Dalam ceramahnya, Gus Ulil yang kini akrab dengan pengajian Ihya daring di Facebook ini menyatakan bahwa yang mulai hilang dari semangat beragama hari ini adalah semangat tasawuf. Padahal jika bercermin kepada proses dakwah Nabi Muhammad yang menyampaikan ajaran Islam, Islam hadir sebagai alternatif atas kemapanan sistem yang berlaku di masa Jahiliyah pada waktu itu. Sistem yang seolah tidak mampu didobrak itu, kemudian secara tegas dikritik dengan kehadiran Islam yang mencoba menyajikan sistem alternatif.

Baca Juga :  Meiliana, Toa, dan Diksriminasi Sebab Agama

Dan yang perlu dicatat dari keberagamaan para sufi adalah mereka mengejar kedalaman dalam beragama, seperti kedalaman makna dan bukan kedangkalan seperti misalnya hanya mempertahankan makna lahiriah sebuah teks. “Meskipun, saya tidak mengatakan bahwa bentuk pengamalan tasawuf itu hanya tunggal seperti itu, karena dalam perjalanan sejarah ada ragam bentuk pengamalan kesufian itu,” papar beliau.

Catatan selanjutnya menurut beliau kita perlu mencontoh para sufi yang tidak ingin terjebak kepada bentuk-bentuk lahiriah, karena mereka mengejar apa yang dalam ayat Al-Qur’an disebut wa Libaasu at-Taqwaa dzaalika khoyr (dan pakaian ketakwaan itulah yang baik). “Ini yang seharusnya kita perkuat dalam konteks “hijrah” yang kini sedang menjadi katakanlah tren tersebut”. “Saya tidak menafikan umat Islam untuk menolak identitasnya sebagai muslim, tapi jangan sampai kita merasa bahwa beragama semakin keras, semakin ketat, itu sedang menunjukkan bahwa kita semakin Islami, padahal tidak seperti itu”.

Beliau kemudian membumbui penjelasannya itu dengan apa yang diajarkan kiai yang membimbingnya, almarhum K.H. Sahal Mahfudz, Pati. Beliau, Kiai Sahal, pernah mengatakan bahwa ketika seseorang ditanya tentang perkara agama, maka usahakanlah memberikan jawaban yang semudah mungkin. Tapi jika perkara agama itu untuk diamalkan sendiri, maka usahakanlah untuk mencari praktik yang paling sulit. Karena menurut beliau, di sinilah ajaran para ulama khususnya dari kalangan sufi yang memaksimalkan ibadahnya saat sendiri, namun saat bersama orang lain ia mencari bentuk-bentuk yang paling mudah dan simpel. “Bukankah kita suka melakukan ini, ketika menjadi imam di hadapan orang banyak kita mencoba-coba membaca surat yang panjang, tetapi ketika sendirian justru hanya surat-surat pendek saja”, ungkapnya seraya mengajak merefleksikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here