Fragmen Gus Baha: Belajar Meyakini Kekuasaan Allah lewat Nyamuk

1
876

BincangSyariah.Com – Di bulan puasa kemarin, terunggah video Gus Baha yang menyampaikan pengajian di acara al-Mudarasah al-Qur’aniyyah al-‘Umumiyyah. Seperti terlihat dalam latar panggung, tertulis “Pengajian Pitulasan di Masjidil Aqasha Menara Kudus pada tanggal 3-27 Ramadan 1440.

Beliau memulai penjelasan terkait dengan mukjizat Al-Qur’an dengan kenyataan yang mungkin dianggap bukan bagian dari “mukjizat”. Kata beliau, kita harus bersyukur bahwa umat Islam, umat Nabi Muhammad saw. ini adalah umat yang – alhamdulillah – masih tetap beriman meskipun “tidak ditunggui” Nabi Muhammad saw. Tapi, sadarkah kita bahwa itu adalah alasan mengapa Rasulullah saw disebut afdhol al-anbiya’ (Nabi yang paling sempurna), karena beliau bisa mengantarkan umat manusia ini untuk mengingat Allah dengan cara apa saja tanpa harus dipertontonkan mukjizat terlebih dahulu?

Gus Baha memulai penjelasannya bahwa seperti diketahui bahwa mukjizat itu seringkali didefinisikan amrun khoriqun li al-‘aadah (perkara yang bertentangan dengan kondisi atau model pada umumnya). Beliau mengatakan,

“Yang dikatakan mukjizat itu kan sesuatu yang menurut nalar manusia tidak mungkin dilakukan manusia. Misalnya mukjizat unta Nabi Sholeh – itu kan menurut akal manusia tidak sampai. Atau tongkat Nabi Musa yang bisa membelah lautan. Tapi pikiran itu menurut mazhab kita – sebenarnya adalah pikiran yang salah atau keliru. Yang seperti itu, tidak bisa jadi waliyullah (disambut gelak tawa penonton)

Kenapa seperti itu? Padahal bukankah sesuatu yang kita anggap normal itu di alam semesta, kita tidak bisa membuatnya juga kan? Contohnya bisakah kita membuat unta persis seperti unta yang hidup itu? Bisakah kita membuat laut? Atau membuat nyamuk? Membuat patung nyamuk saja dengan ukuran serupa dengan nyamuk yang hidup saat ini, mungkin orang Jepara yang ahli-ahli di bidang kayu tidak akan mampu.  

Pernah suatu ketika kaum musyrikin mengatakan,

Baca Juga :  Delapan Tips Agar Hafalan Menjadi Kuat

لو لا أوتيه مثل ما أوتي موسى

Seandainya Nabi Muhammad diberikan (mukjizat) layaknya yang diberikan kepada Nabi Musa

Lalu, Allah Swt. berfirman dalam surah al-An’am [6]: 38,

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُم ۚ

Dan tidaklah yang berjalan di muka bumi serta burung yang terbang dengan dua sayapnya, melainkan ia adalah umat-umat seperti kalian juga.

Karena itu juga Allah mengatakan kalau Dia tidak malu sama sekali mengambil contoh nyamuk (ba’uudhoh) dan yang (tentu) lebih besar lagi sebagai contoh kemahakuasaan-Nya. Ketika dicontohkan ayat ini, kaum-kaum musyrikin berseloroh, Tuhan Nabi Muhammad kekurangan contoh sampai harus bawa-bawa nyamuk. Hal seperti ini kemudian dijawab dalam surah al-Baqarah [2]: 26,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَن يَضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِين

Sesungguhnya Allah tidak malu untuk menyajikan contoh berupa nyamuk serta yang lebih besar lagi. Maka orang-orang yang beriman (mendengar hal itu) mengetahui bahwa itu merupakan yang haq dari Tuhannya. Adapun orang-orang yang kafir, mereka mengatakan Apa yang Allah maksud dengan contoh itu?! dengan perumpaan tadi Allah (berkuasa) menyesatkan banyak orang dan memberikan petunjuk (juga) untuk banyak orang. Dan (Allah) tidaklah menyesatkan dengan perumpamaan ini melainkan hanya orang-orang fasik (yang tersesat).

Coba bayangkan, bisakah kita membuat nyamuk seperti yang nyamuk hidup saat ini. Seekor nyamuk tentu punya organ, organnya nanti punya urat, lalu di dalam organ itu nanti ada kuman atau makhluk yang lebih kecil lagi. Makhluk itu juga punya “organ”, lalu organnya punya urat juga.

Maka dari sini, sekali lagi ini menjawab mengapa Rasulullah saw. disebut sebagai afdhol al-anbiyaa’ (Nabi yang paling utama), karena kita dididik untuk terus beriman dan menyadari bahwa kekuasaan Allah itu terlihat jelas di sekitar kita. Kita tidak bergantung dengan mukjizat yang harus melampaui kebiasaan semisal membelah lautan, karena yang kita anggap “normal” dan biasa saja pun kita tidak mampu membuatnya sendiri.

Baca Juga :  Para Pesepakbola yang Berlebaran di Negeri Beruang Merah

 

1 KOMENTAR

  1. […] Jika terdapat pertanyaan apakah Allah mampu menciptakan segala sesuatu? Maka jawabanya ialah iya, Allah mampu menciptakan segala sesuatu. Tetapi jika terdapat pertanyaan apakah Allah mampu menciptakan sekutu baginya? Maka jawabanya ialah hal tersebut menyalahi ketentuan sifat kuasa Allah. Pertanyaan apakah Allah mampu menciptakan sekutu baginya telah keluar dari ketentuan sifat kuasa Allah. (Belajar Memahami Kekuasaan Allah Lewat Nyamuk) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here