Enam Potret Penguasa yang Adil

3
797

BincangSyariah.Com – Rasulullah Saw. di dalam salah satu sabdanya pernah mengatakan bahwa ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah Swt. di akhirat kelak di mana pada hari itu tidak ada perlindungan lainnya, kecuali perlindungan Allah Swt. (baca di sini).

Salah satu tujuh golongan tersebut adalah imam yang adil. Imam dalam istilah agama sering disebut juga dengan amir, hakim, wali, sultan, dan lain-lain. Sedangkan dalam bahasa kita, hal itu lazim disebut dengan penguasa, pemimpin, kepala negara, raja atau presiden. Oleh karena itu, perlu kiranya mengetahui enam tanda atau kriteria penguasa yang adil sebagaimana yang telah dijelaskan oleh KH. Ali Mustafa Ya’qub berikut.

  1. Menerapkan Hukum Allah

Sebagai kriteria pertama, penguasa yang adil adalah menerapkan hukum Allah, baik yang terdapat dalam Alquran maupun hadits. Kriteria ini berdasarkan firman Allah swt. dalam surah Al-Maidah 49, yang artinya “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.”

  1. Berpihak kepada Kaum Lemah

Kriteria berikutnya, penguasa dapat disebut adil apabila ia selalu berpihak dan membela kaum yang lemah. Kriteria ini diambil dari perilaku Nabi Muhammad saw. yang pernah dikritik oleh Allah swt. karena hendak memihak kaum elit dan mengusir orang-orang kelas bawah.

Allah swt. menurunkan ayat 52 surah Al-An’am, yang artinya “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang selalu menyembah Tuhannya pagi dan sore, sedangkan mereka menghendaki keridhaanNya.”

Dalam surah Al-Kahf, ayat 28, Nabi saw. juga diwanti-wanti oleh Allah agar selalu sabar dalam berpihak kepada rakyat kecil. Dan begitulah sikap imam yang adil sebagaimana dicontohkan Nabi saw.

  1. Zuhud dalam Masalah Dunia
Baca Juga :  Kumpulan Doa-doa Para Nabi di Dalam Al-Qur'an (I)

Salah satu sikap zuhud yang dicontohkan Nabi saw. adalah sebuah kisah ketika beliau berjalan-jalan dengan seorang sahabat bernama Abu Dzar. Seperti dituturkan dalam kitab Shahih Al-Bukhari, ketika Nabi saw. melihat gunung Uhud, beliau berkata kepada Abu Dzar, “ Seandainya Gunung Uhud itu dijadikan emas untukku, maka aku tidak akan menyimpan satu dinar pun sampai tiga hari, kecuali apabila aku punya hutang, maka aku akan menyimpan satu dinar itu untuk membayar hutang. Banyak orang yang banyak hartanya tetapi sedikit pahalanya, kecuali orang yang berinfak di jalan Allah. Dan yang terakhir ini jumlahnya sangat sedikit sekali.

  1. Pelayan Rakyat

Kriteria selanjutnya adalah menjadi pelayan masyarakat atau mendahulukan rakyat. Sikap mendahulukan kepentingan rakyat ini pernah dicontohkan oleh Nabi saw. ketika beliau dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah. Pada waktu itu, beliau singgah di warung milik Ummu Ma’bad, beliau bermaksud membeli makanan dan minuman, tetapi sayang barang itu sedang tidak ada.

Nabi saw. akhirnya minta izin kepada Ummu Ma’bad untuk memerah susu kambing yang diikat di pinggir rumahnya. “Kambing itu kurus kering, tidak ada susunya,” begitu kata Ummu Ma’bad. “Tetapi silahkan saja bila Anda mau mencobanya.” Nabi saw. langsung memegang kambing itu seraya berdoa agar kambing itu diberkahi susunya. Dan susu kambing itu memancar deras. Maka Nabi saw. lalu menyuruh Abu Bakar dan orang-orang yang mendampingi Nabi saw. dari Makkah untuk meminum susu itu. Begitu pula Ummu Ma’bad dipersilahkan untuk minum susu. Sesudah itu barulah Nabi saw. minum. Kemudian Nabi saw. berkata, “Orang yang memberi minum suatu kaum itu, ia minum paling akhir.”

