Etos Kerja dalam Perspektif Islam

0
896

BincangSyariah.Com – Membahas etos kerja dalam Islam berarti menggunakan dasar pemikiran Islam sebagai sistem keimanan yang mempunyai pandangan positif tentang etos kerja. Etos kerja yang kuat membutuhkan kesadaran pada orang bersangkutan tentang kaitan suatu kerja dengan pandangan hidupnya yang lebih menyeluruh. Pandangan hidup yang ada akan memberi keinsafan akan makna dan tujuan hidupnya. (Baca: Mendiskusikan Hadis tentang Etos Kerja, I’mal Lidunyaaka)

Orang akan kesulitan melakukan suatu pekerjaan dengan tekun apabila pekerjaan itu tidak bermakna baginya. Orang juga akan kesulitan bekerja apabila pekerjaan tersebut tidak bersangkutan dengan tujuan hidupnya yang lebih tinggi, baik secara langsung atau tidak langsung. (Baca: Allah Tidak Butuh Disembah Manusia, Manusia yang Membutuhkan Allah)

Nurcholish Madjid, cendekiawan Muslim Indonesia menyatakan bahwa etos kerja dalam Islam adalah hasil suatu kepercayaan seorang Muslim bahwa kerja yang dilakukannya di dunia mempunyai kaitan dengan tujuan hidupnya yakni untuk memeroleh ridho dari Allah Swt.

Pada dasarnya, Islam adalah agama amal atau kerja. Inti ajaran Islam ialah bahwa hamba mendekati dan berusaha memperoleh ridha Allah Swt. melalui kerja. Bisa juga dengan amal saleh, dan dengan memurnikan sikap penyembahan hanya kepada-Nya.

Dalam buku Etos Kerja Pribadi Muslim (1991), Toto Tasmara menyatakan bahwa “bekerja” bagi seorang Muslim adalah suatu upaya yang sungguh-sungguh, dengan mengerahkan seluruh asset, pikir dan zikirnya untuk mengaktualisasikan atau menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah Swt.

Hamba Allah Swt, yang bagaimana? Menurut Toto, hamba Allah Swt. yang dimaksudkan di sini adalah hamba Allah Swt. yang harus menundukkan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik (khaira ummah), atau bisa disederhanakan dalam kalimat “bekerjanya manusia itu adalah untuk memanusiakan dirinya sendiri”.

Baca Juga :  Mendiskusikan Hadis tentang Etos Kerja, I’mal Lidunyaaka

Toto mengartikan etos kerja dalam Islam bagi kaum Muslim sebagai cara pandang yang diyakini seorang Muslim bahwa bekerja itu bukan saja untuk memuliakan dirinya, menampakkan kemanusiaannya, tapi juga sebagai suatu manifestasi dari amal shaleh sehingga pekerjaan yang dilakukan mempunyai nilai ibadah yang sangat luhur.

Senada dengan Toto, Rahmawati Caco merincikan bahwa bagi orang yang ber-etos kerja Islami, etos kerjanya akan terpancar dari sistem keimanan atau aqidah islami dengan kerja yang berangkat dari ajaran wahyu bekerja sama dengan akal.

Sistem keimanan yang dimaksudkan identik dengan sikap hidup mendasar atau bisa disebut sebagai aqidah kerja. Keimanan tersebut menjadi sumber motivasi dan sumber nilai bagi terbentuknya etos kerja Islami. Etos kerja Islami di sini bisa digali dan dirumuskan berdasarkan konsep iman dan amal shaleh.

Maka, bisa disimpulkan bahwa tanpa landasan iman dan amal shaleh, etos kerja apa pun tidak bisa menjadi islami. Tidak ada amal saleh tanpa iman dan iman hanya akan menjadi sesuatu yang mandul bila tidak melahirkan amal shaleh.

Keduanya mengisyaratkan bahwa iman dan amal shaleh adalah sebuah rangkaian yang terkait erat, bahkan tidak terpisahkan. Keduanya mesti berjalan beriringan agar bisa menghasilkan etos kerja Islami yang kuat.

Sampai di sini kita bisa menyimpulkan bahwa etos kerja dalam Islam sangat berkaitan erat dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang “kerja”. Kerja dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sudah semestinya menjadi sumber inspirasi dan motivasi oleh setiap Muslim untuk melakukan aktivitas kerja di berbagai bidang kehidupan.

Cara seseorang memahami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai al-Qur’an dan As-Sunnah tentang dorongan untuk bekerja tersebutlah yang akan membentuk etos kerja Islam.[]

Baca Juga :  Apakah Mualaf Wajib Mengqadha’ Ibadah Terdahulu?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here