Golongan yang Selamat

6
737

BincangSyariah.Com – Siapa golongan yang selamat dan dijamin masuk surga? Ini pertanyaan yang selalu muncul dalam perbincangan masyarakat muslim, baik masa lalu maupun belakangan ini. Dalam setiap peristiwa konflik keagamaan, dalam kerangka perebutan kekuasaan politik, masing-masing kelompok mengklaim diri sebagai kelompok yang selamat dan pasti masuk surga, sementara kelompok lainnya pasti masuk neraka. Perdebatan tak pernah selesai.

Mayoritas ulama berpandangan bahwa mereka yang masuk surga adalah golongan Ahlussunnah wal Jama’ah. Pandangan ini didasarkan pada sebuah hadis Nabi,

اِفْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً، وَافْتَرَقَتْ النَّصَارَى عَلَى اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً، وَسَتْفَتِرقُ هَذِهِ الْأُمَّةُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً.

Umat Yahudi telah terpecah menjadi 71 kelompok. Semuanya masuk neraka, kecuali satu kelompok. Umat Nasrani terpecah menjadi 72 kelompok, semuanya masuk neraka, kecuali satu. Umatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan.

Dalam teks lain disebut,

سَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ اِلَّا وَاحِدَةً.

“Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan semuanya masuk neraka kecuali satu.”

Para sahabat bertanya, “Siapakah satu golongan yang selamat itu”? Nabi menjawab, “ma ana ‘alaihi wa ashhabi,” “golongan yang berjalan di atas petunjukku dan para sahabatku.”

Ini bunyi hadis yang paling banyak disebut. Tetapi sebagian ulama ada yang menyebut “mereka adalah al-Jama’ah.” Sebagian lagi menyebut “Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah”. Bahkan dalam pandangan paling akhir, mereka yang selamat adalah al-Asya’irah wa al-Maturidiyyah, para penganut aliran teologi Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi.

Pandangan yang terakhir ini sangat populer. Komentator kitab Ihya Ulum al-Din, dalam buku Ithaf Sadat al-Muttaqin, menyatakan, “Jika disebut Ahlussunnah wal Jama’ah, maka secara otomatis adalah para pengikut Asy’ari dan Maturidi.”

Baca Juga :  Hukum Bersalaman dengan Mencium Tangan

Bagaimana sesungguhnya otentisitas atau validitas hadis ini? Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, editor kitab al-Farq Baina al-Firaq, karya Abdul Qahir al-Baghdadi, mengatakan tentang hadis ini,

اِعْلَمْ أَنَّ الْعُلَمَاءَ يَخْتَلِفُوْنَ فِيْ صِحَّةِ هَذَا الْحَدِيْثِ. فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُوْلُ إِنَّهُ لَا يَصِحُّ مِنْ جِهَةِ الْإِسْنَادِ أَصْلًا لِأَنَّهُ مَا مِنْ إِسْنَادٍ رُوِيَ بِهِ إِلَّا وَفِيْهِ ضَعِيْفٌ. وَكُلُّ حَدِيْثٍ هَذَا شَأْنُهُ لَا يَجُوْزُ الْإِسْنَادُ بِهِ. وَمِنْ هَؤُلَاءِ أَبُوْ مُحَمَّدٍ بْنُ حَزْمٍ صَاحِبُ كِتَابِ الْفِصَلِ.

Ketahuilah bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai kesahihan hadis ini. Sebagian mengatakan hadis ini tidak sahih dari sisi sanad (transmisi/riwayat) sama sekali. Karena tidak ada sanad mengenai hadis ini kecuali ada kelemahan di sana. Setiap hadis yang demikian keadaannya tidak boleh dijadikan dasar hukum.Di antara mereka adalah Muhammad bin Hazm, penulis buku al-Fishal.

Pendapat Imam al-Ghazali

Imam al-Ghazali (w. 1111 M), sufi besar sekaligus hujjatul Islam, “sang argumentator Islam” itu, mempunyai pendapat atau menyampaikan informasi yang menarik dan berbeda dari pandangan mainstream tersebut di atas. Ia menyebut sejumlah hadis lain, al-halikah minha wahidah, “yang binasa di antara mereka hanyalah satu golongan”; hadis lain menyebut kulluha fi al-jannah illa al-zanadiqah, “semuanya masuk surga kecuali golongan zindik.”

Zindik adalah kosakata yang diambil dari bahasa Persia, bukan bahasa Arab, atau bahasa Persia yang kemudian diserap ke dalam bahasa Arab (farisiy mu’arrab). Lalu siapakah golongan ini?

Jawaban para ahli berbeda-beda. Sebagian orang mengidentifikasi zindik dengan ateis (tidak bertuhan). Sebagian yang lain menyebut mereka adalah kelompok munafik.

Pandangan lain menyebut golongan dualisme, yakni mereka yang meyakini ada dua Tuhan: Tuhan Baik dan Tuhan Jahat, atau Terang dan Gelap, atau Ruh dan Benda, Jiwa dan Tubuh, dan lain-lain.
Imam al-Ghazali (juga) menjelaskan lebih lanjut, “Riwayat hadis mengenai isu ini berbeda-beda. Yang populer memang yang pertama (semua masuk neraka kecuali satu golongan).

Baca Juga :  Pemikiran Ibnu Taimiyyah Tentang Pengkafiran Pembangkang Zakat: Sebuah Koreksi

Bila kita meyakini bahwa golongan yang selamat atau yang masuk surga adalah satu golongan, maka sesungguhnya dimaksudkan adalah orang-orang yang masuk surga tanpa hisab (pertanggungjawaban), tanpa syafaat. Karena orang yang dihisab termasuk orang yang dihinakan (mudzallah). Demikian juga orang yang tidak mendapat syafaat. Ia orang yang dihinakan.

Jadi ada orang yang disiksa dengan cara dimintai pertanggungjawaban, ada orang yang ditempatkan di dekat neraka, lalu setelah beberapa lama ditolong, ada yang dimasukkan ke neraka terlebih dahulu untuk menjalani hukuman setimpal perbuatan dosa dan kesalahannya.”[]

[Tulisan ini disadur dari buku Lawaamii’ al-Hikmah ‘Pendar-pendar Kebijaksanaan’]

6 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.