Evie Effendi Dikritik karena Banyak Kekeliruan dalam Ajarkan Al-Qur’an

0
1733

BincangSyariah.Com – Sosok Ustadz Evie Effendi termasuk dai yang seringkali mengundang kontroversi yang cukup tajam di kalangan netizen media sosial. Pada tahun 2018, ia pernah menyampaikan pandangan mengenai Nabi Muhammad itu sesat dengan merujuk surah al-Dhuha. Namun ia tidak menyebutkan sumber referensi tafsir atau kitab apapun yang jadi landasannya. (Baca: Menelaah Tafsir Keliru tentang Kesesatan Nabi Muhammad)

Tahun 2020 ini, ceramahnya kembali menjadi sorotan banyak kalangan Muslim, khususnya masyarakat Muslim yang kerap merawat tradisi baik di Indonesia. Ceramahnya yang menjadi sorotan itu mengenai pendapatnya yang menyatakan bahwa ibadah pada malam Nisfu Sya’ban itu tidak ada dalilnya yang bersumber langsung dari Rasulullah. Sontak ceramahnya pun menuai banyak kritikan, di antaranya disampaikan oleh Ustadz Ahong dari Bincang Syariah (Baca: Evie Effendi: Ibadah Malam Nisfu Sya’ban itu Tidak Ada Dalilnya, Benarkah?)

Tidak lama kritikan mengenai Nisfu Sya’ban yang disampaikan Ustadz Evie Effendi, kini beredar sebuah video berdurasi sekitar 3 menit. Terdapat banyak catatan terkait bacaan Al-Qur’an Ustadz Evie Effendi yang banyak kekeliruan, tapi ia sudah berani menyampaikannya ke masyarakat banyak.

 

 

Syekh Muhammad ibnu al-Jazari dalam matn al-Jazariyyah berpendapat:

 والأخذ بالتجويد حتم لازم    من لم يجود القرآن آثم

Memakai tajwid itu wajib hukumnya # siapa yang tidak bertajwid dalam (membaca) Al-Qur’an itu dosa.

Sejalan dengan pendapat di atas, Imam al-Ghazali menyatakan pendapat serupa dalam Ihya ‘Ulumuddin sebagaimana berikut:

والذي يُكثر اللحن في القرآن إن كان قادراً على التعلم فليمتنع من القراءة قبل التعلم فإنه عاص به، وإن كان لا يطاوعه اللسان فإن كان أكثر ما يقرؤه لحنا فليتركه وليجتهد في تعلم الفاتحة وتصحيحها، وإن كان الأكثر صحيحاً وليس يقدر على التسوية فلا بأس له أن يقرأ، ولكن ينبغي أن يخفض به الصوت حتى لا يسمع غيره، ولمنعه سراً منه أيضاً وجه، ولكن إذا كان ذلك منتهى قدرته وكان له أنس بالقراءة وحرص عليها فلست أرى به بأساً

Baca Juga :  Binatang-binatang dalam Al-Qur'an (Bagian II)

Artinya:

Seseorang yang sering keliru dalam (membaca) Al-Qur’an itu bila dia masih mampu belajar, maka tidak boleh membaca Al-Qur’an sebelum ia belajar, karena ia termasuk yang berdosa. Jika memang fungsi lisannya sudah tidak mampu (membaca dengan baik), jika memang kekeliruannya banyak, maka tidak usah membaca, dan (utamakan) belajar dan memperbaiki al-Fatihah dengan sungguh-sungguh. Tapi jika lebih banyak bacaan yang benar, dan ia belum mampu menyamai (bacaan sesuai tajwid), maka ia boleh membacanya, akan tetapi seyogianya ia memelankan bacaan sampai orang lain tidak mendengar. Bahkan terdapat pendapat yang melarangnya untuk membaca secara pelan sekalipun. Tapi jika memang itulah kemampuan maksimalnya, dan dia ingin sekali membaca Al-Qur’an, maka itu tidak apa-apa menurutku.

Dari pemaparan Imam al-Ghazali ini, ada beberapa poin yang dapat kita catat. Pertama, belajar tajwid dengan baik, apalagi bagi yang masih muda, itu wajib hukumnya. Seseorang tidak boleh membaca Al-Qur’an apabila ia tidak mau belajar ilmu tajwid. Bila sudah belajar sungguh-sungguh, namun sudah tidak mampu sefasih orang Arab, maka itu tidak masalah. Kedua, Imam al-Ghazali mewanti-wanti bagi yang belum bisa baca Al-Qur’an dengan baik itu untuk membacanya secara keras-keras, karena dikhawatirkan banyak kekeliruan membaca. Bila membaca secara keras untuk diri sendiri saja tidak boleh, apalagi mengajarkan ke orang lain bukan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here