Gambaran Bagaimana Seorang Pemimpin Dibangkitkan di Hari Kiamat dalam Hadis Nabi

1
1301

BincangSyariah.Com – Imam Ghazali menjelaskan dalam Kitab Ihya Ulumuddin bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan orang lain terselip unsur ibadah di dalamnya. Contohnya kepemimpinan, kekuasaan, dan lain sebagainya.

Akan tetapi menurut Imam Ghazali, kebanyakan orang-orang yang bertakwa cenderung menghindarkan diri dari jabatan dan kedudukan yang tinggi. Dikarenakan mengandung bahaya yang cukup besar, yaitu sebab batin manusia mudah tergerak untuk mencintai harta, kedudukan dan hal-hal lain yang membahayakannya. Rasulullah Saw bersabda

من والي عشرة إلا جاء يوم القيامة مغلولة يده إلى عنقه أطلقه عدله أو أوبقه جوره

“Setiap orang yang menjadi pemimpin dari sepuluh orang pada hari kiamat kelak ia akan datang dengan belenggu yang terlilit pada lehernya. keadilannya yang akan melepaskan belenggu itu dan kezalimannyalah yang akan memperkuat belenggu itu” (HR. Bukhari & Muslim)

Karena itulah, jelas Imam Ghazali, seseorang yang bijak seharusnya benar-benar melihat kepada kemampuan diri sendiri. Jika keinginannya yang dominan adalah untuk mencari pahala, maka silakan saja melakukanya.

Adapun untuk mengetahui apakah terdapat tanda-tanda keselamatan pada kepemimpinan seorang pemimpin tandanya adalah jika muncul orang yang menggantikannya, dimana ia lebih cakap darinya, maka ia akan merasa senang atasnya. Pemimpin yang demikian yang dimaksudkan oleh Rasulullah dalam hadisnya berikut

ليوم من إمام عادل خير من عبادة الرجل وحده ستين عاما

“Sungguh satu hari yang dipimpin oleh seorang pemimpin yang adil jauh lebih baik daripada ibadah seseorang yang dilakukan sendirian selama enam puluh tahun.” (HR. Baihaqi)

Berdasarkan hadis ini, Imam Ghazali menerangkan bahwa kedudukan tu sejatinya mengandung racun sekaligus obat penawar. Jika kedudukan tinggi yang dicapai tersebut tidak disertai ambisi untuk mencapainya dan tidak sampai melalaikan dari mengingat Allah, maka status kedudukan tersebut sama seperti ketika kita menggunakan harta yang banyak dengan sikap kedermawanan yang tinggi, mengutamakan orang lain dan bermanfaat bagi banyak orang. Itu menunjukkan bahwa ia tidak gila akan kekuasaan dan benar-benar menjalankan amanat kepemimpinan untuk kepentingan orang-orang yang dipimpinnya. Wallahu’alam.

Baca Juga :  Pengajian Ihya' Gus Ulil: Mengajarkan Anak Kesederhanaan dan Sikap Berbagi

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here