Firman Allah agar Menang Tidak Terlalu Berbangga, Kalah tidak Bersedih

0
1749

BincangSyariah.Com – Dalam Islam, setiap musibah telah digariskan oleh Allah SWT. Allah lah yang membuat manusia tertawa dan menangis dengan setiap keputusan-Nya, “huwa adhaka wa abka”. Perlu kiranya kita membuka Alquran dan merenungkan apa kandungan makna yang terdapat dalam surah al-Hadid: 22-23 berikut,

 مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ ٢٢

لِّكَيۡلَا تَأۡسَوۡاْ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُواْ بِمَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٍ ٢٣

  1. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
  2. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Poin penting dalam dua ayat di atas adalah, pertama bahwa setiap bencana atau pun musibah telah digariskan oleh Allah dalam lauhul mahfud. Kedua, orang yang tertimpa musibah tidak perlu terlalu kecewa dan berputus asa, sebaliknya orang yang sedang diberikan banyak kenikmatan tidak perlu terlalu hanyut di dalam kesenangan. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.

Menurut al-Thabari (w. 310 H) dalam tafsir Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an disebutkan bahwa yang dimaksud dengan firman Allah surah al-Hadid ayat 22 adalah bahwa setiap musibah yang menimpa umat manusia di bumi, seperti kekeringan, paceklik atau puso (=gagal panen) dan semua bentuk musibah yang menimpa adalah takdir yang telah ditetapkan oleh Allah sebelum manusia diciptakan. Demikian pula dengan musibah yang menimpa diri manusia secara personal, seperti rasa lapar, rasa sakit baik jasmani atau rohani (=seperti kekecewaan), dan semua bentuk bencana pada diri manusia juga telah ditetapkan oleh Allah jauh jauh hari sebelum manusia ada. Pernyataan al-Thabari ini didasarkan kepada riwayat yang bersumber dari Ibn ‘Abbas, Qatadah, Manshur bin ‘Abdur Rahman dan banyak lagi ulama klasik yang lainnya.

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Tidak Semua Kenikmatan Harus Dipublikasi

Adapun ayat ke 23 dalam surah al-Hadid di atas memiliki makna bahwa setiap musibah yang menimpa manusia memang membuat mereka terpuruk, kecewa atau bahkan depresi. Allah SWT melalui ayat ini berusaha untuk menenang-nenang manusia agar tidak terlampau hanyut di dalam kesedihan, kegundahan dan kekecewaan. Sebab semua yang dilewati oleh manusia hanyalah sebatas persoalan duniawi. Rasa sakit yang dirasakan tidak akan terbanyak dengan keterpurukan yang terlampau dalam.

Sebaliknya, orang yang merasa dirinya dimenangkan oleh Allah SWT tidak perlu berlebihan dalam berbangga diri, sebab Allah tidak menyenangi orang yang sombong dan angkuh. Dalam kondisi yang terjadi baru-baru ini, penulis mengapresiasi paslon nomor urut 1, bapak Jokowi yang tidak terlalu berbangga dan menunggu keputusan akhir dari KPU. Sikap tersebut secara zahir sangat sesuai dengan firman Allah dalam surah al-Hadid ini. Demikian beberapa penafsiran al-Thabari yang dapat penulis utarakan di sini.

Sebagai seorang muslim, Alquran di samping sebagai sumber hukum Islam, ia juga dianggap sebagai obat bagi manusia. Dan di sinilah peran al-Quran yang memberikan ketenangan batin bagi setiap kekecewaan. Dalam surah al-Isra [17]: 82 disebutkan,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَارًا

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian

Semoga menginspirasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here