Figur Ayah Qur’ani : Luqman Al-Hakim (2)

0
1572

BincangSyariah.com – Setelah memberikan pelajaran tauhid kepada anaknya sebagaimana dijelaskan dalam Ayat 13, interaksi antara Luqman dan anaknya kembali terjadi pada ayat 16 surah Luqman.

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

“(Lukman berkata), ”Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti” (Q.S Luqman : 16)

Abu Laits As-Samarqandy Dalam Bahr Al-‘Ulum menyatakan bahwa dalam ayat ini, Luqman tak serta merta memberi nasihat demikian. Ada interaksi tanya jawab dalam peristiwa itu. Dalam hal ini pertanyaannya tidak dicantumkan, itu hal yang lumrah terjadi dalam Al-qur’an, dalam kajian Ilmu Balaghah namanya I’jaz.

وذلك أن ابن لقمان قال لأبيه: يا أبتاه إن عملت بالخطيئة حيث لا يراني أحد، فكيف يعلمها الله سبحانه وتعالى. فرد عليه لقمان وقال: يا بُنَيَّ إِنَّها إِنْ تَكُ يعني: الخطيئة إِنْ تَكُ مِثْقالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ

“dan (ayat itu turun) karena putranya Luqman pernah bertanya ‘wahai ayah, jika aku melakukan kesalahan yang tidak dilihat orang lain, maka bagaimana mungkin Allah SWT mengetahuinya?.’ Luqman menjawab pertanyaan itu dengan berkata  ‘wahai anakku, sesungguhnya perbuatanmu (kesalahanmu) itu jika beratnya sebesar biji sawi….”

Selain menjelaskan kemahabesaran Allah, disini Luqman al-Hakim juga menyisipkan pesan pada anaknya, bahwa Allah itu Maha Adil.  Allah akan memberi kebijakan sesuai porsinya masing – masing, bukan hanya dalam kebaikan, namun juga keburukan. Ini senada dengan firman Allah di surat Al-Zalzalah (7-8),

Baca Juga :  Ketika Ibnu Taymiyah Membahas Sifat Allah Dengan Melihat Bandingannya yang Dimiliki Makhluk

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8

“Maka, barangsiapa yang melakukan amal kebaikan sebesar biji sawi, maka ia akan melihat (hasilnya). Dan barangsiapa melakukan perbuatan buruk sebasar biji sawi, maka ia akan melihat (hasilnya) pula”

Dalam Tafsir Al-Mawardi disebutkan bahwa yang dimaksud Yaraa / melihat di ayat ini ada 3 pendapat, ada yang mengatakan maksud disitu adalah sekecil apapun amal, di akhirat kita akan mengetahuinya, bahkan kita akan dibuat kaget tanpa sadar kita pernah melakukan hal itu. Ada pula yang mengatakan yang dimaksud pada ayat ini adalah ia bisa membaca buku catatan amalnya. Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud disini adalah mendapatkan balasannya dari Allah SWT. Disini kita tahu, bahwa Luqman juga mengajarkan pada anaknya bahwa ia tidak bisa lepas dari pengawasan Allah SWT. Bahwa ia tak akan bisa bersembunyi dimanapun dari pengawasan Allah.

Di ayat selanjutnya, Luqman berwasiat kepada putranya :

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Wahai anakku, dirikanlah sholat, menyerulah pada kebaikan,cegahlah kemungkaran, dan bersabarlah atas apa – apa yang menimpamu. Sesungguhnya demikian itu termasuk sesuatu yang penting” (Q.S Luqman : 17)

Isi wasiat itu begitu tegas, sehingga disitu Luqman menggunakan format Fi’il Amr dalam memberikan wasiat. Disitu ada 4 point yang ditekankan Luqman, yaknu : Shalat, mengajak pada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan sabar atas musibah. 4 poin ini adalah 1 kesatuan yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. 4 poin itu merupakan intisari syariat Islam yang sudah sewajarnya menjadi konsern utama orang tua dalam mendidik anak – anaknya, setelah penanaman nilai – nilai tauhid.

