Ghasab dan Penjelasan Lengkap tentang Keharamannya

2
2054

BincangSyariah.Com – Biasanya, Ghasab yang marak terjadi di lingkungan pesantren adalah ghasab sandal. Sungguh amat lucu saat melihat santri berangkat ke masjid memakai sepatu sekolah. Ada juga santri yang numpang bahu atau minta gendong pada teman yang lain. Bahkan ada santri yang jalannya seperti kanguru. Ia melompat-lompat dengan satu kaki dikarenakan hanya kebagian sandal sebelah. Anggaplah santrinya 50 puluh, tapi sandalnya 40 puluh pasang. Hingga muncul bahasa santri “Siapa yang cepat dia yang bersandal, siapa yang lambat dia yang kenak begal”.

Tidak cukup sampai di situ, bahkan ketika sandal temannya sudah tidak ada milik pengurus pondokpun “disikat”. Mungkin dalam benaknya mengira “jangankan hanya sandal yang harganya tidak seberapa, ilmunya yang tak ternilai dikasih secara cuma-cuma kok”.

Semua ini mungkin masih bisa dimaklumi. Mereka sudah saling kenal dan paham atas keadaan santri di pondok. Hanya saja ketika yang dibegal bukan milik sesama santri, baru hal ini tidak bisa dibiarkan. Mereka perlu ditegur atau dikasih punishment yang mendidik. Sebut saja wali santri yang sedang ngirim anaknya. Mau pulang masih disibukkan dengan mencari sandal yang hilang terlebih dahulu.

Dari sedikit paparan cerita  kehidupan santri di atas, lantas bagaimana sebenarnya agama memandang prilaku ghasab, bukan hanya di lingkungan di pesantren yang kebanyakan dipraktekkan oleh kaum sarungan di pondok pesantren?

Menurut bahasa ghasab adalah mengambil sesuatu secara paksa dan terang-terangan. Sedangkan menurut istilah, ghasab berarti menguasai harta (hak) orang lain dengan tanpa izin (melampaui batas). Ghasab ini dilakukan secara terang-terangan, hanya saja tanpa sepengetahuan pemiliknya. Berbeda dengan pencurian yang memang dilakukan secara diam-diam. Ghasab juga tidak harus berbentuk pada barang yang konkret, hal yang abstrak seperti kemanfaatan juga masuk didalamnya. Mulai dari duduk didepan teras rumah orang lain tanpa izin sampai numpang bercermin di kaca spion motor milik orang laini.

Baca Juga :  Bijak Menggambarkan Akhirat pada Anak

Hal ini memang tidak mengurangi kualitas dan kuantitas barangnya secara langsung, namun tetap saja kita telah mengambil manfaat dari barang yang dighasab. Karena yang dimaksud ghasob secara definitive adalah mengambil manfaat suatu barang tanpa idzin dari pemilik barang.

Hukum Melakukan Ghasab

Berdasarkan sejumlah ayat, hadis, dan pendapat ulama’, ghasab itu hukumnya haram.  Dalam kitab Kifayatu al-Akhyar, pekerjaan ghasab pada salah satu dosa besar. Adapun firman Allah Swt. yang menjadi rujukan hukum ghasab ini adalah Surat Al-Baqarah [2]: 188,

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui.

Imam At-Thabari dalam kitabnya (Jami’ul Bayan Fi tafsir Al-Qur’an Lith-thobari) menjelaskan bahwa maksud kata memakan dengan batil dari ayat tersebut adalah dengan cara memakan yang tidak diperbolehkan oleh Allah Swt.

Jadi, dapat ditarik simpulan bahwa ghasab (menggunakan milik orang lain tanpa izin) berdasarkan ayat tersebut hukumnya haram dan sangat dilarang oleh Allah. Entah ghasab pakaian, sandal, bantal, gayung, payung, dan barang-barang yang lain, hukumnya sama-sama tidak boleh. Bahkan berdasarkan ayat tersebut ketika dilihat dari kaca mata ushul fiqh maka ada 2 (dua) hal yang dapat kita simpulkan. Pertama, larangan (nahyi) tersebut menunjukkan keharaman dari pekerjaan ghasab. Kedua, larangan tersebut mewajibkan kita untuk menjahui perkara ghasab.

Lantas, bagaimana jika kita sudah terlanjur melakukan ghasab atau sudah terbiasa dengannya? Maka, jawabannya segera bertobat dan berhenti dari kebiasaan ghasab. Semua barang atau benda yang pernah kita ghasab harus dikembalikan dan meminta maaf pada pemiliknya. Namun jika barang yang dighasab telah mengalami kerusakan sebab pemakaian kita, maka hukumnya wajib mengganti sesuai kondisi barang saat dighasab. Ini berdasarkan hadist Nabi Muhammad Saw yang terdapat dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab (Hal 227 Juz 14 versi Maktabah Syamilah),

لا يأخذ أحدكم متاع أخيه لاعبا أو جادا، فإذا أخذ أحدكم عصا أخيه فليردها

Baca Juga :  Menyikapi Perbedaan dalam Ajaran Islam

Janganlah diantara kalian mengambil barang milik saudaranya, baik secara main-main atau sungguh-sungguh. Apabila salah satu dari kalian mengambil tongkat milik saudaranya maka hendaklah ia mengembalikannya.

Intinya degan berbagai macam alasan apapun, kebiasaan ghasab ini secara lambat laun harus dihilangkan, apalagi dari lingkungan pesantren. Hal-hal yang bernilai ibadah seperti mondok di pesantren, namun dicampuri dengan perkara haram seperti ghasabmaka pasti akan memengaruhi nilai kebaikannya..



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

2 KOMENTAR

  1. […] Ghasab berasal dari bahasa Arab yang berarti merampas atau setengah memaksa. Sedangkan secara umum ghasab adalah mempergunakan barang milik orang lain dengan niatan tidak memilikinya tanpa sepengetahuan pemiliknya. Kata ghasab sudah tidak asing di kalangan pesantren jawa, khususnya kebiasan ghasab sandal. Perbuatan ghasab sandal termasuk perbuatan yang tidak bertanggung jawab pada diri sendiri dan dapat merugikan orang lain. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here