Etika Berdebat dalam Islam

1
947

BincangSyariah.Com – Sebuah pengambilan keputusan dalam suatu kelompok atau organisasi, tidak bisa jika hanya menggunakan kerangka pikir seorang saja. Seluruh elemen kelompok berhak memberikan sumbangsih pikiran yang ada di dalam kepala mereka. Pemikiran-pemikiran dalam setiap kepala itu, akhirnya harus dipertemukan dalam ruang diskusi, baik dalam bentuk rapat, atau bentuk yang lain.

Dalam suatu diskusi, pertemuan berbagai pemikiran, pasti terdapat berbagai perbedaan pendapat yang akan menimbulkan perdebatan. Perdebatan, jika tak disikapi dengan baik tidak akan mempermudah memperoleh tujuan awal berdiskusi, yaitu pengambilan sebuah keputusan. Bahkan, bisa jadi menimbulkan perselisihan antar anggota kelompok

Lantas, bagaimana sebenarnya etika berdebat dalam Islam?

Menilik kitab kitab Adab Al-Ikhtilaf Fil Islam karangan Thaha Jabir Fayyad Al Alwani, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika sedang berdebat.

Pertama, memulai dengan husnuzhan (prasangka baik) terhadap sesama muslim. Prasangka ini sangat penting. Karena, jika sejak awal sudah tidak percaya dengan gagasan yang disampaikan orang lain, seterusnya kita akan selalu menolak apa yang ia katakana bahkan jika itu benar sekalipun.

Kedua, menghargai pendapat orang lain sejauh pendapat tersebut mempunyai dalil, dalil di sini dapat berupa sumber yang kuat. Dengan menghargai argumen orang lain, orang lain akan mengharigai apa yang kita katakana.

Ketiga, tidak memaksakan kehendak bahwa pendapatnya yang paling benar. Karena, pendapat lain juga mempunyai kemungkinan benar yang seimbang. Memaksakan pendapat sendiri hanya akan menyebabkan kita buta akan kebenaran yang sesungguhnya.

Keempat, Lapang dada menerima kritik yang sampai kepada anda untuk membetulkan kesalahan. Jadikan ini nasehat yang dihadiahkan oleh saudara seiman Anda. Hal ini sangat berkaitan dengan poin-poin sebelumnya. Ketika sejak awal telah mengedepankan ego dan kehendak pribadi, kita akan kesulitan dalam menerima kritikan dari orang lain

Baca Juga :  Khutbah Jumat; Bahaya Suuzon di Tahun Politik

Kelima, hendaklah memilih ucapan yang terbaik dan terbagus dalam berdiskusi dengan sesama saudara muslim. Dalam surat Luqman ayat 19 disebutkan, ketika berbicara hendaknya kita melunakkan suara kita. Suara yang keras, atau kita biasa sebut ngegas, hanya akan membuat emosi seseorang meningkat. Akibatnya, akan mudah menyulut kemarahan.

Keenam, tidak berkata kasar dan mencaci. Hal tersebut dikarenakan hati manusia bersifat lunak. Sedikit saja dikasari, pasti akan terasa sakit. Jika sudah sakit hati, semuanya tidak akan berjalan lancar. Setiap pendapat akan diajukan dengan kemarahan sebab sakit hati tersebut. Tidak heran jika keduanya selalu menciptakan pertiaian dan permusuhan

Ketujuh, mengusung semangat untuk menemukan yang lebih baik atau lebih benar, bukan mengalahkan atau menjatuhkan. Ketika seseorang telah berani menjatuhkan pendapat orang lain, yang lain akan turut berusaha menjatuhkan yang lainnya. Kemudian, tujuan awal diskusi tidak tercapai karena pada akhirnya semua hanya saling menyalahkan.

Terakhir, akhiri dengan Komitmen untuk menjalankan kebenaran yang ditemukan bersama. Lalu, jika tidak dicapai kesepakatan akan kebenaran, hendaklah saling memaklumi dan menghargai. Meyakini kelemahan dan keterbatasan diri dengan berprinsip Wallahu A’lam bis Sawab.

Dengan memperhatikan hal-hal di atas, diskusi yang kita lakukan akan lebih efektif dan tidak menimbulkan perdebatan-perdebatan yang sia-sia. Perbedaan argumen akan menjadi warna yang menarik. Argument-argumen itu justru akan menambah opsi dan dapat membuka pandangan setisp individu. Pada akhirnya, keputusan dan kesepakatan akan kita peroleh dengan hasil terbaik.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here