Terkait WNI di Wuhan China, Ini Perselisihan Ulama Fikih tentang Evakuasi Korban Wabah Penyakit

4
2224

BincangSyariah.Com – Dalam sebulan terakhir dunia dihebohkan dengan berita epidemi corona. Virus corona itu muncul pertama kali di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Per-30 januari 2020 dikabarkan bahwa korban wabah corona telah melampaui korban wabah SARS tahun 2003. Demi meminimalisasi penyebaran virus, pemerintah China menutup akses beberapa kota yang terdampak corona. Penutupan itu membuat sekitar 27 juta orang terisolasi. Termasuk warga negara asing yang ada di kota-kota besar itu.

Berbagai negara mencoba mengevakuasi warga mereka, termasuk Indonesia. Indonesia akhirnya sukses memulangkan 245 warganya pada sabtu, 1/2/2020. Namun yang menarik, kalau dikaji dari sudut pandang fikih islam, khususnya mazhab Syafii, rupanya mayoritas ulama Syafiiyyah mengharam tindakan evakuasi warga dari daerah wabah. Hal itu bisa dilihat dalam bab janaiz, kitab Hasyiatul bujairomi ‘ala al’manhaj, (vol. 1, h. 487), kitab hasyita al-qolyubi wa ‘umairoh (vol. 1, h. 396), dan kitab tuhfatul muhtaj fi syarh al-minhaj (vol. 3, h. 166).

Hukum haram itu dilandaskan pada hadis yang diriwayatkan saat tragedi wabah pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Wabah itu menelan banyak korban jiwa termasuk beberapa sahabat Nabi seperti Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Mu’adz bin Jabal, Yazid bin Abi Sufyan dan lainnya. Kisah wabah ini begitu masyhur, direkam dalam banyak buku sejarah. Bahkan penggalan ceritanya diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim. (Baca: Ramai Virus Corona, Ini Doa Agar Terhindar dari Penyakit Menular)

Pada tahun 17 H. Sekitar 640 M. -sebagaimana dituturkan oleh At-Thabari dalam tarikhnya, vol. 4, h. 56-, Umar bin Khattab berangkat untuk menginvasi wilayah Syam. Ia membawa serta pasukan amat besar meliputi sahabat Muhajirin dan Anshor. Sesampainya di Saragh, sebuah kota di perbatasan Hijaz dan Syam, Umar mendapat laporan bahwa Syam terserang epidemi ‘Amawas.

Baca Juga :  Jaga Kesehatan dan Kebersihan; Dua Kunci Ajaran Islam Menangkal Covid-19

Ibnu Katsir menyebutkan nama wabah ini, ‘Amawas, dinisbatkan pada nama sebuah desa di Palestina, antara Ramla dan Baitul Maqdis. Sebab wabah tersebut pertama kali muncul di sana dan kemudian menyebar ke seantero Syam.

Umar memanggil para pembesar Muhajirin dan Anshar. Ia ingin berembuk mengenai langkah yang harus ditempuh pasukan Muslim, antara melanjutkan perjalan atau kembali ke Madinah. Meskipun para sahabat berbeda pendapat, Umar akhirnya memutuskan bahwa semua pasukan harus mundur. Umar memerintahkan Ibnu Abbas untuk mengumumkan hal itu.

Mendengar maklumat itu Abu Ubaidah bin Jarrah memperotes Umar, “Apakah kita mau lari dari Takdir Allah?!” Umar kesal dengan protes itu, ia menjawab “Iya, kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain!” Hal ini sebab Umar meyakini segala yang terjadi di dunia tidak lepas takdir dan ketentuan Allah.

Keputusan Umar rupanya sudah tepat, pasalnya Abdurrahman bin ‘Auf setelah itu datang kepada Umar meriwayatkan sebuah hadis

«إذا سمعتم به بأرض فلا تقدموا عليه، وإذا وقع بأرض وأنتم بها فلا تخرجوا فرارا منه»

“Jika kalian mendegar kabar (epidemi/wabah) melanda seatu daerah, maka jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada di dalam daerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya.” (HR. Bukhari, vol. 7, h. 130. HR. Muslim, vol. 4, h. 1740)

Dalam memahami hadis ini, mayoritas pakar fikih mazhab berpendapat bahwa larangan masuk dan keluar dari daerah wabah merupakan larangan yang diharamkan (an-nahyu li at-tahrim).

Mereka beralasan bahwa masuk pada wilayah wabah merupakan tindakan mencelakakan diri. Adapun keluar dari daerah wabah selain berpotensi menyebarkan wabah juga merupakan ketidak percayaan terhadap takdir Tuhan.

Baca Juga :  Palestina - Israel Bekerjasama Lawan Corona

Maka kalau merujuk pada pendapat mayoritas, tidak boleh hukumnya bagi pemerintah Indonesia mengevakuasi WNI dari Wuhan demi menghindari wabah Corona yang melanda kawasan itu.