  1. Demi Kepentingan Umat
Baca Juga :  Salah Kaprah Felix Siauw Memahami Syariat

Di samping tidak mendahulukan kepentingan sendiri, segala kebijakan penguasa yang adil haruslah demi kepentingan atau kemaslahatan umat.

Nabi saw. pernah mengkritik Mu’ad bin Jabal karena ia menjadi imam dalam shalat Isya’ dengan membaca surah Al-Baqarah. Padahal di antara jamaahnya ada yang bekerja keras pada siang hari sehingga ia tidak tahan berdiri lama-lama. Nabi saw. kemudian berkata kepada Mu’ad bin Jabal, “Apabila kamu shalat menjadi imam, percepatlah shalatmu itu, karena di belakangmu ada yang sudah tua, ada yang sakit, dan ada yang punya keperluan lain. Dan apabila kamu shalat sendirian, maka silahkan kamu shalat berpanjang-panjang.”

Apabila dalam shalat saja imam harus memperhatikan keadaan jamaahnya, maka di luar shalat tentu harus lebih memperhatikan. Oleh karena itu, para ulama fiqih membuat kaidah “Tasharruful imam bir ra’iyah manutun bil mashlahah” (kebijakan penguasa kepada rakyat harus berdasarkan pertimbangan kemaslahatan mereka).

  1. Langka dan Istimewa

Penguasa yang adil itu termasuk makhluk yang langka. Hal ini disebabkan karena yang banyak terjadi justru sebaliknya. Yaitu penguasa yang tidak adil, alias dzalim. Penguasa yang dzalim adalah penguasa yang memiliki kriteria yang berlawanan dari lima kriteria di atas, yaitu penguasa yang tidak menerapkan hukum Allah, tidak berpihak kepada rakyat kecil, hidup bermewah-mewahan (tidak zuhud), selalu ingin dilayani rakyatnya, dan kebijakan-kebijakannya merugikan rakyat. Karenanya, wajar saja apabila di akhirat kelak, tepatnya pada hari Kiamat, penguasa yang adil itu akan diistimewakan oleh Allah swt. bersama enam jenis manusia langka lainnya.

Demikianlah enam potret penguasa yang adil. Adapun point yang pertama, pendapat KH. Ali Mustafa Ya’qub tersebut bukan berarti menunjukkan beliau pro ditegakkannya khilafah. Bahkan beliau tidak setuju khilafah karena beliau di dalam suatu forum pernah mengutip pendapat syekh Abdurrahman pengarang Bughyatul Mustarsyidin bahwa Indonesia sudah dikategorikan darul islam, karena dihuni oleh mayoritas umat Islam. Jika melihat peraturan perundang-undangan pun sudah sesuai dengan ajaran Islam, dan umat Islam juga bisa beribadah secara leluasa dan bebas di bumi pertiwi ini. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

Baca Juga :  Pernikahan dan Malam Pertama Shafiyyah binti Huyay dengan Rasulullah Saw.

3 KOMENTAR

  1. […] Terlepas apakah itu bagian dari strategi politik ataukah tidak, yang pasti pada dasarnya hal itu menunjukkan kualitas pemimpin yang sangat tawadhu’ dan tidak memandang rendah rakyatnya. Hal ini sangat ampuh meluluhkan hati rakyat tentu saja, dan akan sangat sulit jika sikap ini tidak dibiasakan sehingga terkesan dibuat-buat dan memunculkan penciteraan semata. (Enamp Potret Penguasa yang Adil) […]

  2. Mohon maaf saya agak kurang paham. Terkait poin pertama, menerapkan hukum Allah. Apa berarti pemimpin saat ini tidak termasuk kriteria tersebut karena tidak ada yang menerapkan hukum Allah? Kemudian bersambung pada paragraf terakhir, apakah perundangan yang sesuai dengan Islam sudah cukup meski hukum Allah tidak sempurna ditegakkan?

  3. Aamiin
    Penguasa Adil Keluar Lah
    Para Ulama, Kiyai, Ustadz Dan Anggota DPR Berbicara Lah
    Rakyat Berdoalah Dalam Hati
    Aamiin Yaa Robbal Aalamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here