Fenomena Komersialisasi Umrah di Bulan Ramadhan Menurut Kyai Ali Musthafa Yaqub

0
293

BincangSyariah.Com – Pada bulan Ramadhan jamaah umrah membludak melebihi bulan-bulan lainnya. Menurut Kyai Ali Musthafa Yaqub dalam bukunya Islam di Amerika, fenomena tersebut biasanya karena umat Islam yang sering umrah tergiur dengan iming-iming besarnya pahala umrah pada bulan Ramadhan.

Memang dalam sebuah hadis yang terdapat di kitab Shahih Muslim, jelas Kyai yang semasa hidupnya pernah menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal itu, ada sebuah riwayat yang menceritakan bahwa Nabi menganjurkan seorang sahabat bernama Ummu Sinnan al-Anshari yang punya kemampuan untuk beribadah haji tapi tidak memiliki kesempatan melakukannya, untuk melaksanakan umrah di bulan Ramadhan karena umrah pada bulan yang mulia tersebut pahalanya seperti pahala haji.

Menurut Kyai Ali masalah tersebut adalah sebuah kasus khusus, bukan berarti semua umat Islam yang mampu dianjurkan umrah pada bulan Ramadhan apalagi jika kasus tersebut sampai dikomersialisasikan oleh sejumlah oknum, sedangkan di sekeliling kita banyak saudara sesama muslim yang masih kekurangan dan butuh uluran tangan. Tentu hal itu bertentangan dengan tujuan disyariatkan ibadah puasa Ramadhan.

Nabi sendiri tidak umrah pada bulan tersebut. Meski beliau berkesempatan umrah ratusan kali. Jika memang pahala umrah di bulan tersebut lebih mulia tentu seharusnya dari awal Rasul akan selalu umrah pada bulan tersebut.

Anas bin Malik ra. berkata bahwa Nabi berumrah hanya dua kali yang semuanya pada bulan Dzulqa’dah, lalu sekali berbarengan dengan haji dan sekali yang gagal. Sebagaimana riwayat berikiut ini

عن قتادة: سألت أنسا رضي الله عنى، كم اعتمر النبي صلى الله عليه وسلم؟ قال: أربع، عمرة الحديبية في ذيالقعدى حيث صده مشركون، وعمرة من العام المقبل في ذي القعدة حيث صالحهم، وعمرة الجعرنة إذ قسم غنيمة-أراه- حنين، قلت كم حجّ؟ قال: واحدة

Baca Juga :  Apakah Anak Angkat Berhak Mendapatkan Warisan?

Dari Qatadah, aku bertanya kepada Anas bin Malik r.a; “Berapa kali Nabi SAW. umrah? “empat kali”, yaitu’ pertama; umrah Hudaibiyah (6H) di bulan Dzulqa’dah saat dihalangi kaum musyrik, kedua; umrah yang dilakukan pada tahun berikutnya (7 H) di bulan Dzulqa’dah, ketiga; umrah Ji’ranah di saat pembagian harta rampasan perang (ghanimah) Hunain. Aku bertanya, “Berapa kali Nabi Saw. berhaji? Anas menjawab, “Satu kali.” (HR. Bukhari&Muslim)

Karena sasaran utama ibadah puasa adalah membangun kesalehan sosial, jelas Kyai Ali, karena itulah Nabi Muhammad tidak hanya melakukan ibadah individual saja selama Ramadhan seperti umrah dan lainnya, tapi di bulan mulia tersebut beliau menganjurkan umatnya banyak-banyak berinfaq dan berbuat baik kepada sesamanya.

Seperti anjuran memberi makan orang yang berbuka puasa yang dijanjikan pahala seperti orang yang melakukan puasa itu sendiri. Sedangkan puasa pahalanya khusus dari Allah tentu kemuliannya tidak sebanding dengan pahala haji.

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلُّ الْعَمَلِ كَفَّارَةٌ إِلاَّ الصَّوْمَ وَالصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ

“Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan memiliki tebusan kecuali amalan puasa. Amalan  puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya” (HR. Ahmad)

Bahkan pada bulan ramadhan, Nabi Saw. lebih dermawan dibandingkan pada bulan-bulan lainnya. Karena kedermawanannya tersebut, Sahabat Abdullah bin Abbas ra. Mengibaratkan beliau seperti angin yang kencang.

أن ابن عباس رضي الله عنهما قال كان النبي صلى الله عليه وسلم أجود الناس بالخير وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل وكان جبريل عليه السلام يلقاه كل ليلة في رمضان حتى ينسلخ يعرض عليه النبي صلى الله عليه وسلم القرآن فإذا لقيه جبريل عليه السلام كان أجود بالخير من الريح المرسلة

Artinya; Sesungguhnya Abdullah bin Abbas ra. Berkata, “Nabi Saw. Adalah orang yang paling dermawan dalam melakukan kebajikan, lebih-lebih pada bulan Ramadhan, karena Malaikat Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan sampai Ramadhan habis. Saat Jibril menemui Nabi Saw. Beliau adalah orang yang paling dermawan dalam melakukan kebajikan bagaikan angin yang kencang.” (HR. Bukhari)

Baca Juga :  Adakah Dalil Sahih Tentang Doa Sebelum Azan?

Kyai Ali juga mengingatkan umat Muslim bahwa berpuasa Ramadhan dengan pola hidup konsumerisme tidak akan mengubah perilaku seeorang hamba. Karena itu kendati sering puasa ramadhan tapi tetap saja korupsi, maksiat kemiskinan, dan ketidakadilan tetap saja terjadi. Itulah yang dikhawatirkan oleh Nabi Muhammad Saw. dalam sebuah hadis berikut ini

رب صائم ليس له من صيامه إلا  الجوع والعطش، ورب قائم ليس له من قيامه إلا السهر

Artinya; Banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga. Dan banyak orang yang shalat malam, tapi tidak mendapatkan apa-apa dari shalatnya kecuali tidak tidur saja. (HR. Ahmad & Ibnu Majah)

Apalagi secara kuantitas, ayat Alquran dan Hadis yang memerintahkan kesalehan sosial lebih banyak ketimbang yang memerintahkan kesalehan individual, jelas Kyai Ali. Juga Ramadhan merupakan bulan di mana kita diharapkan mampu memupuk rasa sosial kita dengan memperbanyak ibadah sosial yang telah dicontohkan Nabi Saw.

Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here