Fashion dalam Islam: Identitas Atau Mudarat?

0
36

BincangSyariah.Com – Fashion mempunyai definisi yang berbeda-beda, tergantung siapa yang menjelaskan. Sebenarnya, bagaimana konsepsi fashion dalam Islam, apakah bisa dijadikan sebagai sebuah identitas atau hanya menimbulkan mudarat semata?

Pada prinsipnya, pengertian fashion tetap tidak terpisah dari perubahan selera masyarakat dalam setiap perkembangan zaman. Perubahan-perubahan yang terjadi dipengaruhi oleh perkembangan sosial budaya tertentu dan terjadi dalam rentang waktu tertentu. (Baca: Hukum Memakai Mukena Warna-Warni Atau Bermotif)

Aturan fashion dalam Islam termaktub di dalam nash yang tidak bisa dipisahkan dengan aturan syariat. Perlu dicatat bahwa hampir seluruh syariat yang dibangun di dalam nash mengandung misi politik hukum identitas. Misi tersebut mengarah pada tujuan untuk membentuk bangunan hukum yang terpadu.

Akhirnya, fashion dalam Islam pun memiliki identitas yang kuat. Konsep tersebut memiliki nilai yang tinggi, termasuk membentuk etika hukum dalam berpakaian bukan sekadar menggunakan dan menutup bagian tubuh. Lebih dari itu, Islam telah menanamkan nilai-nilai filosofi yang sangat tinggi yang tercermin dalam konsep fashion.

Perintah menutup aurat adalah salah satu dari sekian banyak penegasan identitas yang ada di dalam nash. Islam merupakan ajaran global yang tidak menampik identitas lokal oleh masing-masing kelompok dalam masyarakat Islam.

Muhammad Habibi dalam Otoritarisme Hukum Islam Kritik atas Hierarki Teks Al-Kutub As-Sittah (2014) menegaskan bahwa Islam ingin membangun identitas yang khas dari umat Islam menjadi semacam brand yang mempunyai ikatan emosional kuat. Ikatan tersebut mesti memengaruhi opini masyarakat agar terpengaruh terhadapnya.

Pada umumnya, persoalan fashion akan mengundang kontroversi di berbagai kalangan, termasuk bagaimana munculnya ragam fashion yang beraneka macam. Hal tersebut bukan satu masalah, tapi memiliki konsekuensi sendiri saat akan ditampilkan dan digunakan oleh kalangan perempuan yang berani mendobrak nilai-nilai dalam berpakaian yang sudah ada.

Baca Juga :  Hukum Menyandarkan Kata Abdun (Hamba) Kepada Selain Allah

Menurut Dr. Muhammad Baltajiy, peristiwa Adam dan Hawa yang memakan buah khuldi terkait dengan pengetahuan keduanya tentang memaknai aurat dan perhatian keduanya (laki-laki juga, bukan hanya perempuan) untuk menutupnya.

Hukuman yang diturunkan oleh Allah Swt. kepada Adam dan Hawa atas kedurkahaan tersebut pada dasarnya sebenarnya mengajarkan kepada manusia betapa besar dan berartinya makna pakaian.

Hal tersebut dipahami dari firman Allah Swt. dalam Q.S. al-A’raf (7): 26 sebagai berikut:

يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَٰرِى سَوْءَٰتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ ٱلتَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

banī ādama qad anzalnā ‘alaikum libāsay yuwārī sau`ātikum warīsyā, wa libāsut-taqwā żālika khaīr, żālika min āyātillāhi la’allahum yażżakkarụn

Artinya: “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”

Setelah memakan buah kuldi, tiba-tiba aurat Adam dan Hawa tersingkap. Setelah menyadari kejadian tersebut, keduanya pun segera menutup aurat dengan dedaunan dari pohon. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa menutup aurat adalah fitrah yang diciptakan Allah Swt. dalam diri manusia, termasuk terhadap orang terdekat.

Hal tersebut disebabkan karena Adam dan Hawa adalah pasangan yang diciptakan oleh Allah Swt. untuk melakukan regenerasi. Tapi, keduanya segera menutup aurat dan tidak ingin membukanya satu sama lain.

Tindakan memperlihatkan bagian-bagian tubuh yang tidak semestinya dipandang oleh semua orang adalah tindakan yang menyalahi fitrah manusia yang diberikan oleh Allah Swt. Menyalahi kodrat dan fitrah tersebut berarti menyalahi ketentuan Tuhan yang telah ditetapkan olehNya.

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Bisakah Orang Kaya Itu Zuhud?

Maka, fashion dalam Islam sangat bisa dimaknai sebagai identitas, bukan malah menjadi mudarat. Sebab sebenarnya, dengan menutup aurat, seorang Muslim sebenarnya sedang menyatakan bahwa dirinya beridentitas, yakni beragama Islam. Hal ini berlaku tidak hanya bagi perempuan, tapi juga bagi laki-laki.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here