Esensi Takbiran di Malam Lebaran

0
758

BincangSyariah.Com – Lebaran telah tiba dan Ramadhan pun meninggalkan kita. Barangkali sebagian kita agak kecewa karena lebaran tahun ini mesti dilalui dalam segala keterbatasan karena pandemi Corona. Gema takbir yang biasanya meramaikan aneka tempat kini harus menepi. Seakan takbir lebaran tak lagi bertaji.

Tidak. Takbir tetap menggema tanpa harus menggunakan pengeras suara. Karena esensi takbir ada di hati yang tak terkontaminasi oleh merebaknya pandemi. Allah swt menyeru kita untuk bertakbir mengagungkan-Nya setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa. Allah swt berfirman,

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangan puasa dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Selama bulan Ramadhan, umat Islam diwajibkan melaksanakan puasa sebagaimana tersebut dalam QS. al-Baqarah: 183. Ketika Allah swt memerintahkan hal tersebut, tentu Dia sangat tahu bahwa hamba-Nya mampu menunaikannya. Memang, kepayahan (masyaqqah) akan dirasakan oleh siapapun yang menahan makan dan minum selama seharian. Hanya saja, kepayahan itu masih dalam batas mampu untuk dibebankan dan tidak akan menimbulkan ke-madharat-an. Sehingga ketika ia diperintahkan untuk menahan lapar serta dahaga dan pada saat yang sama Allah swt memberikan kemampuan untuk melaksanakannya selama sebulan penuh, maka tiada hal yang pantas untuk diungkapkan kecuali rasa syukur kepada-Nya seraya bertakbir mengagungkan Dzat-Nya.

Di sinilah esensi takbiran mesti kita pahami. Bahwa Allah Maha Besar, karena Dia telah memberi kemampuan kepada kita untuk menahan makan dan minum yang dilarang selama puasa. Maha suci Allah yang telah “memberi” bahkan hingga saat kita “dilarang”. Ketika di hari-hari biasa kita sibuk mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan perut siang dan malam, ternyata Allah swt memberi lebih dari hal itu pada bulan Ramadhan. Kita tidak perlu memenuhi kebutuhan perut di siang hari dan pada saat yang sama Allah swt memberi kemampuan dalam melaksanakannya. Di situlah letak manisnya taklif (pembebanan).

Baca Juga :  Peran Akun Media Sosial dan Rekening dalam Fikih Muamalah

Manakala hal itu kita sadari dan renungi dengan baik, maka kita akan merasakan betapa Agungnya Allah dengan segala nikmat-Nya. Ia lah Dzat Yang Maha Besar di semesta raya ini. Tiada Tuhan selain-Nya. Ikrar ini harus selalu diresapi dan dihidupi oleh setiap Muslim, agar ia selalu mengerti posisi dan keberadaannya sebagai seorang hamba. Ketika seseorang benar-benar berikrar atas kebesaran Allah, maka ia akan menyadari bahwa seluruh makhluk, termasuk dirinya, adalah kecil dan lemah.

Itulah esensi takbir. Gemanya terletak pada hati seorang Muslim ketika ia menyadari kelemahannya dan mengakui keagungan-Nya. Takbir dapat menggema dalam hati dalam keadaan apapun. Sebaliknya, gegap gempita takbir akan kehilangan nyawanya jika hanya di mulut saja dan atau melalui pengeras suara.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah Yang Maha Besar, yang telah memberi nikmat kemampuan untuk melaksanaan segala amal baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here