Gus Baha: Tradisi Pesantren Mengajarkan Kesederhanaan

0
1121

BincangSyariah.Com – K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang biasa disapa Gus Baha selalu bergaya sarungan, nyantri, tapi penontonnya di Youtube sudah ratusan ribu orang. Gus Baha selalu menunjukkan kesederhanaan setiap kali tampil berceramah. Gus Baha selalu mengajarkan kesederhanaan kepada jamaahnya. Ada sesuatu dalam diri Gus Baha yang mampu diterima banyak orang. Itulah mengapa banyak orang menyukainya baik saat ceramah offline maupun dalam banyak video yang beredar.

Sejak kecil, Gus Baha memang ingin menjadi wali. Untuk itu, ia bekomitmen dalam hatinya, bahwa ia hanya ingin mengenalkan ajaran Allah Swt. yang indah, bahwa ajaran Allah Swt. adalah solusi dalam kehidupan. (Ngaji Gus Baha: Tertawa karena Menyadari Rahmat Allah yang Luas)

Dalam video Narasi Tv bertajuk Lebih Dekat dengan Gus Baha, ia mengaku tidak pernah terpikir untuk menjadi viral atau terkenal. Sampai sekarang pun, ia tidak tahu bahwa video dakwahnya terkenal di Youtube.

Keinginan Gus Baha untuk menerangkan hukum Allah Swt. bukan bertujuan agar ia ingin dikenal, tapi agar hukum Allah Swt. dikenali dan dipahami. Baginya, kebenaran dimulai karena diperkenalkan. Untuk itu, Gus Baha ingin memperkenalkan Allah Swt. Sebab, menyembunyikan ilmu adalah dosa, jadi harus dibagikan.

Dalam video tersebut, Quraish Shihab menambahkan bahwa penyampaian dakwah yang ramah adalah menjadikan orang simpati, yang menjadikan orang hormat, yang menggambarkan sifat-sifat Tuhan, al-jamaal, sifat keindahan-Nya, kebaikan-nya. Jangan tunjukkan sifat Tuhan yang keras.

Sang presenter, Najwa Shihab, bertanya, bagaimana agar bisa meniru dakwah yang ramah? Apakah model dakwah yang ramah adalah karena kebiasaan ataukah bisa dibentuk seiring berjalannya waktu?

Qurasih Shihab menjawab dengan pengalaman pribadinya. Beliau menceritakan bahwa ia hanya mondok di pesantren selama dua tahun, mengenyam pendidikan belasan tahun di Kairo, tapi hubungannya dengan guru saat di pesantren Habib Abdul Qadir masih terjalin erat. Yang paling Quraish Shihab rasakan adalah keikhlasan sang guru yang menegur tanpa marah dan mengajar tanpa pamrih.

Baca Juga :  Kisah Cucu Nabi Saw. Makan Bersama Orang-Orang Miskin di Pinggir Jalan

Gus Baha menambahkan bahwa ada rasa yang masih orisinil dalam pesantren. Sebagai misal, ada sebuah kisah tentang seorang wali yang bertanya, “kalau bisa makan satu piring kenapa harus korupsi?”

Tradisi pesantren mengajarkan untuk melihat kehidupan normal menjadi hal yang luar biasa. Gus Baha melanjutkan bahwa bapaknya pernah mengajarkan tentang orang di pasar yang menerima transaksi 5ribu sampai 10ribu tapi bisa langsung bersyukur. Kita yang punya uang jutaan tapi masih susah bersyukur.

Ajaran pesantren menganggap yang pokok adalah pokok dan yang sekunder adalah sekunder sehingga mengetahui apa saja yang berlebih. Sebagai misal, uang berjumlah satu juta terasa sangat banyak. Tradisi keluarga menjadikan hidup nyaman dan terbiasa melihat hidup dengan sederhana. Ada satu quote dari bapaknya yang Gus Baha ingat, “orang-orang miskin senang itu mewah, tidak usah diganggu.”

Gus Baha mengutip salah satu surah dalam Al-Qur’an yakni Quran Surat at-Takatsur sebagai berikut:

 أَلْهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ

al-hākumut-takāṡur

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,”

 حَتَّىٰ زُرْتُمُ ٱلْمَقَابِرَ

ḥattā zurtumul-maqābir

“Sampai kamu masuk ke dalam kubur.”

 كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ

kallā saufa ta’lamụn

“Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),”

 ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ

ṡumma kallā saufa ta’lamụn

“dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.”

 كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ ٱلْيَقِينِ

kallā lau ta’lamụna ‘ilmal-yaqīn

“Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,”

 لَتَرَوُنَّ ٱلْجَحِيمَ

latarawunnal-jaḥīm

“Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,”

 ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ ٱلْيَقِينِ

ṡumma latarawunnahā ‘ainal-yaqīn

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin.”

 ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ

ṡumma latus`alunna yauma`iżin ‘anin-na’īm

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).”

Baca Juga :  Bolehkah Mantan Koruptor Menjadi Caleg dalam Hukum Islam?

Quraish Sihab kembali menambahkan, “dalam agama, akal harus diasah tapi hati juga harus diasah. Metakkan sedikit rasa di akalmu supaya dial urus. Letakkan juga sedikit akal di perasaanmu. Manusia terdiri dari jiwa dan raga akal dan rasa harus menyatu. Rasa bisa mengalahkan akal. Cinta hilang akal dikalahkan oleh rasa. Akal tidak bisa menciptakan iman dan cinta.”

Sebagai penutup, Gus Baha juga menyampaikan bahwa di pesantren ada tradisi guyon yang ringan, ilmiah, tapi bikin ceria, ringan tapi mendidik. Guyonan tersebutlah yang membentuk dirinya menjadi orang yang sangat menghargai kesederhanaan. Baginya, selalu ada pelajaran dari setiap hal, bahkan yang dianggap sepele sekalipun.

Hal itulah yang membuatnya masih sering berjalan-jalan bersama anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Selalu ada pelajaran yang bisa ia ambil dalam tiap perjalanan.

Gus Baha berkata, “kayak apa celakanya kita, kalau bahagia menunggu maksiat dulu, harus melakukan hal yang buruk. Allah Swt. menyediakan sekian kesenangan dari hal-hal yang dibolehkan.”[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here