Fatwa Ulama Mesir dan Tunisia tentang Hari Valentine

1
1424

BincangSyariah.Com – Perayaan hari Valentine (hari kasih sayang) yang pada mulanya hanya dirayakan oleh orang-orang nonmuslim kini telah juga ikut dirayakan oleh orang-orang Muslim. Fakta ini menjadi sebuah problematika tersendiri bagi para ahli hukum Islam baik yang menyatu dalam sebuah lembaga fatwa atau para pakar hukum yang independen.

Ada yang memandang hari Valentine tidak boleh dirayakan dengan mengacu bahwa dalam sejarahnya perayaan sejenis ini dalam Islam tidak ditemukan asal usulnya. Di samping itu bagi mereka  perayaan ini bagian dari kekhususan orang-orang nonmuslim sehingga umat Islam tidak boleh menyerupainya kalau tidak mau dianggap sebagai bagian dari mereka.

Lembaga Fatwa Mesir dan Tunisia mengatakan sebagaimana dilansir oleh situs www.alwatanvoice.com bahwa hari Valentine sah-sah saja dirayakan oleh umat islam asalkan dengan cara yang baik serta tidak keluar dari koridor Islam. Pasalnya, perayaan yang dilakukan tidak bermaksud meniru orang-orang Kristen dan juga tidak menyangkut ritual mereka. Lebih lanjut, bagi mereka peringatan hari Valentine tidak ubahnya perayaan-perayaan sosial lainnya, seperti hari ibu, hari kemerdekaan, hari buruh dan perayaan-perayaan sosial lainnya.

قال مفتي تونس عثمان بطيّخ في تصريح صحافي إن “عيد الحب ليس حراما وقول المتشددين إنه تقليد للنصارى غير صحيح، لأنه لا يتم اعتناق دينهم أو مباشرة شعائرهم عند الاحتفال بعيد الحب، كما أن كل ما يقرّب الناس ويجمعهم هو أمر جيد ومطلوب”، مشيرا إلى أنه “ليس هنالك أيّ مانع بخصوص الاحتفال بعيد الحب، شرط عدم الخروج عن الأخلاق، فكل ما فيه مصلحة للناس لا إشكال فيه

“Grand Mufti Othman Batikh dari Tunisia berkata: Hari Valentine sah-sah saja dirayakan bukan malah diharamkan. Orang-orang yang mengatakan bahwa hal itu disamakan dengan mengikuti jejak orang-orang Nasrani tidaklah dibenarkan. Karena mereka tidak masuk agama mereka atau mengadakan ritual keagamaan mereka ketika merayakan Hari Valentine.  Jadi tidak ada alasan untuk mencegah serta melarang  perayaan Hari Valentine, asalkan berangkat dari moralitas dan cara yang sesuai dengan islam.”

قال الشيخ أحمد ممدوح، أمين الفتوى بدار الإفتاء المصرية،  :”لا مانع أبدا فى الشرع أن الناس تتفق على أيام معينة يجعلوها خاصة لبعض المناسبات الإجتماعية طالما لا تختلف مع الشريعة، مثل يوم تكريم الأم فلا مانع منه، ولا مانع أن نتخذ يوما من الأيام كى يظهر كل شخص للآخر عن مشاعره نحوه وأنه يحبه

Baca Juga :  Apakah Mayat Bisa Mendengarkan Salam Orang yang Mengunjunginya?

“Sheikh Ahmed Mamdouh, Sekretaris lembaga Fatwa Mesir mengatakan,  bahwa dalam Islam tidak ditemukan nas atau dalil yang melarang menjadikan hari-hari tertentu sebagai hari istimewa dari sebuah peristiwa yang sudah terjadi selama dengan syarat tidak keluar dari batasan-batasan Islam, seperti menjadikan hari tertentu untuk memuliakan ibu. Tidak ada alasan untuk melarangnya dalam rangka menebarkan rasa cinta dan kasih pada sesama.”

Beliau melanjutkan bahwa Nabi Muhammad saw. dalam pidatonya berpesan, barang siapa yang mencintai saudaranya maka katakanlah “saya mencintaimu karena Allah”. Konsep cinta bagi beliau lebih luas dan lebih komprehensif daripada cinta antara pria dan wanita, tetapi merupakan konsep yang lebih umum, antara sesama manusia.

1 KOMENTAR

  1. Berarti perayaannya tergantung caranya. Jika dilakukan dengan cara yang baik maka tentunya sah-sah saja. Tapi jika caranya dilakukan dengan hal2 yang melanggar islam tentunya dilarang dan berdosa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here