Fisikawan Marcelo Gleiser: Ateisme Tidak Konsisten dengan Metode Ilmiah

0
55

BincangSyariah.Com –  Saat ditanya Scientific American mengapa ia menentang ateisme, fisikawan asal Brazil, Marcelo Gleiser menyatakan bahwa ateisme tidak sejalan dengan metode ilmiah. Ia menyangsikan ateisme sebagai pernyataan. Baginya, pernyataan tersebut justru merupakan bentuk mengungkapkan kepercayaan pada ketidakpercayaan.

Marcelo Gleiser adalah ilmuwan fisika yang lahir pada 19 Maret 1959. Ia merupakan seorang fisikawan dan astronom Brasil. Saat ini, ia menjadi Profesor Fisika dan Astronomi di Dartmouth College. (Baca: Kebenaran Agama Lain menurut Abdul Karim al-Jili)

Gleiser menerima gelar sarjana pada tahun 1981 dari Pontifícia Universidade Católica do Rio de Janeiro, M.Sc. gelar pada tahun 1982 dari Universidade Federal do Rio de Janeiro, dan gelar Ph.D. pada tahun 1986 dari King’s College London. Setelah itu, ia bekerja sebagai peneliti postdoctoral di Fermilab hingga 1988 dan sejak itu hingga 1991 di Kavli Institute for Theoretical Physics.

Melanjutkan pernyataannya tentang ateisme, ia membandingkan ateisme dengan sains. Ia menjelaskan bahwa dalam dunia sains, pernyataan tidak benar-benar diyatakan dalam deklarasi. Saat mendapatkan hipotesis, saintis harus memiliki beberapa bukti yang menentang hasil penelitiannya.

“Jadi, jika ada seorang agnostik yang berkata, lihat, saya tidak memiliki bukti untuk Tuhan atau tuhan apa pun. Pertama-tama, kita mesti bertanya, Tuhan apa, Tuhan yang mana? Dewa Maori, atau Dewa Yahudi atau Kristen atau Muslim? Dewa mana itu?” Tanyanya.

Di sisi lain, ia juga menyatakan bahwa orang agnostik akan mengaku tidak memiliki hak untuk membuat pernyataan akhir tentang sesuatu yang tidak dia ketahui. Baginya, tidak adanya bukti bahwa Tuhan ada bukanlah bukti ketidakhadiran Tuhan.

Ia mengaku sangat menentang semua orang yang ia sebut sebagai “Ateis Baru” dan ingin menyampaikan pesan bahwa ia menghormati keyakinan dan penalaran orang yang mungkin berbasis komunitas, atau berbasis martabat, dan sebagainya.

Baca Juga :  Kebebasan Berpendapat di Media Sosial

Baginya, pesan kerendahan hati, keterbukaan pikiran dan toleransi adalah kebutuhan paling mendesak untuk etos penelitian dalam bidang apa pun. Intinya adalah memahami sains modern dalam kerangka ini berarti mengembalikan umat manusia ke dalam semacam pusat moral alam semesta, di mana manusia memiliki kewajiban moral untuk menjaga planet ini. Termasuk kewajiban manusia menjaga kehidupannya dengan segala sesuatu yang dimiliki.

Ia berpesan bahwa apa yang benar-benar semua orang butuhkan saat ini di dunia yang semakin terpecah belah adalah mitos pemersatu yang baru, yakni mitos sebagai cerita yang mendefinisikan suatu budaya.

Mitos tersebut, menurutnya, bisa dilakukan dengan menggunakan astronomi, menggunakan apa yang telah manusia pelajari dari dunia lain, untuk memposisikan diri kita di dunia, bahwa manusia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan alam semesta.

Marcelo Gleiser berhasil memenangkan Templeton Prize tahun 2019 lalu. Penghargaan dari John Templeton Foundation tersebut berlangsung setiap tahun. Penghargaan diberikan pada individu yang berhasil memberikan kontribusi luar biasa untuk meneguhkan dimensi spiritual kehidupan.

Penerima penghargaan Templeton Prize termasuk tokoh-tokoh ilmiah seperti Sir Martin Rees dan Freeman Dyson, serta pemimpin agama atau politik seperti Bunda Teresa, Desmond Tutu dan Dalai Lama.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here