Etika Bercanda dalam Islam

0
362

BincangSyariah.Com – Bercanda adalah salah satu bumbu dalam menikmati hidup. Bercanda bisa menjadi obat kegelisahan atau kesedihan seseorang. Yang demikian jika bercanda tersebut disajikan dengan porsi yang pas. Karenanya diperlukan porsi yang cukup dan kondisi yang pas. Jika bercanda  tidak dikemas dengan baik dan menabrak norma-norma agama, bisa jadi akan memunculkan bibit permusuhan, sakit hati, dan trauma berkepanjangan.

Bercanda hukumnya boleh, asalkan tidak keluar dari batasan-batasan syar’i. Islam memperbolehkan segala sesuatu yang tidak merugikan, atau bahkan memberikan manfaat kepada sesama, misalnya bercanda. Tentunya Islam tidak membatasi gerak-gerik umatnya selama tidak melukai ajaran Islam sendiri. Begitupun dengan bercanda, bebas berseni macam apa saja asal tidak melukai syari’at yang ada. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah bersabda:

خالط الناس ودينك لا تكلمنه

Bergaullah kamu dengan manusia (namun) agamamu jangan kamu lukai

Bercanda dengan tidak melanggar ajaran agama termasuk salah satu etika dalam bercanda. Termasuk di dalamnya bercanda dengan ayat-ayat Allah, bercanda dengan berdusta, bercanda dengan menghina orang lain, atau jenis bercanda yang bisa merugikan orang lain. Satu yang penting untuk diketahui, bahwa bercanda dengan harapan menimbulkan tawa namun dusta itu tidak diperbolehkan. Kalaupun berniat untuk menghibur atau menciptakan suasana ramai, tetaplah dengan kabar atau data yang valid. Apabila seorang bercanda dengan kedustaan, ia telah keluar dari batasan mubah (boleh) kepada keharaman. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah orang yang bercerita lalu berdusta untuk membuat tawa manusia, celakalah ia, celakalah ia.”

Jangan mencubit, jika tidak ingin dicubit. Begitulah banyak orang berkata tentang sebab akibat dalam kehidupan. Rasanya itu juga berlaku dalam rumusan bercanda. Dimana jika seseorang tak ingin mendapatkan keburukan, maka janganlah berbuat keburukan tersebut kepada orang lain. Seseorang tidak iseng (dalam artian bercanda) dengan hal-hal yang mengakibatkan sesuatu yang tak diinginkan. Perlakukan dengan baik, sebagaimana kita ingin diperlakukan baik oleh orang lain. Dalam hadis disebutkan:

Baca Juga :  Moment Saat Nabi Bercanda dengan Istri-istrinya

فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنْ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

Maka siapa yang ingin untuk diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam jannah maka hendaknya kematian menjemputnya dalam keadaan ia beriman kepada Allah dan hari akhir. Hendaknya pula ia memperlakukan orang lain sebagaimana ia suka untuk diperlakukan.

 



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here