Enam Pesan Gus Mus yang Menyejukkan Mengenai Pembakaran Bendera

1
447

BincangSyariah.Com – Terkait isu sensitif mengenai pembakaran bendera hitam, sejumlah tokoh agama yang diundang dalam acara Mata Najwa kemarin (21/10/18) mengingatkan agar umat Islam tidak terprovokasi, mengingat adanya potensi politisasi dalam isu tersebut.

Keadaan yang menyulut beberapa kelompok ini cukup mengkhawatirkan para ulama dan pemuka agama Islam. Salah satunya pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin di Rembang, Jawa Tengah, K.H. Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus, juga ikut bicara yang disampaikan langsung dari kediamaannya lewat teleconference. Berikut beberapa pesan yang beliau sampaikan.

Pertama, jangan berlarut-larut membicarakan isu sensitif tersebut. Menurut Gus Mus, sebaiknya  pembicaraan itu dihentikan dan tidak lagi dibahas. Apalagi menilai bahwa yang melakukan pembakaran  sudah menyadari kesalahannya dan minta maaf, dan juga penegak hukum sudah bergerak dan melakukan apa yang jadi tugasnya.

Kedua, kembali kepada tauhid. Daripada larut dalam isu tersebut, mari meresapi kembali makna tauhid. Tauhid berarti mengajak manusia mengesakan Allah. Untuk itu umat Islam sudah memiliki pedoman yaitu Alquran dan Hadis. Maka mari kembali meresapi ayat-ayat suci Allah dan mengikuti sunnah RasulNya.

Ketiga, saling memaafkan. Ulama yang telah melahirkan banyak karya puisi bernuansa religi itu mengajak semua umat, agar bisa saling memaafkan. Sebagai umat mayoritas di Indonesia, beliau berharap umat Islam bisa menjadi pelopor kedamaian. Menjadikan Indonesia tempat ibadah yang mengkhusyukkan, tempat bersilaturrahmi yang mendamaikan.

Dengan mengikuti jejak Nabi Muhammad, utusan Allah yang menyukai kasih sayang daripada kebencian, yang menyukai silaturahmi daripada perpecahan. Rasulullah bersabda,

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

Artinya; Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Dalam kalimat innama bu’isttu Nabi menggunakan bentuk kalimat penegasan yang artinya bahwa Rasulullah hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak dengan penuh kasih sayang bukan untuk memerangi yang tidak sepaham.

Baca Juga :  Memperlakukan Anak Menurut Alquran

Keempat, bersikap adil dan jangan berlebih-lebihan. Sebagaimana dalam surat Al-Maidah ayat 8, Allah memang menyuruh untuk menegakkan kebenaran, tapi hanya untuk Allah bukan kepentingan golongan atau segelintir orang. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Maidah; 8)

Kelima. Mari tinggalkan kebencian apapun alasannya. Dalam ayat di atas, Gus Mus menggaris-bawahi kalimat walayajrimannakum yang disampaikan menggunakan bentuk tauqid (penegasan). Dalam ayat ini seolah Allah ingin menegaskan bahwa jangan sampai, karena kebencian terhadap kelompok lain membuat kita bersikap tidak adil.

Masih tentang ayat tadi, menurut para ahli tafsir yang dimaksud kaum dalam ayat ini adalah orang-orang kafir. Kalau kepada orang kafir saja harus bersikap adil apalagi kepada sesama orang islam. Karena itu, apapun kebencian yang ditimbulkan, jangan sampai mendorong kita untuk tidak berbuat adil.

Keenam, mari bergegas mendapatkan maghfirah (ampunan) Allah Swt. yang luasnya selangit dan sebumi yang diperuntukkan untuk orang-orang bertakwa. Siapa orang yang bertakwa itu?

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Q.S. Ali Imran; 134).

Baca Juga :  Mencari Simpati Kiai Jelang Pemilu

Jadilah orang yang bertakwa yang dengan segala kebesarannya mau meminta maaf dan mau memberikan maaf. Semoga Allah membuka hati kita semua, umat Muslim di Indonesia, agar menjadi umat yang bisa menahan amarah dan nafsunya sehingga mudah memaafkan sesama.

 

1 KOMENTAR

  1. Gmn pendapat kalian soal zakat padi yg serba biaaya besar dr tandur lektor bahkan pupuk serta obat yg serba mahal .brp persenkah jakat padi trsebut? Sdh jls lah klu tanpa biaya biduni sukya /tanpa ongkos siram tentu zakatnya 10 persen. Sekrang yg serba biaya seperti yg sy sbutkan td btp persenkah zakatny?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here