Ganti Rugi Kerusakan dan Kehilangan dalam Akad Gadai

0
13

BincangSyariah.Com – Ganti rugi merupakan sebuah istilah lain dari upaya meminta pertanggungjawaban atas suatu kasus yang menimbulkan kerugian (dharar) oleh satu pihak kepada pihak lain, baik secara langsung (mubasyir) maupun secara tidak langsung (mutasabbib). Pembahasan tentang ganti rugi ini dalam kitab-kitab fikih turats, sering dimasukkan dalam ruang bahasan tersendiri, yaitu rumpun dhaman.

Intinya, bahwa di dalam Islam, setiap adanya kerugian membutuhkan adanya pertanggungjawaban (al-khaaraj bi al-dhamman) dari pelakunya. Seberapa besar bea kerugian itu harus dikeluarkan dan ditunaikan? Maka dalam hal ini harus menyesuaikan dengan besarnya kerugian yang ditimbulkan.

Jika kerugian itu berakibat pada rusaknya barang (talaf), maka secara otomatis mengganti barang (ta’widh) adalah bagian dari upaya melakukan ganti rugi kerusakan (dhaman al-talaf).

Jika kerugian itu timbul karena adanya suatu akad, maka sisi ganti rugi yang harus dilakukan adalah ganti rugi berkaitan dengan jenis akad yang diambil.

Jika timbulnya kerugian adalah diakibatkan oleh akad sewa misalnya, maka solusi bagi kerugian yang terjadi adalah diukur dengan relasi akad sewa.

Jika ganti rugi itu berkaitan dengan akad gadai, maka timbulnya kerugian harus diukur degan relasi akad gadai. (Baca: Apakah Barang Gadai yang Tidak ditebus, Otomatis Jadi Hak Milik Pegadaian?)

Kerugian Materiil dan Imateriil

Meskipun ada banyak model ganti rugi (dhaman), namun satu kesimpulan yang  bisa menyatukan kesemuanya itu, adalah ganti rugi menjadi wajib hukumnya itu diberlakukan manakala kerugian itu sudah bisa ditetapkan kadarnya.

Alhasil, penetapan kadar kerugian ini merupakan bagian dari rukun materiil dari ganti rugi. Silsilah dari penetapan ini adalah mengambil nomenklatur ganti rugi dari akad jual beli (buyu’).

Namun, di sisi lain, ada kerugian yang sifatnya sulit untuk ditetapkan ukurannya, namun jelas atau nyata adanya pihak yang merugi akibat aktvitas pihak lain ini. Misalnya adalah akibat polusi, maka banyak burung menjadi lari, kualitas udara menjadi buruk, banyak orang yang sakit efek tidak langsung dari polusi itu. Alhasil, sifat kerugian semacam ini sulit untuk ditetapkan kadarnya, namun alam menunjukkan tabiatnya sehinngga nampak nyata adanya korelasi.

Kerugian terakhir ini merupakan bagian dari rukun immateriil (bukan materi). Oleh karenanya, solusi yang dipergunakan adalah solusi dengan mengambil rumpun dari akad ta’widh manfaatnya barang. Alhasil, rumpun yang diambil adalah rumpun akad ijarah, sebab melibatkan hilangnya kemanfaatan di sisi yang tidak kasat mata (manfaat al-ain).

Kita akan coba dalami masalah ganti rugi ini secara langsung berkaitan dengan kerugian yang timbul dalam relasinya dengan akad gadai. Anda tahu gadai (rahn) bukan? Iya, gadai (rahn) merupakan salah satu praktik transaksi muamalah yang legal dalam Islam.

Transaksi ini merupakan cabang  dari  akad utang,  dan utang merupakan cabang dari akad jual beli, dengan mengambil  rumpun jual beli  tempo, atau barter tempo. Alhasil, obyek akad (ma’qud ‘alaih) dalam gadai adalah terjadinya “barter bertempo” sebagai  ciri khas dari akad “utang” itu.

Status Barang dalam Akad Gadai

Di dalam fikih turats, kedudukan barang dalam gadai, bukanlah merupakan ma’qud ‘alaihnya utang, melainkan ia hanya sebagai tautsiq, yaitu kepercayaan agar pihak murtahin (pegadaian) tidak ragu  dalam mengucurkan dana utang, sebab dijamin pelunasannya secara tepat waktu (waqtu al-hulul). oleh rahin / penggadai barang.

Bagaimana jika tidak tepat waktu? Tidak tepat waktu pelunasan utang ini secara tidak langsung berujung adanya kerugian (dharar) bagi pihak pegadaian (murtahin). Apalagi jika ketidaktepatan waktu tersebut merupakan  unsur kesengajaan. Jelas, tindakan  kesengajaan semacam ini merupakan delik tersendiri sebagai  sebab timbulnya kerugian (dharar) pihak lain.

Meski kerugian akibat tindakan penundaan itu tidak bersifat materiil namun keberadaannya bisa dicarikan solusi. Caranya? Dengan menjual objek yang dijadikan jaminan utang (dlaman al-dain).

