Fikih Ekonomi (7): Menghindari Maisir dan Gharar

2
1833

BincangSyariah.Com – Dalam tulisan sebelumnya, penulis telah menjelaskan tentang riba (Baca: Fikih Ekonomi (6): Menghindari Riba). Selain riba, praktik yang harus dihindari dalam transaksi binis adalah maisir (perjudian) dan gharar (penipuan). Apa yang dimaksud dengan maisir dan gharar?

Secara bahasa gharar berarti tidak jelas, mengimplisitkan risiko, dan bahaya. Makna gharar sangat tergantung pada kondisi masyarakat. Setiap daerah akan sangat mungkin gharar-nya berbeda dengan daerah lainnya. Tidak sama seperti riba yang kemungkinan perbedaannya akan jarang.

Ibn Qayyim menjelaskan bahwa gharar adalah ketika penjual tidak dapat menyerahkan barang kepada pembeli, terlepas apakah barang tersebut ada atau tidak. Imam al-Sarakhsi mendefinisikan gharar sebagai perjanjian apapun yang akibatnya disembunyikan. Wahbah al-Zuhaili mengatakan bahwa gharar adalah kontrak yang mengandung risiko bagi salah satu pihak mana pun, yang mana dapat mengakibatkan pihak tersebut kehilangan hartanya.

Pada masa Nabi, praktik gharar dilakukaan dengan dua cara, yaitu mulamasah dan munabazah. Mulamasah adalah jual beli yang dilakukan dengan cara penjual hanya meraba isi karung. Sedangkan munabazah adalah penjual diputuskan ketika pembeli potensial meneruskan karungnya kepada pembeli potensial lainnya.

Jenis gharar yang saat ini terjadi setidaknya bisa kita bagi ke dalam tiga bentuk. Pertama, gharar yang dikarenakan tidak adanya nilai-nilai penyeimbang yang dipertukarkan atau tidak adanya kontrol para pihak atas materi pokok bahasan (objek) yang hendak dipertukarkan. Istilah gharar ini lebih dikenal settlement risk atau contra-party risk.

Kedua, gharar karena tidak akuratnya informasi tentang objek yang ditransaksikan. Di antara Informasi yang perlu disampaikan adalah harga, jenis, kuantitas, tanggal penyerahan, dan lain-lain.

Ketiga, gharar yang kompleksitas yang harusnya tidak ada dalam kontrak. Seperti menggabungkan dua penjualan dalam satu kontrak atau lebih yang saling berkaitan. Misalnya seorang penjual menjual barangnya hari ini dengan harga Rp. 100.000.000 secara tunai, dan harus dibayarkan Rp. 110.000.000 tahun depan. Si pembeli kemudian hanya mengatakan “saya terima”. Tanpa merinci harga mana yang dia terima. Dalam kasus lain adalah kontrak hibrid. Dalam kasus yang seperti ini masing-masing akad mesti berdiri sendiri, tidak boleh menyatu.

Baca Juga :  Tengku Zulkarnain Sebarkan Hadis Palsu tentang Orang Zalim? Ini Uraiannya

Sementara itu, dalam bahasa indonesia maysir adalah perjudian. Istilah lain dalam bahasa Arab adalah qimar. Perjudian adalah aktivitas taruhan di mana pemenang akan mengambil seluruh taruhan dan pihak yang kalah akan kehilangan taruhannya. Transaksi seperti ini adalah transaksi yang dapat dipastikan salah satu pihak akan untung di samping pihak lain pasti akan mengalami kerugian, padahal keduanya sama-sama menamkan modal.

Keharaman perjudian tercantum dalam surah al-Maidah ayat 90-91. Ayat ini mengatakan akibat yang akan timbul dari perjudian perseteruan antar masyarakat dan akan mengalihkan perhatian orang mukmin dari menyembah Allah. Itu lah mengapa Allah melarang perjudian.

Sumber : ISRA, Sistem Keuagan Islam: Prinsip dan Operasi

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here