Sejatinya, pemahaman mayoritas Syafi’iyah tersebut masih diperselisihkan. Sebab Umar sendiri setelah kembali ke Madinah, -berdasar penuturan Ibnu Katsir dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah, vol. 7, h. 90- mendengar kabar bahwa Abu Ubaidah terjangkit wabah ‘Amawas.

Umar pun bersurat kepada Abu Ubaidah agar ia keluar dari Syam. Tapi Abu Ubaidah menolak. Ini menunjukkan bahwa Umar tidak memahami larangan itu sebagai keharaman. Tentu kalau melihat langkah Umar ini tindakan pemerintah memulangkan WNI dari Wuhan bisa mendapat sandaran kebolehannya.

Dan ternyata ada ulama Syafi’iyah menganut pendapat Umar, seperti pendapat Ar-Ruyani dalam kitab Bahrul Mazhab (vol. 2, h. 605). Menurut beliau larangan dalam redaksi hadis itu hanya makruh. Dan jika ditimbang dari maslahah-nya maka pendapat kedua ini bisa diunggulkan dan diaplikasikan dalam satu kasus evakuasi Wuhan.

Mengenai penyakit menular, memang ada beberapa hadis yang secara zahir kontradiktif. Di satu sisi, terdapat hadis-hadis yang melarang untuk berinteraksi dengan orang berpenyakit menular, seperti hadis yang memerintahkan “larilah dari orang berpenyakit kusta sebagaimana engkau lari dari Singa!”.

Juga hadis yang melarang mencampurkan hewan yang sakit dengan hewan yang sehat. Dan termasuk larangan masuk dan keluar dari daerah yang terdampak epidemi. Namun dalam sabda yang lain, Rasulullah menafikan adanya penularan penyakit, la ‘adwa wa la thairata.

Para ulama kemudian mempertemukan pemahaman kedua hadis itu. Mereka mengatakan hadis yang menjelaskan tentang penolakan adanya penyakit menular bermaksud untuk meluruskan keyakinan Jahiliyah. Orang-orang Jahiliyah meyakini bahwa penyakit-penyakit itu menular dengan sendirinya, tanpu campur tangan Tuhan.

Baca Juga :  Hukum Membuat Alas Khusus untuk Shalat

Oleh karena itu, dalam kelanjutan hadis, saat seseorang menginterupsi, “Wahai Rasulullah, mengapa sekelompok unta sehat kemudian berbaur dengan unta kudisan lantas terkena kudis juga?” Rasul menjawab, kalau memang penyakit itu murni hasil penularan, maka siapa yang menularkan penyakit pada unta yang pertama?!

Dalam hal ini, konteks yang dijelaskan Rasulullah adalah ranah akidah, bahwa semua penyakit pasti atas seizin Allah, dan penularannya semata atas kehendak Allah.

Sedangkan konteks hadis yang kedua berkaitan dengan hukum sebab akibat. Dalam menyikapi hukum sunnatullah itu Rasulullah memerintahkan umatnya untuk menghindari sebab-sebab penularan penyakit namun dengan tetap meyakini bahwa perpindahan penyakit itu atas kehendak Allah.

Kalau Allah tidak mengizinkan penyakit itu tidak akan menular. Hal ini diperkuat oleh tindakan Rasulullah sendiri yang kadang makan bersama orang yang terjangkit kusta.

4 KOMENTAR

  1. […] Ibnu Abbas berkata; Umar berkata: “Panggil para Muhajirin senior menghadapkku! Kemudian datanglah Abdurrahman bin Auf radhiallahu’anhu. Beliau waktu itu tidak hadir karena  suatu keperluan, kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya ada hal yang pernah aku ketahui berkaitan dengan masalah ini. Aku  pernah mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Jika kalian mendengarnya (wabah penyakit) di suatu tempat, maka kalian jangan mendekat kepadanya. Kalau telah terjadi (wabah penyakit) di suatu daerah dan kalian berada di dalamnya, maka jangan kalian keluar lari darinya.” (HR. Bukhari – Muslim) (Baca: Terkait WNI di Wuhan China, Ini Perselisihan Ulama Fikih tentang Evakuasi Korban Wabah Penyakit) […]

  2. […] BincangSyariah.Com – Bepergian keluar dari suatu kawasan yang telah diketahui sedang dilanda suatu wabah penyakit adalah sesuatu yang perlu dikaji dan diperhatikan dalam kaca mata Islam. Hal ini tidak lain disebabkan adanya larangan dari Rasulullah Saw untuk berpergian dari dan menuju tempat di mana sedang merebaknya wabah penyakit, di mana pada masa Rasulullah Saw contoh kasusnya adalah wabah penyakit kulit atau disebut tho’un. (Baca: Terkait WNI di Wuhan China, Ini Perselisihan Ulama Fikih tentang Evakuasi Korban Wabah Penyakit) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here