Alhasil, barang yang menjadi penengah (wisathah) akad gadai itu, secara fikih berlaku sebagai barang jaminan utang (dhaman al-dain). Kita sering menyebut barang jaminan semacam ini sebagai agunan. Itu sebabnya, gadai pada dasarnya juga bisa disebut sebagai kredit beragun aset (utang berjamin aset).

Status Hak Kepemilikan dan Kerusakan Agunan Gadai

Ini adalah salah satu pertanyaan yang  seringkali diajukan oleh  banyak kalangan masyarakat. Sudah pasti, karena gadai bukanlah akad jual beli, melainkan yang berasal dari  akad utang, maka hak milik atas barang agunan terseut  adalah masih menjadi haknya rahin (penggadai).

Dari sini muncul pertanyaan susulan, lalu ketika barang itu ditaruh di pegadaian, maka status menaruh tersebut termasuk muncul dari akad apa? Jawabnya, adalah sudah pasti muncul dari akad tiitip barang (wadi’ah). Pihak pegadaian berlaku sebagai pihak yang dititipi (wadi’), dan pihak penggadai selaku pemilik barang bertindak selaku yang menitipkan (mudi’).

Dengan demikian, konsekuensi dari akad wadi’ah ini adalah adanya pihak yang ditiitipi, menjadi terikat (luzumah) untuk menyediakan tempat penyimpanan barang  titipan dengan menyesuaikan jenis barang yang dititipkan (fi khirzin mitslih).

Mengapa? Sebab jika terjadi kerusakan pada barang akibat keteledoran pihak yang dititipi (wadi’ / murtahin), maka pihak yang menitipkan barang (mudi’ / rahin) boleh untuk mengklaim ganti rugi atas kerusakan (dllaman al-talaf) sebagai relasi langsung dengan kewajiban “melakukan penyimpanan” terhadap barang titipan. Jadi, namanya saja berperan selaku pihak yang ditiitipi, maka ia harus bertanggung jawab dalam menyimpan barang (dlaman al-fi’li). Jika tidak, maka wadi’ harus mengeluarkan ganti rugi kerusakan.

Agunan Tidak Ditaruh di Pegadaian

 Sifat menaruh barang gadai di pegadaian ini pada dasarnya adalah bukan sebuah keharusan, melainkan hanya berstatus jaizah (mubah). Ini karena berangkat dari akad wadi’ah (titip). Bayangkan jika titip barang merupakan hal yang diwajibkan! Tanah, rumah, dan aset tak bergerak lainnya (ghaira manqul) menjadi tidak bisa dijadikan agunan.

Padahal, di dalam syariat berlaku kaidah yang  menjelaskan segala sesuatu yang bisa disewajasakan, maka bisa pula digadaikan (kullu ma jazat ijaratuhu, jaza rahnuhu).

Tanah, bukan hanya menjadi tidak bisa digadaikan, bahkan menjadi tidak bisa disewakan jika ada ketentuan bahwa barang gadai harus ditaruh di pegadaian, sebagaimana kaidah di atas.

Nah, hal yang sama juga berlaku untuk kategori barang manqul (aset bergerak). Alhasil, agunan memang tidak  harus diserahkan secara materi ke pegadaian atau ke perbankan atau semua pihak yang menerima gadai.

Akan tetapi, bagaimanapun juga, pihak yang menerima akad gadai (murtahin) juga harus sadar dengan risiko bahwa bila barang tidak  dititipkan di pegadaian, maka baranag tersebut akan menerima perlakuan seperti ini:

  1. Pihak rahin (penggadai) akan terus memanfaatkan barang
  2. Barang akan mengalami masa susut nilai akibat penggunaan
  3. Suatu ketika, barang gadai bisa jadi akan mengalami kerusakan yang parah dan benar-benar harganya menjadi tidak sesuai lagi dengan total utang yang harus dilunasi ke pegadaian dengan agunan barang tersebut, dan lain-lain

Bagaimanapun juga, risiko-risiko ini merupakan bagian yang pasti akan diperhatikan dan dipertimbangkan oleh pegadaian. Sebab, kerusakan pada barang gadai, adalah tanggung jawab rahin (penggadai) sendiri. Mengapa? Ya karena baarang itu adalah masih    sah menjadi miliknya.

Bagaimana dengan pegadaian?  Pegadaian bukan pemilik barang,  namun ia yang  menerima pemberian utang dengan agunan aset tersebut. Alhasil, bila barang agunannya rusak, imbas risikonya ya ke utang / kredit yang sudah dikucurkan itu. Apa itu risikonya? Kredit macet, barang agunan rusak, tidak memiliki penjamin lain yang  bisa djual untuk menuntut pelunasan.

Ujungnya, pihak pegadaian berperan selaku penderita kerugian secara tidak langsung. Nah, dalam kondisi semacam ini, lalu apa yang akan dilakukan oleh pihak pegadaian atau bank? Untuk jawabannya, simak dalam tulisan berikutnya! Insyaallah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here