Etika dan Profesionalitas Kerja dalam Al-Qur’an

1
1215

BincangSyariah.Com – Dalam diskursus mengenai etika, al-Jabiri dalam karyanya, al-Aql al-Akhlaqi al-Arabi dengan sangat menarik memetakan etika kebudayaan Arab-Islam ke dalam lima warisan besar pemikiran: pertama, etika ketundukan dan ketaatan yang merupakan warisan dari kebudayaan Persia. Kitab Uyun al-Akhbar karya Ibnu Qutaibah, al-Iqdul Farid karya Ibnu Abdi Rabbih, Subhul A’sya karya al-Qalqasyandi masuk ke dalam kategori ini.

Kedua, etika kebahagiaan warisan dari kebudayaan Yunani. Kitab Tahdzib al-Akhlak karya Ibnu Miskawaih, kitab Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali dan kitab Tahsil as-Sa’adah karya al-Farabi masuk ke dalam kategori kebudayaan Yunani ini; ketiga, etika fana warisan pemikiran kaum sufi yang berlatar belakang campuran kebatinan ajaran agama-agama. Kitab Lata’if al-Isyarat dan ar-Risalah karya al-Qusyairi beserta kitab al-Futuhat al-Makkiyyah dan Fusush al-Hikam karya Ibnu Arabi masuk ke dalam kategori ini;

Keempat, etika kewibawaan (as-su’dad) yang merupakan warisan pemikiran dari kebudayaan Arab murni. Untuk menemukan inti dari etika ini, al-Jabiri membasiskan diri pada syair-syair Arab era Jahiliyyah.

Kelima, warisan etika kemaslahatan dari Al-Qur’an dan Hadis. Kitab Qawaid al-Ahkam fi Masalih al-Anam dan kitab Syajarat al-Ma’arif karya Izzuddin bin Abdus Salam masuk ke dalam kategori etika yang pure islami ini.

Al-Jabiri mengulas kelima etika yang merupakan warisan besar bagi kebudayaan Islam dari kebudayaan-kebudayaan luar berbasis pada urutan kronologis  kemunculannya. Anehnya, warisan etika yang muncul paling awal justru bukan sesuatu yang sangat Islami, malah sangat Persia. Warisan etika yang benar-benar Islami malah muncul belakangan. Izzuddin bin Abdus Salam yang merupakan representasi dari pemikir etika warisan pure Islam ini lahir di abad keenam.

Baiklah saya kira untuk membahas kelima etika ini memerlukan banyak tulisan. Karena itu, pada tulisan ini, kita akan fokus pada etika yang sangat Islami, yang diwakili Izzuddin bin Abdus Salam. Al-Jabiri melalui pembacaannya terhadap Al-Qur’an-hadis dan karya-karya Izzuddin bin Abdus Salam sampai pada kesimpulan bahwa etika inti yang melandasi keseluruhan etika dalam Islam ialah etika amal saleh dan etika kemaslahatan. Secara lebih ringkasnya, etika Al-Qur’an ialah etika berbasis pada usaha memperoleh kemaslahatan dan menghindari kerusakan (jalbul masalih wa dar’ul mafasid).

Dalam Al-Qur’an, keimanan yang berbentuk keyakinan harus dimanifestasikan ke dalam praktek nyata, yakni amal saleh. Apa itu amal saleh? Saleh dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab, salaha-yasluhu-sulhan-maslahatan-solih. Kata salih berarti sesuatu yang cocok, sesuai, pas, atau kalau dalam bahasa populernya, ngetrep. Jadi amal salih itu ialah amalan yang cocok, yang sesuai, yang pas dan ngetrep. Biasanya dalam Al-Qur’an kata salih ini berbentuk indefinite tanpa alif lam (salih bukan as-salih) yang menunjukkan amal salih secara umum dan berbentuk jamak muannats salim definit misalnya as-salihat. Dengan bentuk jamak ini, sesuatu amalan disebut saleh jika dilakukan secara terus menerus dan berulang sehingga menjadi kebiasaan, dan dari situ menjadi watak.

Karena arti salih meliputi sesuatu yang ngepas, sesuai, cocok dan ngetrep tadi, tentunya amalan disebut saleh jika mengandung semua makna ini. Amal saleh dengan dengan makna seperti ini sangatlah subjektif dan relatif. Artinya kesalehan itu ditentukan maknanya tergantung kepada semua kondisi subjektif dan objektif seseorang beserta konteks ruang dan waktunya.

