Gelombang Baru Philantropy Islam di Indonesia

0
236

BincangSyariah.Com –  Isu politik yang hingga saat ini belum juga selesai ditambah imbas perang ekonomi di dunia menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi keberadaan philantropy di Indonesia. satu sisi kondisi ini menjadi kerugian philantropy karena masyarakat sibuk saling menjatuhkan satu sama lain. Philantropy kehilangan fokus masyarakat untuk saling berbagi.

Namun di sisi lain kondisi ini menjadi keuntungan bagi philantropy. Istilah “hijrah movement” mulai berkembang pasca kisruhnya politik di Indonesia. pendukung salah satu calon yang kalah dalam pemilihan umum misalnya, mencoba mencari jalan lain sebagai bentuk representatif kekecewaan mereka.

Trend hijrah atau mujahadah dimanfaatkan lembaga philantropy di Indonesia untuk mengajak masyarakat berubah hingga menggerakkan umat. Upaya menggaet masyarakat baru hijrah dilakukan dengan mengelola isu-isu kemanusiaan, kemiskinan, bencana, dan hal lain yang membuat masyarakat terkesan merasakan kesusahan saudara semuslim.

Penguatan philantropy lembaga menjadi achiveable dan measureable mengajak masyarakat berjihad atas nama hijrah dilakukan melalui beberapa hal:

1. Growth mindset, merubah pola pikir masyarakat untuk membantu sesama, menolong orang lain, dan menciptakan kepedulian. Istilah berubah dari tidak baik menjadi baik dikelola oleh lembaga Philantropy.

2. Program is the king. Inovasi program dan kreatifitas campaign menjadi challange tersendiri bagi lembaga Philantropy untuk menjangkau masyakarat secara global.

3. Trust Customer. Penguatan Komunikasi dan aksi secara berkesinambungan menjadi komitmen lembaga philantropy Indonesia saat ini untuk menciptakan “nilai” berarti bagi masyarakat.

4. Formula di atas dibentuk untuk menciptakan konstruksi kedermawanan mindset base, menjadi sebuah kebiasaan (habit) yang mau tidak mau tidak dapat ditinggalkan. Donasi masyarakat yang kian hari semakin bertambah, semakin menentukan keberadaan posisi philantropy di Indonesia.

Baca Juga :  Membaca Al-Qur'an bisa Jadi Syafaat, Bisa Juga Laknat, Mengapa?

Mengajak dan merubah pola pikir masyarakat untuk berpartisipasi menguatkan philantropy nyatanya bukan soal mudah. Lembaga philantropy di Indonesia mau tidak mau harus berlomba-lomba mengoptimalkan strategi marketing masing-masing.

Salah satu caranya dengan menentukan target market bidikan lembaga secara tepat sasaran berdasarkan data konsumen yang solid. Selain itu, program pemasaran yang dibangun harus memicu interaksi dan partisipasi aktif dari pelanggan. Nilai menjadi fokus, kepercayaan menjadi tujuan.

Lembaga Philantropy juga berupaya mengaget simpul-simpul massa sesuai dengan target massa yang dituju dan melakukan kolaborasi dengan mereka. Strategi jitu tersebut nyatanya turut menguatkan posisi lembaga. Isu-isu keislaman mulai dinaikkan, dikembangkan bahkan dikelola hingga bernilai. Tak aneh, bila saat ini philantropy berusaha menjalin hubungan dengan pemerintah, selebriti, influenzer, brand, hingga ustadz ternama untuk mendapat impact besar dengan cost rendah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here