Baca Juga :  Cara Menuntun Orang Menghadapi Sakaratul Maut Sesuai Sunah

Sholat adalah implementasi dari sifat penghambaan, secara tidak langsung sholat adalah aplikasi dari nilai – nilai tauhid yang diwasiatkan Luqman pada ayat 13. Ini adalah bukti, bahwa tauhid yang diajarkan Luqman tidak sebatas sebuah i’tikad dalam hati, namun juga perlu diimbangi dengan pengaplikasian nilai – nilai ubudiyah. Selain punya nilai tauhid, Sholat juga punya pengaruh yang cukup konkrit dalam kehidupan sosial. Dan hal ini sejalan dengan firman Allah surah al-‘Ankabut: 45,

أقم الصلاة، إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر

Dirikanlah Shalat, sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar 

Selain itu, ini menunjukkan bahwa perintah sholat yang diwasiatkan Luqman, juga menjadi support system bagi anaknya untuk melakukan wasiat selanjutnya, yakni mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran. Karena, psikologi sesorang yang taat mengerjakan shalat mempunyai rasa penghambaan yang jauh lebih besar dibanding yang tidak melakukan. Hal inilah yang akhirnya mendorong seseorang untuk menjauhi larangan – larangan tuhan, ataupun melanggar norma – norma masyarakat.

Sedangkan mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah poin nilai sosial yang harus selalu ditegakkan oleh tiap insan manusia. Aplikasi dari 2 poin ini  sangat kompleks. Karena, menurut Al-Qusyairi dalam tafsirnya :

الأمر بالمعروف يكون بالقول، وأبلغه أن يكون بامتناعك بنفسك عما تنهى عنه، واشتغالك واتصافك بنفسك بما تأمر به غيرك، ومن لا حكم له على نفسه لا ينفذ حكمه على غيره.

“Menyeru pada kebaikan bisa dikerjakan dengan ucapan, namun yang paling utama adalah mencegah dirimu sendiri dari larangan – larangan yang berlaku, serta disibukkannya dan dibayang-bayanginya dirimu oleh ajakanmu sendiri kepada orang – orang. Karena orang yang tidak disiplin pada dirinya sendiri akan kesulitan mendisiplinkan orang lain”

Penafsiran Al-Qurthubi menunjukkan bahwa menyuarakan ajakan kepada kebenaran dan mencegah kemungkaran adalah salah satu terapi untuk berproses menjadi insan yang lebih baik dalam melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran pada diri sendiri.

Baca Juga :  Figur Ayah Qur’ani : Luqman Al-Hakim (1)

Poin terakhir dari ayat tersebut adalah sabar.sabar adalah antiklimaks atau solusi bagi manusia untuk menghadapi tekanan – tekanan yang dihadapi selama proses Al-Amr bil ma’ruf wa An-Nahy anil munkar. Menurut Al-Qurthubi, setiap manusia yang menyuarakan aspirasinya untuk kedua hal tersebut pasti akan mendapat cobaan dari Allah SWT. Entah lewat presseur manusia, maupun halangan – halangan teknis. Jadi solusinya adalah sabar. Bukankah kita diperintahkan untuk mejadikan sholat dan sabar sebagai penolong?

واستعينوا بالصبر والصلاة، وإنها لكبيرة إلا على الخاشعين

Artinya : “dan mintalah pertolongan dari sabar dan shalat, sesungguhnya keduanya pasti terasa sangat berat, kecuali bagi orang – orang yang khusyu”(Q.S Al-Baqarah : 45)

Luqman adalah 1 dari sekian banyak figur ayah yang kiranya bisa kita jadikan patokan dalam menyusun strategi – stategi parenting sebagai seorang ayah. Banyak yang mengira, menjadi suami dan ayah adalah 1 hal yang sama, padahal dalam pendekatan psikologis dan agama keduanya memiliki perbedaan yang cukup kompleks. Ilmu menjadi seorang suami tak bisa diimplementasikan secara utuh dalam menjadi seorang ayah. Luqman menunjukkan pada kita, bahwa  balutan pengetahuan psikologis sangat penting dalam penanaman nilai – nilai kehidupan anak, baik dalam kehidupan beragama maupun kehidupan sosial masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here