Fikih Ekonomi (1): Pengertian Muamalah

0
337

BincangSyariah.Com – Sebagai pembuka perlu kami sampaikan bahwa tulisan ini akan disajikan berseri. Tema tulisan-tulisan ini  adalah “Fikih Muamalah Sehari-hari”. Artinya persoalan yang akan kita bahas tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Sebelum membahas lebih jauh apa dan bagaimana muamalah itu, mari kita bahas sedikit tentang pentingnya belajar fikih muamalah. Fikih muamalah adalah satu bagian dari dua pembagian yaitu: fikih  ibadah dan mu’amalah.

Fikih ibadah adalah fikih yang berkaitan dengan aktivitas peribadatan, yang bersifat individual. Keduanya sangat penting untuk kita pahami karena ia berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Belajar fikih muamalah sama pentingnya dengan belajar fikih ibadah. Kita harus mengetahui minimal aspek-aspek mendasar fikih muamalah. Itulah mengapa tulisan ini perlu disampaikan. Tulisan-tulisan ini kedepannya akan terfokus pada ada lima (5) topik besar, yaitu: (1) pengantar yang sedang Anda baca; (2) harta dan kepemilikannya; (3) perjanjian; (4) lembaga-lembaga ekonomi; dan (5) penyelesaian sengketa.

Pengertian Muamalah

Muaamalah secara bahasa berarti saling melakukan atau saling menukar. Artinya perbuatan muamalah adalah perbuatan yang melibatkan lebih dari satu orang yang berakibat timbulnya hak dan kewajiban. Secara umum ulama fikih mengartikan muamalah sebagai hukum “syariah atau perundang-undangan” yang berkaitan dengan keduniaan, lebih sempit lagi adalah transaksi bisnis. Dari penjelasan di atas dapat kita pahami bahwa ketentuan bermuamalah harus patuh kepada ketentuan hukum Islam dan ketentuan peraturan perundang-undangan. Keduanya tidak dapat dicerai pisahkan.

Bisnis dalam hal ini mencakup jasa, persekutuan bisnis dan barang. Sedangkan uang bukan objek transaksi, karena uang hanya sebagai alat tukar yang di antara fungsinya adalah sebagai alat ukur dari nilai barang atau jasa. Jual beli uang apalagi “penggandaan”nya tidak boleh dilakukan.

Baca Juga :  Anggota Keluarga yang Wajib Dibayarkan Zakat Fitrah

Kami pribadi kurang setuju dengan adanya istilah bisnis keuangan syariah. Hal ini karena uang bukan merupakan objek yang dapat dijadikan objek bisnis. Adapun usaha yang dilakukan bank adalah hanya sebatas bisnis jasa. Untuk itu, ada problem ketika perbankan syariah di Indonesia menerapkan transaksi jual beli, karena akan bertentangan dengan ketentuan hukum Indonesia yang tidak membolehkan perbankan atau lembaga keuangan lainnya memiliki aset untuk diperdagangkan, karena fungsi utamnya adalah perantara.

Untuk membedakan ketiga model transaksi di atas, kita dapat melakukannya dengan melihat aspek objek yang diperjanjikan. Ketika yang diperjanjikan adalah manfaat, maka itu termasuk transaksi jasa yang keuntungannya disebut sebagai ujrah atau fee. Namun ketika yang diperjanjikan adalah barang apakah berwujud atau tidak berwujud (untuk pembahasan ini akan kita uraikan di depan) maka itu disebut transaksi barang, keuntungannya disebut dengan ribh. Sedangkan objek dari perjanjian persekutuan adalah kepercayaan, kepercayaan untuk saling melakukan kerjasama bisnis, sehingga yang dibagi adalah nisbah yaitu bagian keuntungan atau kerugian. (Baca: Fikih Ekonomi (2): Harta dan Kepemilikannya dalam Islam).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here