Fikih Ekonomi (6): Hak Milik dalam Islam

0
2352

BincangSyariah.Com – Hampir semua kita telah memahami apa yang dimaksud dengan hak milik. Tapi mungkin hanya sebagian kecil dari kita yang benar-benar memahami cara Islam mengelola hak milik. Untuk itu tulisan ini ingin memberikan ulasan tentang apa itu hak milik dan bagimana pengelolaannya.

Secara etimologi hak milik adalah sebuah kekuatan yang didasari oleh syariat untuk menggunakan sebuah objek. Kekuatan tersebut bervariasi bentuk dan tingkatannya. Ada kepemilikan lengkap yang menjadikan pemilik hak tersebut dapat berbuat sepenuhnya terhadap objek yang dia miliki. Ada juga hak milik tersebut terbatas. Pemilik dalam memanfaatkan hartanya terbatas pada norma-norma tertentu.

Secara umum hak milik yang mutlak adalah Allah. Sedangkan manusia adalah nisbi. Ibnu Taimiyah membagi hak milik menjadi tiga. Pertama hak milik individual. Kedua, hak milik sosial atau kolektif. Terakhir adalah hak milik negara.

Hak Milik individual

Setiap manuasa berhak untuk menguasai suatu objek. Ia boleh menggunakan hak miliknya tersebut secara bebas. Namun kebebasan itu dilimitasi oleh ketentuan-ketentuan Syariah. Seperti tidak boleh menggunakannya untuk kejahatan, semena-mena, dan tujuan bermewah-mewahan.

Norma lain yang diajarkan Islam adalah melarang pemiliknya melakukan penimbunan. Sehingga orang-orang yang membutuhkan tidak dapat memperoleh barang tersebut. Terkait ini Islam juga melarang adanya monopoli. Sebagaimana Allah Swt berfirman:

مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya: Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (Q.S. al-Hasyr: 7)

Baca Juga :  Latihan Menghilangkan Sepuluh Sifat Hewani dalam Diri Manusia Saat Puasa Ramadhan

Untuk itu Islam mengajarkan adanya kewajiban terhadap hak milik. Kewajiban terhadap hak milik terbagi kepada kewajiban terhadap diri sendiri dan sosial. Perbuatan yang harus dilakukan tersebut terbagi pada fardhu ‘ain (kewajiban harus dilakukan secara pribadi), fardhu kifayah (kewajiban kelompok, namun jika salah satu dari mereka telah melakukan maka kewajiban yang lainnya gugur) dan mustahab (sunnah).

Tindakan terhadap objek kepemilikan ini sangat bergantung pada moral. Seperti ketika ada seseorang yang membutuhkan pinjaman maka pemilik barang harus memberikan. Dengan catatan jika tidak dipinjamkan maka akan mengancam keselamatan orang tersebut. Untuk itu seseorang tidak diperbolehkan pelit.

Hak Milik Sosial atau Hak Milik Kolektif

Hak kepemilikan ini adalah terhadap objek yang dimiliki oleh lebih dari satu orang. Untuk harta milik kolektif tersebut harus diperlakukan sebagaimana diperjanjikan atau kesepakatan mereka. Tidak boleh saling mencurangi atau melakukan hal-hal yang dapat mencederai kepemilikan bersama.

Contoh lain kepemilikan kolektif adalah wakaf. Ketika seorang telah melepaskan hartanya untuk kepentingan wakaf maka harus diperlakukan untuk kepentingan umum.

Ada tiga objek yang secara khusus disebutkan dalam hadis Rasulullah Saw sebagai objek milik Bersama. Ketiga benda tersebut adalah air, rumput dan api. Ketiganya adalah alam yang diberikan Allah secara cuma-Cuma, itu lah mengapa harus dimiliki bersama. Ibnu Taimiyah mengatakan ketiga jenis barang ini bukan bersifat limitatif, tapi sangat terbuka. Ketika ada sifat barang alamiyah yang sama dengan ketika barang tersebut maka seyogiyanya itu menjadi hak milik bersama.

Hak milik negara

Negara harus mendapatkan hak milik karena untuk menjalankan pemerintahan membutuhkan harta benda yang dikuasai. Sumber kekayaan negara dalam Islam dapat berupa zakat, ghanimah (harta hasil peperangan), infak, sedekah, pajak, dan harta yang tidak memiliki tuan dan/ atau yang ditelantarkan.

Baca Juga :  Bolehkah Memohon Ampunan untuk Kedua Orang Tua yang Non-Muslim?

Dalam Islam kekayaan negara bukanlah milik kepala negara. Tapi milik semua rakyat. Karenanya kepala negara mesti memanfaatkan kekayaan tersebut untuk kepentingan rakyat. Kedudukan kepala negara hanya sebagai orang yang diberikan amanah.

 

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here