Salah Kaprah Felix Siauw Memahami Syariat

8
1994

BincangSyariah.Com – “Kalau tidak senang dengan syariat? Lalu senang dengan apa? Karena cuma ada dua di dalam al-Quran, kalau tidak mau menuruti syariat Allah berarti dia menuruti aturan-aturan selain Allah. Maka kemudian kalau tidak suka dengan Islam yang diterapkan, berarti dia suka dengan kufuran yang diterapkan, sudah itu saja. Tidak ada ruang sisa. Hitam dan putih kalau soalan hukum.”

Paragraf di atas adalah penggalan kalimat Felix Siauw yang diunggah di Youtube nya tertanggal 26 November 2018, dan mengunggah potongannya di Instagram. Sekilas ungkapan Felix begitu tegas dan lugas. Bagi penonton awam yang belum banyak bersentuhan dengan diskursus keislaman yang begitu luas dan rumit, tentu saja apa yang dikatakan saudara kita Felix Siauw akan segera dibenarkan. Akan tetapi, benarkah syariat sebagaimana dijelaskan Felix Siauw sesimpel dan semudah itu? Benarkah orang yang tidak suka penerapan syariat berarti dia kufur?

Kita tahu bahwa dalam sejarah pendirian bangsa Indonesia, para pendiri bangsa yang tergabung dalam PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) bersepakat untuk mengubah Piagam Jakarta yang terdapat tujuh kata mengenai penerapan syariat, menjadi sila pertama Pancasila sebagaimana yang kita kenal sekarang. Jika memakai logika Felix Siauw, maka Soekarno, Mohammad Hatta, Mohammad Yamin,  KH. Wahid Hasyim, H. Agus Salim dan seluruh Muslim yang tergabung dalam PPKI suka menerapkan kekufuran dibandingkan Islam. Beranikah Felix mengatakan Haji Agus Salim atau Kiai Wahid Hasyim misalnya, lebih suka kekufuran dibandingkan Islam? Tentu kita tidak bisa segegabah itu mengatakan mereka tidak suka islam.

Sejarah mencatat bahwa para pendiri bangsa telah sepakat untuk tidak memaksakan syariat Islam sebagai dasar Negara demi mengakomodir kehendak perwakilan Indonesia Timur yang notabene bukan dari kalangan Islam. Mereka lebih menghendaki persatuan dan keutuhan Indonesia daripada bersifat egoistik yang berakibat terpecahnya Indonesia. Soekarno dkk khawatir jika Indonesia bagian Timur tidak masuk dalam wilayah NKRI, maka posisi diplomasi Indonesia akan lemah di mata Dunia. Oleh karenanya, penerapan syariat sebagaimana tertuang dalam Piagam Jakarta dikorbankan demi keutuhan NKRI.

Baca Juga :  Hukum Berdiri untuk Menghormati Seseorang           

Lebih jauh lagi, syariat itu kompleks dan diskursusnya amatlah luas. Kita harus bisa membedakan antara syariat dan fiqih. Syariat adalah wahyu yang terkandung dalam al-Quran dan sunnah, sedangkan fikih merujuk pada hukum yang berkembang dalam berbagai mazhab. Para ulama sangat berhati-hati dalam mengemukakan persoalan hukum ini, sehingga lahir jutaan bahkan puluhan juta karya yang mengulas seputar hukum. Persoalannya, cukupkah kita hanya membaca al-Quran saja dan memahaminya secara tekstual? Tentu saja tidak.

Ambil contoh mudah bagaimana penerapan hukum Islam memerlukan banyak pertimbangan. Siapa yang tidak kenal sayyidina Umar bin Khattab? Beliau adalah salah satu sahabat utama Nabi Muhammad saw. Suatu ketika ada kasus pencurian yang terjadi di Madinah. Beliau tidak serta merta menghukum pelaku dengan potong tangan. Padahal, dalam Q.S 5:38 sudah sangat jelas dan tegas bahwa pelaku pencurian hukumannya dalah potong tangan, dan perlu dicatat pula bahwa teks al-Quran tidak menyebut prasyarat terkait pelaksanaan hukuman. Akan tetapi karena kondisi yang paceklik, hukum tersebut tidak dilakukan.

Dalam kasus pendistribusian zakat kepada para muallaf, pendistribusian rampasan perang, dan kasus pembagian waris, Umar biin Khattab pun seringkali melakukan banyak pertimbangan ketika akan melaksakan hukum tersebut.

Disinilah pentingnya umat Islam Indonesia terus belajar kepada para ulama yang tidak hanya membaca al-Quran secara tekstual saja. Perlu kiranya kita menambah khazanah keilmuan dengan belajar kepada para guru yang secara serius mendalami diskursus Ilmu Tafsir, Ilmu Hadis, Ilmu Fikih, Ilmu Ushul Fikih, yang juga ditunjang dengan Ilmu-Ilmu Sosial sehingga memahami bagaimana perkembangan wacana keilmuan Islam perlu diterapkan dalam beragam konteks.

 

8 KOMENTAR

  1. haddeuuh kirain apa tulisannya….ternyata hanya main2an akal logika saja, segala sejarah dijadikan dalil hukum. Kirain ada sandaran dalil syar’nya 😀

    Sedang ucapan ust felix jelas bertumpuk landasan syar’i nya baik qur’an dan hadits. Kasihan anda……..semoga segera mendapat hidayah

  2. Maaf, kalo menurut saya, Yang salah kaprah itu bukannya ust.felix , tapi antum lah yg merasa kalau logika antum yg paling benar… Saya harap Semoga antum bisa memahami nya.. Wassalam bisawab..

  3. Islam itu mudah yg bikin mumet itu manusianya …klo mau mbedah alqur.an tentang larangan dan yg tak di larang di dalam alqur.an siapkan kertas sepanjang dan seluas dunia….klo kau hanya inginkan surganya allah…cukup kau lakukan apa yg d ajarkan kyaimu tentang apa yg baik dan yg buruk dan cara menghargai sesamamu….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here