Fragmen Gus Baha: Agar Kembali Sadar Dahsyatnya Mukjizat Nabi Muhammad

1
531

BincangSyariah.Com – Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari bahwa Nabi Saw. menegaskan bahwa semua Nabi dahulu itu diberikan tanda-tanda kebesaran Allah berupa mukjizat. Mukjizat itu kemudian membuat manusia di masa Nabi itu hidup menjadi beriman dengan yang diajarkan oleh sang Nabi. Rasulullah Saw. bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: “مَا مِنَ الأَنْبِيَاءِ مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ قَدْ أُعْطِيَ مِنَ الآيَاتِ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ، وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْياً أَوْحَى الله إِلَيَّ، فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعاً يَوْمَ الْقِيَامَةِ”.

Dari Abu Hurairah Ra., bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “tidaklah dari setiap Nabi melainkan dianugerahi tanda-tanda kekuasaan Allah (mukjizat) dimana mukjizat itu membuat orang-orang di masa itu beriman. Dan sesungguhnya mukjizatku adalah wahyu (berupa Al-Qur’an) yang diwahyukan Allah kepadaku. Maka aku berharap aku menjadi Nabi yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat.”

Lewat sabda ini, Nabi Saw. ingin menegaskan dan merubah “paradigma” masyarakat di masa itu – dan terbukti sampai saat ini – bahwa mukjizat Nabi Muhammad Saw. adalah Al-Qur’an. Maksudnya adalah, apa yang terkandung di dalam Al-Qur’an tentang berbagai macam informasi baik tentang hari akhir hingga kisah-kisah masa lalu, kita sendiripun sebenarnya tidak mampu melampauinya.

Misalnya, bagaimana Allah Swt. lewat wahyunya menyadarkan kita untuk kembali beriman hanya dengan contoh seekor nyamuk (ba’uudhoh). Padahal, dengan kesadaran kita bahwa penciptaan dan adanya nyamuk dalam keseharian kita itu kita sendiri tidak mampu untuk membuat yang sama persis seperti itu. Terkait dengan hadis ini, ditegaskan oleh Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari,

أن المعجزات الماضية كانت حسية تشاهد بالأبصار كناقة صالح وعصا موسى، ومعجزة القرآن تشاهد بالبصيرة فيكون من يتبعه لأجلها أكثر، لأن الذي يشاهد بعين الرأس ينقرض بانقراض مشاهده. والذي يشاهد بعين العقل باقٍ يشاهده كل من جاء بعد الأول مستمرًّا

Baca Juga :  Pengajian Tafsir Quraish Shihab: Laut dan Sungai dalam Alquran (Ar-Rahman: 17-24)

bahwa mukjizat terdahulu itu sifatnya indrawi yaitu dilihat dengan mata kepala, seperti unta Nabi Sholih atau tongkat Nabi Musa. Sementara mukjizat Al-Qur’an dapat disaksikan dengan bashirah (pandangan akal dan jiwa yang sehat) maka yang mengikutinya dapat lebih banyak. Karena yang disaksikan dengan mata kepala saja akan hilang dengan hilangnya yang pernah menyaksikannya. Sementara yang bisa disaksikan dengan akal atas terus eksis, dapat disaksikan siapa saja terus menerus.

Ini penting ditegaskan karena di zaman Nabi Saw., orang-orang yang belum beriman pada waktu itu mengeluarkan tawaran-tawaran misalnya seperti disebutkan dalam firman Allah dalam surah al-Isra’: 90-92,

وَقَالُوا لَن نُّؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْأَرْضِ يَنبُوعً ***  أَوْ تَكُونَ لَكَ جَنَّةٌ مِّن نَّخِيلٍ وَعِنَبٍ فَتُفَجِّرَ الْأَنْهَارَ خِلَالَهَا تَفْجِيرًا *** أَوْ تُسْقِطَ السَّمَاءَ كَمَا زَعَمْتَ عَلَيْنَا كِسَفًا أَوْ تَأْتِيَ بِاللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ قَبِيلًا

dan mereka berkata kami tidak akan beriman sampai engkau memunculkan mata air dari dalam bumi untuk kami (90) Atau engkau (munculkan sehingga) ada kebun hijau berisi pohon kurma dan anggur dan dialirkan di sela-sela kebun itu aliran-aliran sungai (91) atau engkau jatuhkan langit berkeping-keping diatas kami, atau engkau datang bersama Allah dan Malaikat di hadapan kami (92) 

Tawaran-tawaran seperti inilah yang dirubah dengan menghadirkan sebuah mindset baru bahwa semua yang ada di alam semesta ini adalah tanda-tanda kekuasaan Allah. Misalnya bagaimana kerbau tetap terjaga populasi, tidak perlu diajarkan bagaimana berkembang biak, dan masih banyak lagi. Kalau ini sudah kita pahami, maka barulah iman disini menjadi tepat posisinya. Yaitu, kesadaran bahwa Allah Swt. itu terhadap apa saja yang ada di alam semesta ini berkuasa terhadapnya (ahaatho bikulli syai’in ‘ilma).

Baca Juga :  Kisah Harun Ar-Rasyid dan Ustadz Amatir

1 KOMENTAR

  1. […] Pesan dari ayat ini adalah, untuk menunjukkan kekuasaan-Nya, Allah bahkan tidak merasa sungkan, atau tidak percaya diri layaknya makhluk-Nya, untuk menggunakan perumpaan yang sangat sederhana sekali, misalnya nyamuk. Dalam ayat tersebut juga, disebutkan kalau orang beriman pasti mengerti kalau ada kebenaran pada pengambilan nyamuk sebagai contoh dari Allah. Sementara bagi orang yang tidak beriman (kafir), ia malah memungkiri dan meremehkan, “kok, nyamuk mau menunjukkan kebesaran Tuhan.” (Lihat: Fragmen Gus Baha: Agar Sadar Betapa Dahsyatnya Mukjizat Nabi Muhamamad) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here