Enam Syarat Haji dan Umrah

2
4226

BincangSyariah.Com – Allah Swt di dalam Alquran Surah Ali Imran ayat 97. “Dan (diantara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.” Dan Nabi Saw. pernah bersabda: “Islam dibangun atas lima hal: Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji ke baitullah dan berpuasa Ramadan” (HR. Albukhari dan Muslim).

Berdasarkan kedua dalil tersebut, maka umat Islam selain memiliki kewajiban untuk salat, puasa dan zakat, mereka juga wajib menunaikan ibadah haji jika mampu. Lalu apakah syarat diwajibkannya haji hanya mampu saja?

Di dalam kitab Alfiqh Al Manhaji Ala Madzhab Al Imam Al Syafii disebutkan ada enam syarat yang harus dipenuhi umat Islam yang telah wajib menunaikan ibadah haji dan umrah.

Pertama; Islam. Maka, bagi non muslim tidak diwajibkan menunaikan ibadah haji. Karena haji dan umrah merupakan ibadah yang tidak dituntut untuk dilakukan bagi selain orang muslim. Jika non muslim melaksanakan haji dan umrah, maka hukumnya tidak sah, karena syarat sahnya ibadah itu harus Islam.

Kedua. Berakal. Maka orang gila, tidak wajib melaksanakan ibadah haji dan umrah, karena ia tidak mampu membedakan antara perintah dan larangan. Selain itu, jika Allah swt. telah mengambil apa yang telah ia beri (akal), maka gugurlah apa yang ia wajibkan (syariat Islam). Dan pembebanan untuk melaksanakan syariat itu tidak sempurna kecuali dengan akal.

Ketiga. Balig. Maka, haji dan umrah itu tidak wajib bagi umat Islam yang belum balig, karena ia belum mukallaf, dimana pembebanan syariat itu ketika telah balig. Sebagaimana sabda Nabi Saw.

Baca Juga :  Keutamaan Mengajarkan Adab pada Anak

رفع القلم عن ثلاث : عن الصبي حتى يبلغ، وعن النائم حتى يستيقظ، وعن المجنون حتى يبرأ ” . رواه ابن حبان والحاكم وصححاه .

Pena itu telah diangkat dari tiga hal. Dari anak kecil sampai balig, orang tidur sampai bangun dan dari orang gila sampai sembuh.” (HR. Ibnu Hibban dan Al Hakim, mereka menilai sahih hadis ini).

Keempat; merdeka. Maka, haji dan umrah itu tidak wajib bagi seorang budak karena ia tidak memiliki harta, bahkan hartanya semua adalah hak milik tuannya.

Kelima. Amannya jalan. Jika umat muslim itu takut akan keamanan dirinya atau hartanya dari musuh, atau di perjalanan itu rawan terjadinya peperangan misalnya, maka ia tidak wajib melaksanakan haji dan umrah karena adanya bahaya/darurat. Allah swt. berfirman:

{ وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ } .

Dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri. (Al Baqarah/2; 195)

Keenam. Mampu. Karena Allah swt berfirman:

(وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً).

“Dan (diantara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.”(Q.S: Ali Imran/3: 97)

Selain itu, Ibnu Umar ra. meriwayatkan hadis bahwa ada seorang laki-laki datang menemui Nabi Saw., lalu bertanya:

: يا رسول الله ما يوجب الحج ، قال : “الزاد والراحلة ” رواه الترمذي

Ya Rasulallah, hal apa yang menjadikan wajibnya haji?. Nabi Saw, menjawab: “Adanya bekal dan transportasi.” (HR. Al Tirmidzi). Oleh karena itu hadis yang dinilai hasan ini menafsiri ayat sebelumnya dimana yang dimaksud mampu adalah adanya materi yang cukup dan tersedianya alat transportasi.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here