Fakhruddin ar-Razy dan Kitab al-Mabahits al-Masyriqiyyah: Hakikat Wujud, Antara Pluralisme dan Monisme

0
797

BincangSyariah.Com –  Bagaimana ar-Razy memasukkan materi-materi ilmu kalam dalam ilmu filsafat (al-ilahiyyat)? Itulah pertanyaan yang akan kita jawab dalam tulisan kali ini. Kita coba tilik lebih jauh bagaimana ilmu kalam diposisikan dalam filsafat ketuhanan ala Ibnu Sina dalam kitab al-Mabahits al-Masyriqiyyah. Ar-Razy membagi kitab al-Mabahits al-Masyriqiyyah menjadi tiga bagian;

Pertama, ar-Razy membahas tentang konsep-konsep umum dalam ontologi (al-umur al-ammah); kedua, di bagian ini ar-Razy mengulas cabang-cabang kenyataan yang mungkin (al-mumkinat); dan ketiga, ar-Razy mengulas mengenai teologi atau al-ilahiyyat. Kita akan coba bahas satu-satu persatu sesuai dengan urutan yang ada dalam kitab al-Mabahits al-Masyriqiyyah.

Namun dalam tulisan kali ini, kita hanya akan mengulas bahasan pertama dari kitab ini, yakni pembahasan tentang konsep-konsep umum. Ar-Razy mengemukakan beberapa persoalan yang masuk ke dalam kategori yang sering diistilahkan Ibnu Sina sebagai al-ilm al-kulli (filsafat pertama menurut Aristoteles kecuali masalah al-ilahiyyat).

Secara sederhananya, di bagian ini, ar-Razy sebenarnya sedang mengulas masalah-masalah yang berkaitan dengan ontologi. Persoalan-persoalan yang dikemukakan oleh ar-Razy di sini di antaranya ialah pertanyaan apa itu wujud. Ar-Razy menghabiskan sepuluh bab untuk menjawab pertanyaan ini. Sepuluh bab ini berisi ulasan tentang serba serbi hakikat wujud. Di bagian pertama ini, dibahas pula esensi yang dalam bahasa Arabnya sering dikenal dengan sebutan al-mahiyyah. Ulasan tentang al-mahiyyah atau esensi oleh ar-Razy ini menghabiskan dua puluh bahasan yang sangat rinci.

Selain itu, dalam bagian pertama ini, dibahas pula makna pluralitas dan singularitas (al-wahdah wal katsroh) yang tercakup dalam dua puluh bahasan. Ulasan ini mencoba menilik tentang keberapaan dasar yang melandasi wujud. Tentu di kalangan filosof Yunani, sudah kita kenal akrab apa itu paham pluralisme dan paham monisme dalam ontologi.

Baca Juga :  Ini Lima Janji Allah untuk Orang Bertakwa

Dua bahasan ini mempertanyakan apakah dasar wujud alam ini terdiri dari satu entitas atau banyak. Para pemikir yang meyakini pluralitas elemen bagi wujud semesta ini disebut sebagai penganut paham pluralism sedangkan para pemikir yang berpandangan bahwa unsur pembentuk semesta ini hanya terdiri dari satu entitas disebut sebagai penganut paham monisme.

Ulasan ontologis selanjutnya yang tak kalah pentingnya dari kitab al-Mabahits al-Masyriqiyyah ialah konsep mengenai kepastian wujud, kemustahilan wujud dan kemungkinan wujud (al-wujub, il-imtina dan al-imkan). Konsep al-wujub (kepastian wujud), al-imtina (kemustahilan wujud) dan al-imkan (kemungkinan wujud) ini diulas oleh ar-Razy dalam dua belas bab. Ulasannya cukup sistematis dan sangat runut.

Lebih dari itu, ar-Razy juga membahas soal permanensi dan temporaritas (al-qidam wal huduth). Ulasan tentang dua persoalan ini dihabiskan dalam lima bab pembahasan. Jadi secara keseluruhan, kita dapat melihat bahwa pada bagian awal ini, ar-Razy menyajikan konsep-konsep yang dikenal di dunia ontologi dalam kitab al-Mabahits al-Masyriqiyyah.

Namun demikian, meski bahasan kitab pertama ini ialah bahasan salah satu cabang filsafat yang bernama ontologi, yakni soal apa itu ada, ada dua konsep menarik yang diadaptasikan dari ilmu kalam, yakni, pertama, ulasan tentang konsep permanensi atau al-qidam dan kedua, ulasan konsep temporaritas atau al-huduth. Meski hanya dua konsep ini saja yang merupakan bahasan ilmu kalam dalam bagian pertama kitab al-Mabahits ini, ilmu kalam masih tetap hadir di sela-sela ulasan mengenai konsep-konsep filsafat. Jadi ketika membahas bahasan filsafat ini, ar-Razy memasukkan konsep-konsep ilmu kalam.

Ulasannya ini ada yang berbentuk analisis dan ada pula yang berbentuk kritikan sehingga bisa dikatakan bahwa pembahasan ilmu kalam di bagian pertama ini seolah ditujukan untuk mengkonteksualisasi dan mengadaptasikan ilmu kalam sendiri dalam ilmu filsafat, atau lebih tepatnya konteksualisasi bahasan-bahasan ilmu kalam dalam filsafat ketuhanan yang dirumuskan Ibnu Sina dalam kitab al-Ilahiyyat, satu bagian dari kitab as-Syifa yang terkenal itu.

Baca Juga :  Bagaimana Hukumnya Mencari Hari Baik untuk Pernikahan?

Kita akan lanjutkan pada tulisan berikutnya kandungan kedua kitab ini, yakni tentang bagian-bagian wujud yang mungkin ada (aqsam al-mumkinat).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here