Maksudnya begini. Tiap orang memiliki posisi dan fungsi kehidupan yang berbeda-beda dan karena itu, makna kesalehan itu, ditentukan tergantung kepada posisi dan fungsi berbeda tiap orang dalam kehidupan sosialnya. Misalnya, kita dalam kehidupan ini, memiliki posisi dan fungsi sebagai mahasiswa. Nah, amalan kita disebut amal saleh sejauh bagaimana kita bisa mengarahkan perilaku kita untuk memenuhi apa yang dituntut dari posisi, fungsi dan tugas seorang mahasiwa: menuntut ilmu. Inilah amalan utama yang ganjarannya paling besar bagi seorang mahasiswa dibanding amalan-amalan lainnya seperti salat malam, salat sunnah dan seterusnya. (Baca: Doa Agar Bisa Dekat dan Dicintai Orang-orang Saleh)

Jadi mahasiswa disebut sebagai saleh sejauh mana dia berperan dan berkecimpung dalam aktifitas pembelajaran, penelitian dan permenungan. Kalau seseorang mahasiswa malah melenceng dari tugas, fungsi dan posisinya, itu namanya dia bukan orang saleh. Ketika menjadi mahasiswa, seseorang malah sibuk berzikir dan melakukan amalan-amalan sunnah lainnya dan mengesampingkan amalan membaca buku, menghadiri majelis keilmuan di kampus dan seterusnya, maka ia telah mengamalkan amalan yang utama dengan meninggalkan amalan yang lebih utama: menuntut ilmu. Si mahasiswa tadi bukanlah mahasiswa yang saleh karena dia tidak tahu prioritas.

Seorang dosen akan disebut saleh sejauh ia berperan dan berkecimpung dalam aktivitas yang menunjang profesionalitas kedosenannya: yakni, melaksanakan thridhrama perguruan tinggi seperti mengajar, mendidik, meneliti, menulis jurnal dan mengabdi kepada masyarakat. Inilah amalan dosen yang paling utama daripada amalan-amalan lainnya. Jika perilaku dosen di dunia akademik sesuai, pas, ngetrep dengan tuntutan profesionalismenya sebagai dosen, ia telah mengamalkan amalan saleh, dan jika terus berulang-ulang dilakukan, si dosen layak disebut sebagai orang saleh. Inilah akhlak Al-Qur’an yang intinya berpusat pada usaha memperoleh kemaslahatan dan menghindari kerusakan (jalbul masalih wa dar’ul mafasid).

Dengan pertimbangan seperti ini, saya tegaskan lagi bahwa kesalehan itu tergantung kepada fungsi dan posisi kita di dunia social yang sekaligus juga tergantung kepada konteks ruang dan waktu yang kita alami. Terkait makna saleh yang subjektif dan relatif ini, kita mungkin bisa eksplore lebih jauh. Amalan ibadah apa yang paling utama di masa pandemic ini? Jelas, ibadah di rumah, menghindari kerumunan orang banyak, selalu membersihkan diri baik jasmani maupun rohani. inilah amalan yang paling utama di era pandemi.

Semua ini adalah amalan saleh karena bentuknya yang pas, ngetrep dan sesuai dengan tuntutan di masa pandemic ini, yakni jangan biarkan kita dan orang lain tertular oleh virus. Kalau kita kekeuh untuk beribadah secara berjamaah, menghadiri majelis ilmu yang melibatkan kerumunan orang, bersalaman dan seterusnya yang semuanya itu ialah ibadah yang utama di masa normal, namun kita paksakan di era pandemic ini, ini namanya bukan amalan saleh. Namanya amalan rusak dan merusakkan. Amalan menyebar penyakit,

Simpulnya, kesalehan dalam Al-Qur’an itu tidak melulu ditampilkan dengan shalat sunnah, shalat berjamaah, zikir dan seterusnya. Kesalehan dalam Al-Qur’an itu terejawantahkan ke dalam kesesuaian perilaku kita dengan tuntutan kondisi, fungsi, posisi serta konteks ruang dan waktu yang ada pada diri kita dan sekeliling kita. Tak hanya itu, semua amalan saleh itu harus dilakukan dengan sebaik mungkin. Amalan yang dilakukan dengan cara-cara terbaik dalam Al-Qur’an dan hadis disebut sebagai ihsan. Wallahu a’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here