Fenomena Matinya Kepakaran, Bagaimana Al-Quran Menjelaskan Kepakaran?

0
11

BincangSyariah.Com – Ada sebuah fenomena unik yang terjadi pada masyarakat milenial belakangan ini. Fenomena dimana banyak orang tanpa latar pendidikan yang jelas berpendapat seenaknya sendiri. Entah itu persoalan politik, ekonomi, kesehatan, bahkan terkait masalah agama.

Celakanya, banyak orang awam yang mempercayai mereka ketimbang para pakar di bidangnya. Hal ini diperparah oleh berkembangnya sosial media yang siapapun bisa berbicara apa saja dan dapat didengarkan oleh siapa saja. Fenomena ini disebut oleh seorang profesor dari Harvard University, Tom Nichols dan menjadi salah satu judul bukunya, The Death of Expertise (Matinya Kepakaran).

Para pakar seakan kehilangan otoritasnya di mata masyarakat. Hal ini sangat berbahaya bagi keteraturan kehidupan masyarakat. Kehidupan ini tidak bisa dilepaskan dari seorang pakar dalam berbagai aspeknya. Seperti contoh seorang pakar di bidang kesehatan gigi, kita menyebutnya dokter gigi. Bila sakit gigi, otomatis kita akan mendatangi dokter, bukan orang lain.

Dapatkah kita bayangkan, apabila kita sendiri tiba-tiba merasa sakit gigi amat berat, obat warung tidak mempan, sakitnya sampai membuat tidak tidur, lalu kita tidak dapat menemukan seorang dokter gigi. Bagaimana tersiksanya diri kita. Satu-satunya yang dapat menyelesaikan masalah kita adalah dokter gigi, seorang pakar di bidangnya.

Begitupun Pakar di bidang lain juga sama pentingnya, seperti guru, pilot, presiden, dan sebagainya. Terlebih, pakar di bidang agama, yakni ulama.

Secara tersirat, Al-Qur’an merespons fenomena ini. Al-Qur’an memerintahkan untuk menyerahkan sesuatu kepada pakarnya. Perhatikan potongan ayat QS. An-Nahl [16]: 43.

…فَسْــئَلُوْۤا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“…maka bertanyalah kepada Ahli Dzikr (pakar suatu bidang) jika kamu tidak mengetahui,”

Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang musyrik yang tidak percaya bahwa nabi berasal dari manusia biasa (dari fisiknya). Jika memang membawa pesan Tuhan, seharusnya nabi bukan dari kalangan manusia biasa, tapi malaikat atau serupanya.

Baca Juga :  Tidak akan Mati Hati Seseorang yang Menghidupkan Malam Ied, Hadis atau Bukan?

Al-Qur’an pun membantah mereka. Namun, bukan dengan menjelaskan faktanya secara langsung, melainkan dengan perintah untuk bertanya kepada ahli dzikr. Lalu, siapa yang dimaksud dengan ahli zikir (ahl ad-dzikr) pada ayat di atas. Kata ahl bermakna dekat, keluarga dan kesinambungan. Dari kata ini lahir kata ahlu jannah (anggota keluarga surga) dan ahl al-ma’shiyah (orang yang selalu melakukan maksiat).

Sedangkan kata dzikr (ad-dzikr) memiliki makna usaha menghadirkan kembali ingatan. Seorang yang menghafalkan sebuah pelajaran, maka usaha ini dinamakan hifdz. Sedangkan usahanya untuk mengulang-ulang pelajarannya, baik untuk mencegahnya dari lupa atau usaha mempelajari kembali karena memang sudah lupa, maka usaha ini dinamakan dzikr.

Jadi, Dzikr di sini bukan masalah seseorang pernah belajar atau tidak, namun lebih kepada masih memelihara pelajarannya atau tidak.

Penggabungan (baca: Idhofah) dua kata ini menjadi ahlu dzikr mengisyaratkan orang yang selalu dan dikelilingi oleh kegiatan dzikr, mengingat, baik mengingat dengan bacaan, atau karena sering melakukan, seperti dokter yang selalu melakukan pencabutan gigi, sehingga ilmu mencabut gigi sudah di luar kepala. Inilah yang dimaksud dengan ahlu dzikr.

Seorang pakar bukan seorang yang hanya berusaha memelihara ingatannya sekali, praktek sekali lalu selesai. melainkan ia yang terus menerus tanpa putus berkecimpung dalam suatu bidang hingga ia mahir. Maka dari itu, pengalaman atau “jam terbang” seseorang menjadi pertimbangan apakah orang tersebut pantas diserahkan urusan yang kita tidak ketahui. Itu kenapa dalam salah satu penafsiran, Ahl ad-Dzikr yang dimaksud

Setelah mengetahui siapa yang disebut dengan pakar, Al-Qur’an memerintahkan kita untuk menyerahkan kepada pakarnya hal yang kita tidak ketahui. Apa hal yang kita tidak tahu? Sangat banyak sekali!

Baca Juga :  Hukum Qunut Witir pada Pertengahan Ramadan

Ayat ini juga melarang kita untuk melakukan sesuatu tanpa ilmu. Secara vulgar, jangan mencabut paksa gigi anda dengan tang jepit, jika tak ingin hal buruk lain terjadi. Datang saja kepada dokter gigi, maka ia akan melakukan tugasnya dengan baik dengan penuh ilmu dan pengalaman.

Maka dari itu, serahkanlah urusan kita kepada pakarnya dan yang benar-benar pakar, bukan kepada orang yang tidak jelas riwayat pendidikannya lalu mengaku pakar. Serahkan urusan kesehatan kepada dokter, urusan mesin kepada teknisi, urusan penerbangan kepada pilot.

Hal yang lebih penting, serahkan urusan akhirat (agama) kepada ulama. Tentu saja, kepada ulama yang benar-benar ulama. Apabila perintah Al-Qur’an ini kita tegakkan, maka keteraturan dalam kehidupan duniawi maupun keselamatan ukhrawi dapat digapai. Walllahu ‘alam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here