Etika Mengantar Jenazah dan Menunggu di Pemakaman

0
2248

BincangSyariah.Com – Mengantar jenazah adalah momentum yang sangat tepat untuk mengingat mati. Dengan mengantar jenazah, kita bisa berpikir bahwa suatu saat giliran kita yang akan diantarkan oleh keluarga dan tetangga. Anjuran ini bukanlah tanpa makna di baliknya. Rasulullah Saw. menganjurkan umatnya untuk merawat jenazah salah satu tujuannya adalah agar yang masih hidup dapat mengambil ibroh dari yang sudah meninggal. Kita memang diperintah untuk memperbanyak mengingat kematian. Rasulullah Saw. bersabda:

اكثروا ذكر هذم اللذات

Aktsiru dzikro hadzimil ladzdzat.

Perbanyaklah mengingat hal yang dapat memutus kenikmatan (HR. Tirmidzi)

Menurut Imam Nawawi, yang dimaksud alladzdzat adalah kematian.

Mengantar jenazah, baik dengan mobil ambulance atau dengan keranda, jangan sampai diselingi dengan hal yang berbau dunia. Lebih-lebih hal-hal yang kotor dan tidak terpuji. Mengiringi jenazah harus dengan hati berdzikir dan tafakkur. Berdzikir dangan kalimat thoyyibah. Perbanyak membaca tahli di sepanjang perjalanan menuju pemakaman. Tafakkur, bahwa hari itu kita masih bisa bernafas. Esok atau lusa pasti akan menyusul ke terminal akhirat, kuburan.

Tukang kali kubur dan orang-orang yang membantu di pemakaman seharusnya lebih tersentuh dengan adanya kematian tersebut. Mereka yang ikut menggali kubur dan mereka yang melihat langsung proses itu adalah orang-orang yang seharusnya semakin bergetar hatinya melihat sahabat atau saudaranya akan ditimbun dengan tanah. Semasa hidupnya gonta-ganti pakaian dan kendaraan, sesudah mati hanya kain kafan dan “kereta kencana“. Tidak perlu menangis histeris, setidaknya hati meringis memikirkan nasib sendiri ketika sudah ajal tiba.

Sangat tidak etis ketika mereka yang menunggu di kuburan bercanda secara berlebihan sebagaimana banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat. Bahkan ada yang “buang angin” sembarangan. Tidak jarang juga yang membicarakan persoalan “ranjang”. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa, padahal suasana sedang berkabung. “Besok giliran fulan, dia kan sudah sakit-sakitan”, candaan sebagian mereka tanpa merasa bersalah pada keluarga yang bersangkutan.

Baca Juga :  Agama dan Negara dalam Kacamata Mahfud MD

Tidak salah memang saat badan dan pikiran capek dibawa bercanda, tapi tidak dapat dibenarkan juga ketika suasana berkabung malah bercanda secara berlebihan. Kita tidak boleh terlalu larut dalam duka, tapi jangan sampai melupakan duka tersebut. Keluarga orang yang meninggal sedang bersedih, eh yang melayatnya malah seenaknya sendiri.

Di rumah duka jarang ditemukan candaan yang berlebihan atau pembicaraan yang unfaidah. Tapi selama di perjalanan mengantar jenazah,  atau di tempat penguburan, tidak jarang yang melakukan itu semua. Orang yang ikut mengantar jenazah atau yang menunggu di penguburan sebaiknya diam saja apabila enggan berdzikir. Tidak perlu berbicara hal-hal yang tidak berfaedah.

Dalam kitab Al-Adzkar hal. 145, Imam Nawawi berkata,

وليحذر كل الحذر من الحديث بما لا فائدة فيه فان هذا وقت فكر وذكر يقبح فيه الغفلة وا للهو والاشتغال بالحديث الفارغ فان الكلام بما لا فائدة فيه منهي عنه في جميع الاحوال فكيف في هذا الحال

Sungguh takutlah kamu dari berbicara sesuatu yang tidak berfaidah (saat mengantarkan jenazah atau menunggu di pemakaman). Karena waktu tersebut adalah waktu tafakur (memikirkan nasib diri setelah mati) dan dzikir (lebih mendekatkan diri kepada Allah). Sangat tidak etis apabila diisi dengan kelalaian, main-main, dan omong kosong. Karena sesungguhnya berbicara yang tidak berfaedah dilarang dalam segala hal. Maka, bagaimana ketika dalam kondisi seperti ini (mengantar jenazah atau menungguinya di pemakaman)?

Jadi, lebih baik diam sambil tafakkur daripada dzikir tapi sambil ketawa-ketawa. Tapi paling baiknya dzikir sambil tafakkur. Karena ketika mengusung jenazah, ikut mengantarkan, dan menunggu di pemakaman adalah momentum tepat untuk mengingat kematian. Allah Ta’ala A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here